Penjual Lelong Lakukan Perlawanan

Penjual Lelong Lakukan Perlawanan

  Senin, 21 March 2016 09:44
TERANCAM TUTUP: Ada wacana penjualan pakaian bekas “eks impor” yang lebih akrab dengan sebutan “lelong” bakal ditutup. Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pontianak Haryadi, kepada Pontianak Post, Minggu (20/3). MUJADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Sejumlah penjual lelong online menolak keras keputusan pemerintah melalui SK Menteri Perdagangan terkait pelarangan pakaian bekas. Zihan Pradowo, salah satu penjual lelong online melalui akun “zeepsecondbrand” di instagram yang menolak kebijakna pemerintah tersebut. Dia yang sudah merasakan keuntungan dari lelong mengatakan kebijakan itu akan memberatkan penjual lelong.

Peminat lelong yang sangat banyak, menurut dia, menjadi ladang usaha bagi pengusaha dan penjual lelong. “Kasihan penjual kecil yang baru saja membuka toko untuk menjual lelong,” ujarnya kepada Pontianak Post. Arifian, salah satu penjual lelong online melalui akun “a_flavour_blend” di instagram, juga menolak kebijakan pemerintah jika menutup lelong dan menghubung-hubungkannya dengan MEA. Pelarangan ini diakui dia pernah menjadi topik panas bagi penjual online di Facebook tahun kemarin.

Walaupun tujuan utamanya MEA, pemerintah semestinya tidak harus segopoh itu membuat kebijakan. Menurut dia, pakaian bekas tidak ada masalah. Ia mengerti tujuan pemerintah agar produk dalam negeri bisa diserap pasar dalam negeri tapi kalau dilihat hubungannya sama MEA harusnya bukan ditutup tapi diperketat, misalnya lewat regulasi ijin impor.

Ia menambahkan, kalau pelarangan ini didasarkan pada kandungan bakteri dan kuman di pakaian bekas pun hingga saat ini belum ada faktanya lelong menyebabkan gangguan kesehatan. “Pakaian baru juga belum tentu aman,” ujarnya terkekeh. 

Pada proses pembuatannya, pakaian baru banyak diberikan zat kimia dan bisa menyebabkan alergi tapi kasusnya sedikit. Sama halnya dengan lelong, sedikit sekali kasus soal lelong menyebabkan kesehatan konsumen terganggu.

Penutupan lelong dianggap akan menimbulkan dampak yang sangat besar. Terutama bagi mereka yang terjun ke usaha lelong. CHW, salah satu penjual lelong online yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, pelarangan ini bukannya membawa angin segar tapi malah berdampak pada bertambahnya pengangguran di Pontianak.

Jika lelong dihapuskan, menurut dia, akan meruugikan penjual. Dari kaki lima sampai penjualan online. Diharapkannya pemerintah dapat memberikan solusi lain, jangan sampai merugikan rakyat.  Lain lagi dengan penjual online dengan akun “kangconverse” di instagram. Dia mengharapkan kebijakan yang dilayangkan pemerintah tersebut memiliki dampak yang lebih baik lagi, seperti peningkatan mutu produk lokal. 

Iia mengharapkan pemerintah memiliki solusi lain. Pedagang yang tadinya berjualan lelong akan mendapatkan lapangan pekerjaan. “Sebab banyak yang bergantung pada laan kerja ini. Pemasok, pedagang dan tangan kedua,” pungkasnya. 

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian, Perdaganagan, Koperasi dan UKM Kota Pontianak, Haryadi menegaskan akan menutup usaha penjualan pakaian bekas (lelong). Hal itu sesuai surat keputusan Menteri Perdagangan yang terbit tahun 2015 lalu. Hasil tes laboratorium juga memperjelas bahwa pakaian impor bekas itu mengandung jamur dan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit.

“Sesuai SK Menteri Perdagangan, di mana barang impor termasuk pakaian bekas dilarang di perjual belikan. Berdasar hasil lab, pakaian lelong mengandung jamur dan bakteri ini membahayakan konsumen,” ungkapnya kepada Pontianak Post, Minggu kemarin.

Dalam waktu dekat ini, Haryadi akan memberi surat edaran ke camat dan lurah setempat agar menyampaiakan surat edaran ini kepada pengusaha baju bekas. Dia juga mengimbau ke masyarakat untuk menjadi pembeli cerdas. Jangan melihat harga murah lalu tergiur. Mestinya memasuki MEA, masyarakat harus menggunakan produk dalam negeri. Selain penjual lelong, pihaknya akan sampaikan informasi ini kepada masyarakat. 

Mantan Kasat Pol PP ini rupanya tidak main-main. Dia mengancam izin usaha pakaian bekas itu akan di tutup. Saat ini pihaknya tengah gencar mengeluarkan izin usaha mikro kecil. Kalau untuk pengusaha lelong, izin tidak akan diberikan. “Bukan tidak mungkin akan kita tutup usahanya,” tegasnya.

Nanti pihaknya akan lakukan penertiban. Untuk waktunya masih dirahasiakan. Ini mesti disampaikan dan aturan ini mesti dilakukan. “Kalau kita tidak menyampaikan imbauan ini sama saja kami tidak menjalankan tugas. Disperindag tugasnya melakukan pembinaan. Kalau masalah pro kontra ke depan pasti ada,” pungkasnya.

Ditambahkan, dengan adanya larangan itu, ia meminta pedagang sebaiknya berjualan sesuai dengan izin mereka yaitu berjualan pakaian baru. Ia yakin semua ini bisa dilakukan. Hal ini hanya soal pembiasaan. Apabila penerapan dapat dilakukan dengan tegas, ia rasa keberadaan pakaian bekas ke depan akan berkurang, bahkan hilang. 

Selain itu lanjutnya, koordinasi bersama pihak terkait tentang peredaran pakaian bekas dirasa perlu. Pakaian impor ini tentu datangnya dari mana, sampai segala kepengurusannya turut melibatkan pihak terkait. Jika semua dilakukan bersama, ia rasa SK Menteri Perdagangan terkait pelarangan pakaian bekas itu dapat dijalankan sesuai amanat.(mif/iza) 

Berita Terkait