Pengusaha Pontianak Ditipu; Tersangka Ajukan Praperadilan, Kandas Ditolak Hakim

Pengusaha Pontianak Ditipu; Tersangka Ajukan Praperadilan, Kandas Ditolak Hakim

  Senin, 24 Oktober 2016 14:17
Adipurna Sukarti memperlihatkan dokumen miliknya.

Berita Terkait

ADIPURNA Sukarti, korban penipuan dan penggelapan yang dilakukan rekan bisnisnya sendiri akhirnya sedikit bernafas lega. Upaya pelaku, Suryadi Wongso dan Yusuf Ngadiman menggugat status tersangka dengan mengajukan praperadilan akhirnya kandas.

15 Agustus lalu, Suryadi Wongso bersama Yusuf Ngadiman melalui pengacaranya mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan untuk melawan penetapan status tersangka oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

Kuasa hukum kedua tersangka itu menyatakan, penetapan kedua kliennya sebagai tersangka tidak sesuai dengan prosedur yang benar sebagaimana diatur dalam Peraturan Kapolri  atau tidak berdasarkan alat bukti dan tidak melalui gelar perkara. Selain itu, penetapan tersangka juga dinilai tidak sesuai dengan ketentuan kitab undang undang hukum pidana.

Namun gugatan praperadilan itu kandas. 27 September lalu, hakim praperadilan PN Jakarta Selatan dalam salinan putusan nomor 117 menyatakan penetapan tersangka kepada Suryadi Wongso dan Yusuf Ngadiman sah dan berdasarkan hukum serta menyatakan permohonan praperadilan pemohon ditolak untuk seluruhnya.

Bagi Adipurna, keputusan PN Jakarta Selatan yang menolak pra peradilan kedua tersangka penipuan dan penggelapan saham PT Selebaran Jatimulia (SJM) itu adalah bukti bahwa keadilan masih berpihak kepada masyarakat yang dizalimi.

“Saya sedih, terharu saat mendapat kabar dari pengecara kalau pra peradilan mereka ditolak. Saya merasa bahwa Tuhan sudah membuka mata penegak hukum untuk membela kami yang dizalimi,” kata pria berusia 66 tahun itu, saat ditemui di kediamanya, Jalan Sultan Muhammad, Kecamatan Pontianak Selatan, Minggu, (23/10).

Adipurna ingat betul pada 2012 lalu ia melaporkan kedua rekan bisnisnya itu ke Bareskrim Polri karena diduga tela melakukan pengelapan saham perusahaan. Namun, empat tahun sudah kasus penipuan, penggelapan dan pemalsuan dokumen itu berlalu, kepastian hukum itu tak kunjung hadir. “Laporan saya ini seperti dipermainkan, dari satu penegak hukum ke penegak hukum lainnya. Jadinya sampai sekarang belum selesai,” ucapnya. 

Pria 66 tahun itu bercerita, awalnya dia membangun kerjasama bersama Yusuf Ngadiman dan ayah Suryadi Wongso, Salim Wongso dengan menyertakan modal senilai Rp8,15 miliar pada 1999. Penyertaan modal itu untuk membeli lahan tanah seluas 45 hektare di Desa Salembaran Jati Kosambi, Kabupaten Tangerang Banten.

Sebagai pemilik modal terbesar, Adipurna pun dijadikan pemegang saham pada PT SJM dengan mendapatkan saham sebesar 30 persen. Sedangkan Salim Wongso dan Yusuf Ngadiman menerima 35 persen per orang. “Tapi selama kerjasama berjalan saya tidak pernah mendapatkan pembagian keuntungan,” ucap bapak berkacamata itu.

Adipurna terpuruk, ia stress tak menyangka jika teman yang sudah dikenalnya sejak lama, tega dan tanpa ada rasa iba menikamnya dari belakang.

“Pikiran saya saat itu kacau bahkan kesehatan saya terganggu, karena seumur-umur tidak pernah menghadapai masalah seperti ini. Apalagi, mereka (Suryadi Wongso dan Yusuf Ngadiman) orang yang sudah saya kenal baik sejak lama,” katanya.

Kini keadilan mulai berpihak, praperadilan yang diajukan kedua rekan bisnisnya ditolak, Adipurna pun berharap penangangan kasusnya tidak lagi dipimpong tapi benar-benar ditangani kepolisian demi menegakan keadilan.

“Kalau dulu, kasus saya ini seperti permainan pimpong internasional, lempar sana lempar sini. Mudah-mudahan sekarang dengan petinggi Polri yang baru, tidak ada lagi yang bermain,” harap Adipurna.

Dengan nada tegas sedikit gemetar, Adipurna mengatakan akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mendapat keadilan negeri yang ia cintai.  “Saya memohon kepada Kapolri, agar bertindak seadil-adilnyanya dan mengawasi kinerja bawahannya. Jangan sampai kami masyarakat menjadi permainan oknum tak bertanggungjawab,” harapnya.

Sementara itu, kuasa hukum Adipurna Sukarti, Muhammad Soleh mengatakan bahwa kini tidak ada alasan lagi bagi kepolisian untuk tidak menahan kedua tersangka penipuan dan penggelapan tersebut. “Praperadilannya ditolak, artinya kepolisian dapat melanjutkan proses hukum kedua pelaku,” kata Soleh.

Soleh berharap, kepolisian dapat menerapkan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam kasus yang sedang dihadapi para tersangka. Pasalnya, keduanya diduga telah terjadi pembelian tanah oleh para keluarga tersangka dengan menggunakan uang hasil penjualan tanah aset perusahaan yang telah dibangun bersama Adipurna.

Menurut Soleh, tindak pidana kejahatan yang dilakukan kedua tersangka seperti sudah direncanakan dengan matang.

Hal itu dapat dilihat dari surat Kepala Kantor Pertanahan Tangeran, 15 Juli 2016 terdapat data atau catatan pada buku tanah terjadinya penjualan atau beralihnya hak atas sebagian besar bidang-bidang tanah milik PT SJM oleh Yusuf Ngadiman tanpa melalui persetujuan RUPS.

“Bahkan ada akta jual beli tanah yang mengalihkan hak atas bidang tanah , hak guna bangunan kepada Suryadi Wongso. Tindakan itu dilakukan secara diam-diam dan menjadi salah satu bukti kepolisian menetapkan keduanya sebagai tersangka,” tegas, Soleh.

Karena itu, lanjut dia, pihaknya sangat mengapresiasi kerja polisi tersebut dan berharap kasus tersebut dapat segera diproses lebih lanjut, agar kliennya mendapat keadilan yang selama ini nyaris tak berpihak kepadanya. (adg)

 

Berita Terkait