Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak

Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak

  Selasa, 28 June 2016 09:17   3,879

Oleh: Ricksen Sonora Roffies, S.Pd

ORANG tua seperti kapten kapal, bertugas mengawasi tanggung jawab keluarga, megoperasikan kapal selagi kapal itu dari posisi sekarang mengarahkan ke tujuan yang ditetapkan. Anak, seperti halnya pegawai kapal, melakukan fungsi sebuah keluarga. Seperti halnya sebuah kapal dibangun untuk mengangkut penumpang, keluarga dibangun untuk membawa anggotanya menuju masa depan, dan orang tua sebagai pemimpin yang memberikan arah yang akan membawa mereka ke tujuan. Seperti pengemudi kapal, pernyataan misi dan harapan pendidikan menjaga keluarga tetap pada jalurnya. Seperti halnya kapal, keluarga harus siap untuk menghadapi angin yang kuat, gelombang yang tinggi, cuaca yang tidak menentu, persedian bahan bakar, bahan makanan atau bahan baku yang terbatas. Keluarga harus siap menghadapi tantangan secara fisik, psikis, finansial, sosial dan rohani. Maka orang tua harus mampu mendefinisikan dengan jelas apa peran mereka, dan apa peran anak dan batas-batas kewenangan masing-masing. 

Masa kini, banyak orang tua kehilangan kesadaran realitas seperti dalam kegagalan mengerti dan menghargai anak serta kebutuhan pendidikan anak. Orang tua telah memilah-milah secara tajam antara pendidikan di lembaga formal yaitu di sekolah dan kerap kali mengabaikan pendidikan di rumah, dan menjadi heran ketika mendapatkan akibatnya bahwa kelalaian mendidik di rumah berdampak destruktif bagi pembentukan dasar karakter anak dan ketertarikan anak terhadap dunia pendidikan yang berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Padahal orang tua memiliki peran sentral untuk terus-menerus menyalakan api pendidikan dilingkungan keluarga dan masyarakat. Orang tua berpengaruh dan dapat memperkecil atau memperbesar; mematikan atau menghidupkan semangat pendidikan dalam setiap dimensi aktivitas anak. Orang tua haruslah menyadari bahwa pendidikan yang bermutu haruslah dihargai, dijunjung tinggi, menjadi orientasi, dan menjadi ciri dari keluarga yang bermartabat. 

Pendidikan anak dimulai dari keluarga dan mendidik anak bermuara dari mengenal anak dan cara memperlakukan anak sesuai kebutuhannya dan perkembangannya.  Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama bagi anak.  Anak yang dibesarkan dilingkungan keluarga yang terdidik memiliki peluang yang besar untuk bertumbuh dengan baik. 

Rumah adalah “sekolah bagi anak” yang berfungsi untuk membentuk individu yang memiliki karakter dan sifat ideal dan menyiapkan mereka agar dapat hidup di masyarakat. Karena berbicara pendidikan bukan hanya menyangkut penyaluran pengetahuan tetapi juga pembentukan kepribadian, pembentukan karakter. Meskipun orang tua tidak berkuasa mengubah hati anak, namun orang tua dapat membentuk karkater anak. Di rumah terdapat pendisiplinan dan kekuasaan yang dapat menjadi alat efektif orang tua untuk penggemblengan anak. 

Salah satu pendekatan pendidikan yang ampuh bagi anak adalah mendidik anak dengan moral, mendidik dengan teladan dan akhlak mulia. Bagaimanapun, apabila orang tua yang tidak menghasilkan teladan agung yang berharga bagi anaknya, tidak akan pernah memberikan pengaruh apa pun untuk di ingat dan di ikuti dengan bangga dan sepenuh hati oleh keturunannya. Maka, orang tua harus memiliki wibawa dan kasih sayang serta kekhasan sebagai orang tua bagi anaknya—sesuatu yang unik dan berbeda dibandingkan orang tua lainnya yang memiliki daya tarik yang begitu kuat sehingga anak ingin terus-menerus mendekat, bersama dan belajar. Demikian pula, seorang anak yang tidak belajar dan menyimpan keteladanan yang diwariskan orang tua kepadanya dan meneruskannya kembali kepada orang lain tidak akan pernah cukup mampu memberikan dampak bagi sekelilingnya.  

Orang tua yang baik, haruslah mempergunakan waktu dan kesempatan sebaik-baiknya untuk mendidik dan melatih anak. Menemukan potensi, mengembangkan potensi, membentuk karakter, etika, sikap, nilai-nilai yang sesuai dengan norma masyarakat secara umum. Dimana orang tua lebih banyak waktu bersama anak, disitu ada lebih banyak kesempatan untuk menyatakan kasih sayang, penerimaan, pemberian nasihat, dan penanaman nilai. Orang tua haruslah tergerak untuk berpikir bahwa dalam segala kemungkinan mereka tidak akan selalu bersama-sama dengan anak dan karena itu, setiap kesempatan yang ada adalah waktu yang tepat untuk menenun anak sesuai dengan harapan karena kesempatan emas bisa saja hilang karena sudah terbaring di dalam kubur.

Orang tua tidak boleh mengunci diri sendiri di dalam rutinitas pekerjaannya karena kurangnya kemampuan dan kesanggupan berinteraksi dengan anak. Komunikasi adalah salah satu hal termudah yang dapat dilakukan, dan pada saat yang sama, satu hal yang tersulit. Kegagalan interaksi akan menyebabkan keengganan peduli, situasi yang tidak mengenakkan, keputusasaan yang buruk, keteledoran dan keambiguan permasalahan. 

Orang tua yang baik tidak hanya mendengar perkataan anak di permukaan, tetapi dapat mendengar bahkan pikiran, motivasi, harapan dan hati anak. Sebagai orang tua, jalinlah hubungan yang bermanfaat dengan anak yaitu mendorong, mendidik, melengkapi, dan mengawasi. Membicarakan hal yang anak jumpai, merencanakan bersama, bermimpi bersama, walaupun hanya meluangkan waktu saat menonton televisi akan mempererat jalinan hubungan keluarga. Sangatlah mungkin berbeda pendapat antara orang tua dan anak. Anak dan orang tua, dapat dan seharusnya berbeda pendapat. Tetapi perbedaan pendapat harus ada pada tingkat yang objektif dan saling toleransi dan demokrasi di tengah-tengah kehidupan keluarga. 

Orang tua harus lebih proaktif. Memusatkan perhatian pada kualitas pribadi untuk mendidik secara efektif. Termasuk didalamnya integritas menghormati pendapat, sikap untuk tidak menghakimi, semangat untuk mendorong, karakter moral yang tidak tercela, keterampilan untu mendengarkan, dapat menjadi tempat cerita dan menjaga rahasia, pandangan dan wawasan yang luas.

Orang tua harus memiliki entuasiasme yang tinggi. Kecintaan mendidik anak akan menjadi gairah yang kemudian akan menjadi entusiasme orang tua, yang pada akhirnya akan memampukan memberikan motivasi kepada anak. 

Selain itu, dalam mendidik, perlakuan terhadap anak haruslah menekankan kasih dan keadilan. Kasih dan keadilan haruslah berjalan selaras dan serasi. Anak diperlakukan sebagai pribadi yang layak dikasihi dan layak diadili. Takaran yang pas ini dapat membentuk karakter emas anak seperti, tidak lembek namun tangguh; tidak malas namun giat; tidak manja namun bertanggung jawab. 

Tantangan tersulit mendidik anak bukanlah datangnya dari luar, melainkan dari dalam yaitu hilangnya gairah dan hati pendidik di dalam diri orang tua. Betapa menyedihkannya jika orang tua tidak memerhatikan pendidikan anaknya. Betapa dinginya jika orang tua acuh tak acuh berbagian mendidik anak. Tidaklah susah mendengar keluhan anak tetapi jauh lebih sulit mendengar kekosongan hati anak. Perlu bijaksanan untuk memahami anak seutuhnya.

Jika orang tua ingin tetap menjadi pengaruh yang positif dalam kehidupan anak, orang tua perlu hadir dalam hidup anak sebagai garam yang memegaruhi dan memberi rasa dan terang yang menyinari dan menunjukkan jalan. Diam aman di balik kemasabodohan terhadap pendidikan anak mungkin terkesan lebih nyaman karena tidak perlu di sibukkan dengan berbagai macam hal yang melelahkan tetapi itu menyangkali kesempatan terbaik orang tua untuk mencetak generasi cemerlang yang bermoral, berbudaya, dan berkarya. 

Jadi, bagaimana memikirkan implikasi dari peran keluarga terhadap pendidikan anak? Pertama, orang tua harus menemukan kembali panggilan utama dalam hidupnya untuk mendidik anak baik secara spiritual, moral, dan intelektual. Kedua, orang tua harus berkomitmen bahwa mendidik anak adalah bagian penting dari hidup yang melaluinya dapat mengungkapkan tanggungjawab terhadap Tuhan dan sesama, karena itu harus dilakukan dengan kesungguhan. Ketiga, orang tua harus menyediakan dukungan pendidikan bagi anak dan masyarakat, yang mendorong penciptaan pendidikan yang berorientasi masa depan yang melayani kebaikan umum.

Akhirnya, jerih payah orang tua dalam mendidik anak tidak pernah sia-sia. Mengapa tidak? Sebab segala sesuatu yang dilakukan orang tua terhadap anaknya, yang mengalir keluar dari ledakan kasih sayang yang limpah serta di ikat dalam kebaikan, akan menjadi sesuatu yang bernilai kekal—tidak akan lenyap begitu saja dan dilupakan. Semua pengorbanan orang tua akan terpatri sedalam-dalamnya sanubari yang memperbaharui kehidupan dari generasi ke generasi. Apa yang orang tua lakukan bagi pendidikan anaknya sangat penting artinya bagi peradaban manusia dan martabat bangsa.**

*) Pengajar Bimbel Ganesha Operation