Penggunaan Citra Satelit Bidang Pertanian Telan Biaya Tinggi

Penggunaan Citra Satelit Bidang Pertanian Telan Biaya Tinggi

  Rabu, 3 Agustus 2016 10:18
PENGEMBANGAN: Tim peneliti Fakultas Pertanian Untan memegang alat Wahana Tanpa Awak (WTA) untuk penelitian pertanian dan perkebunan. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

 
Penggunaan citra satelit di bidang pertanian dan perkebunan, seperti identifikasi jenis tanaman, kondisi tanah dan lainnya memang memakan biaya yang tak sedikit. Seiring berkembangnya teknologi, penggunaan Wahana Tanpa Awak (WTA) dapat jadi pilihan. Kini Fakultas Pertanian Untan coba mengembangkan WTA untuk keperluan penelitian Pertanian dan Perkebunan

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

PENGENALAN dan pemanfaatan WTA (drone) untuk pengelolaan wilayah pertanian bagi mahasiswa Fakultas Pertanian Untan sudah dilakukan sejak Senin lalu. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari sampai Rabu (hari ini), atas inisiasi Fakultas Pertanian yang bekerja sama dengan Sampan Kalimantan.

Dosen Fakultas Pertanian, Muhammad Pramudya berpikir, WTA membantu kerja bidang pertanian dan perkebunan. Sebelum ada WTA (drone) penggunaan citra satelit untuk keperluan observasi lahan, identifikasi jenis tanaman, perencanaan pola tanam perkebunan sampai peremajaan tanaman perkebunan butuh biaya besar.

“Dengan pengembangan dan pengenalan WTA dapat menambah pengetahuan mahasiswa. Kami coba mengembangkan WTA. Untuk pengenalan kita libatkan Sampan,” ucapnya, Selasa kemarin.

Menurut dia, teknologi WTA biayanya lebih terjangkau dibanding menggunakan satelit. Penggunaan WTA untuk keperluan pertanian merupakan pilihan tepat. Pengembangan WTA ini bisa jadi peluang mahasiswa juga.

Setelah kegiatan ini, pihaknya akan mengembangkan WTA. Keseriusan itu sudah nampak karena dalam waktu dekat ini akan melakukan pengadaan WTA. Pembelian WTA jelasnya bukan dari pabrikan, karena selain biaya mahal kalau rusak juga tak bisa dideteksi penyebabnya.

“Atas saran kawan Sampan rencananya kita akan buat sendiri. Alasannya jika ada kerusakan kita tahu penyebabnya, dan biaya tak terlalu mahal,” terangnya.

Selain pengembangan, nanti WTA dapat digunakan sebagai alat penelitian mahasiswa. Selama ini, ketika penelitian, mahasiswa juga kesulitan mengakses data dari pemerintah setempat. Seandainya ke depan penggunaan WTA dapat dilegalkan akan menarik. Terutama untuk pencarian data lebih mudah.

Secara pribadi, ke depan ia berharap semua mahasiswa Pertanian dapat mengoperasikan drone dalam arti kerja tim. “Untuk mengoperasikan drone tidak satu orang, ada pilot, operator, bagian operasional komputer dan pengolah data. Kesemuanya harus kompak,” terangnya.

Dia berharap, pelatihan WTA akan berkelanjutan sampai ke pengembangan. Jika berjalan sesuai rencana, usai lulus dari Pertanian, mereka akan jadi tenaga yang siap pakai, terutama dalam pengoperasian WTA di bidang pertanian dan perkebunan.

Di tempat sama, instruktur pelatihan WTA Sampan Kalimantan, Muin mengatakan, pengenalan WTA bagi mahasiswa pertanian saat ini penting. Apabila kelak mereka dapat mengoperasikan WTA, akan memudahkan pekerjaan mereka,terutama di sektor pertanian. “Penggunaan alat ini juga ramah lingkungan,” tukasnya.

Dalam pengenalan ini tambahnya, peserta diberitahu dasar-dasar WTA, mulai dari cara pengoperasian, sampai dengan hal yang selama ini belum diketahui. “Harapan saya setelah pengenalan WTA, mahasiswa dapat berpikir kreatif untuk mengembangkan WTA. Di Japan penggunaan WTA bisa menyiram tanaman dan pupuk. Seandainya bisa dilakukan di sini merupakan inovasi,” ucapnya.(*)

Berita Terkait