Pengganti Utama Dorong Kemandirian

Pengganti Utama Dorong Kemandirian

  Senin, 8 Agustus 2016 09:20
KETAHANAN PANGAN: Berbagai jenis pangan lokal ditampilkan dalam Gelar Pangan Nusantara 2016 di rumah Radakng kemarin. Pangan lokal yang ada di Kalbar begitu banyak potensinya dan mampu menggantikan pangan utama. HARYADI/PONTIANAK POST

 
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berupaya menjadikan pangan lokal sebagai penggerak ekonomi daerah dan kemandirian pangan. Di berbagai daerah saat ini bermunculan berbagai variasi olahan panganan tradisional seiring berkembangnya industri kreatif dan kuliner.

Aristono, Pontianak

Aleksander (57), tampak asyik membersihkan talas yang baru dipanen dari kebunnya di kawasan pertanian Siantan, Pontianak Utara. Dia adalah salah satu orang yang enggan beralih ke tanaman non pangan.

“Dari dulu saya bertanam padi, sayuran dan buah-buahan. Karena kalau semua pindah ke sawit atau tanahnya untuk perumahan, kita mau makan dari mana. Pasti impor terus, itu logika sederhananya,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Menurutnya, saat ini Indonesia terlalu banyak mengimpor beras dan harganya sangat tinggi. Bukan lantaran produksi beras menurun, tetapi karena kebutuhan yang meningkatnya jauh berkali lipat. “Orang kita kalau tidak makan nasi katanya belum makan. Padahal banyak makanan pengganti nasi yang karbohidratnya tinggi, dan lebih sehat,” ujarnya.

Dia mencontohkan talas atau keladi sarawak. Menurutnya, di berbagai negara saat ini talas sudah menjadi makanan pengganti nasi. Apalagi talas punya masa panen yang hampir sama namun volume panen per area yang lebih besar dibandingkan dengan padi. Harganya pun lebih murah.

“Satu kilogram keladi sarawak saat ini hanya sekitar Rp7 ribu. Itu yang bagus. Sementara beras bisa belasan ribu rupiah sekilogram sekarang. Saya sekali panen satu hektare bisa dapat 20 ton, kalau padi satu hektare paling banyak kan 5-6 ton,” ujarnya.

Namun keunggulan lain dari talas adalah sangat tahan terhadap penyakit dan hama. “Pengalaman saya, tikus pun akan memilih makanan lain kalau masih ada, baru pilih talas, karena kulitnya keras. Bakteri dan jamur juga jarang saya temui. Perawatan hanya pakai pupuk kandang,” jelasnya.

Nilai plus selanjutnya adalah ketahanan talas di area pertanian dan dalam gudang penyimpanan. Menurutnya, padi kalau sudah harus panen maka wajib untuk dipanen. Sementara talas semakin lama dibiarkan dalam tanah akan semakin besar umbinya. Adapun talas memiliki kadar air yang rendah, sehingga tahan disimpan dalam waktu lama.

Untuk olahan, talas lebih lengkap dibanding beras. “Apapun bisa dibuat dari keladi. Mau disemur, gulai, goreng, jadikan keripik, tepung dan lainnya bisa,” ucapnya. Selain talas, dia menyebut masih banyak sumber pangan lokal lainnya yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan pokok.

Lebih-lebih, saat ini lahan semakin sempit, sementara manusia tambah banyak.

Kebutuhan akan pangan sangat besar. Sementara orang yang mau berkecimpung di bisnis pertanian tak sebanding pertumbuhannya. Hal ini membuat usaha di bidang pertanian memiliki potensi besar di masa sekarang dan masa datang.

Apa yang disampaikan petani tersebut diamini pemerintah Kalbar. Wakil Gubernur Christiandy Sanjaya saat pembukaan kegiatan Gelar Pangan Nusantara 2016 yang dilaksanakan di Rumah Radakng 4 sampai 7 Agustus mengajak seluruh masyarakat Kalbar agar tidak hanya mengkonsumsi beras saja.

”Harus bisa membiasakan diri untuk mengonsumsi sumber pangan lainnya. Selain itu masyarakat harus bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami tanaman pangan demi mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah," katanya.

Christiandy mengatakan, berdasarkan informasi, tahun depan diperkirakan jumlah penduduk akan bertambah 1 miliar orang dan jumlah penduduk dunia akan bisa mencapai 8 miliar. Sementara bumi ini hanya menampung 3 sampai 4 miliar orang. “Artinya bumi saat ini sudah overload. Mengapa saya sampaikan, karena ini erat kaitannya dengan masalah pangan dan kini sudah menjadi perhatian utama dunia,” tuturnya.

Untuk itu, lanjutnya, semua pihak harus bisa memandang hal ini sebagai suatu ancaman yang serius dan perlu segera diantisipasi. Dia menjelaskan, pemerintah harus bisa melakukan upaya meningkatkan produktivitas pangannya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Untuk Kalbar sendiri saat ini memiliki jumlah lahan yang masih cukup banyak untuk meningkatkan hasil pangan dan harus segera dioptimalkan. “Kita tidak boleh terlena akan lahan yang luas ini. Namun harus dimanfaatkan secara bijak.Untuk itu kita mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang ada untuk mengintensifkan program ketahanan pangan dan ini sudah kita lakukan bersama masyarakat dan akan kita tingkatkan,” pungkasnya. (**)