Pengetahuan Nalar yang Menguatkan Iman

Pengetahuan Nalar yang Menguatkan Iman

Minggu, 27 March 2016 10:32   839

Dewasa ini masih saja orang dibuat gelisah dan bingung dengan pertanyaan: iman dan ilmu itu merupakan dua bidang yang saling berkompetisi atau justru menjadi dua dunia yang mempunyai peran komplementer. Dapatkah ilmu pengetahuan menjelaskan iman kepercayaan?’  sebuah pertanyaan yang sungguh menantang bagi para ahli dalam bidang IPA,  yang hidup di masyarakat ‘tradisional’ seperti di Indonesia ini. Berbagai hal yang ‘berwarna’ mistis-religius- sering muncul dalam perjalanan hidup sehari-hari, termasuk hidup keagamaan.
Ketika masih di usia muda dulu, pengetahuan tentang ‘penyelamatan manusia’ diperoleh dari bacaan Kitab Suci yang disampaikan oleh para guru agama serta kotbah para pastor di sekitar paskah. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara seperti  tidak membuat  makna ‘penyelamatan manusia’ sepenuhnya jelas. Pengetahuan tentang penyelamatan manusia tidak menjadi terang benderang. 
Semua penjelasan diterima sebagai sesuatu yang benar karena yang menyampaikannya adalah orang-orang yang berwenang - guru agama atau pastor. Walaupun, sesungguhnya maknanya tetap masih samar-samar.  
Pencarian sendiri, melalui permenungan kisah-kisah alkitabiah jauh ke masa lampau, sampai di jaman Abraham. Ada Suara. Umat manusia diminta mematuhi perintah Tuhan. Hanya dan hanya jika patuh kepada Tuhan maka manusia diselamatkan
Abraham menjawab Suara itu. Ia membawa anaknya ke atas bukit untuk dipersembahkan sebagai korban bakar. Suara itu merespons.  Muncullah janji akan menyelamatkan manusia.
Janji yang ditangkap oleh Abraham ini  berupa Suara Tuhan. ‘Suara’. Sebuah tanda fisik  yang dapat ditangkap oleh telinga manusia, telinga Abraham. Dengan itu, ada satu tambahan tanda tentang penyelamatan manusia, yaitu gelombang suara. Suara ini menjadi tanda fisik dari penyelamatan manusia.
Sekitar dua ribu tahun yang lalu, lahirlah Yesus di Nazaret.  Sekitar 33 tahun kemudian Ia meninggal di kayu salib di atas gunung Golgotha. Tiga hari berikutnya, Ia hidup kembali. Sekitar 40 hari selanjutnya Ia hidup bersama para murid-Nya dan akhirnya naik ke surga. 
Kelahiran Yesus, kehidupan Yesus sebagai manusia, dan kematian-Nya, serta kemuliaan-Nya dengan naik ke surga merupakan tanda baru lagi tentang penyelamatan manusia. Tanda itu berupa seorang manusia yang sungguh hidup sebagai manusia. Kehidupan Yesus menjadi tadi konkrit tentang penyelamatan. 
Suara yang didengar Abraham dan kehidupan Yesus sebagai manusia merupakan tanda-tanda fisis dari penyelematan manusia. Karena itu, keberadaan kedua tanda ini menghasilkan pengetahuan nalar tentang penyelamatan. 
Analisis kisah Abraham dan analisis kisah hidup Yesus menemukan ada Kehendak untuk menyelamatkan umat manusia. Dengan cara seperti ini maka pengetahuan iman yang diterima dari para guru agama dan para pastor diperkuat oleh pengetahuan nalar. Dalam titik seperti ini, nalar dan iman bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Namun, proses panjang masih perlu dilalui karena perdebatan antara nalar dan iman masih berlangsung.
    Dalam perdebatan di awal abad ini, Josefh Ratzinger – seorang filsuf dan Paus Katolik Roma (Benediktus XVI)-menyatakan ilmu pengetahuan mempunyai tanggung jawab untuk menyertai secara kritis perkembangan masing-masing ilmu dan menguji secara kritis kesimpulan-kesimpulan yang dibuatnya. Ada patologi hybris  dalam nalar yang mengancam manusia. Karena itu, nalar harus mengakui batas-batasnya dan perlu belajar menghargai tradisi-tradisi religius umat manusia. Sebaliknnya, karena agama juga mempunyai patologi-patologi yang cukup berbahaya mutlak perlulah memandang cahaya ilahi nalar sebagai organ pengontrolnya. Agama, secara konstan, mendiamkan diri untuk diterangi dan diatur oleh nalar. 
    Dalam debat itu, Juergens Habermas, seorang filsuf-nonreligius juga dari Jerman mengatakan bahwa nalar dan agama harus saling belajar satu sama lain dan tidak melihat sekularisasi sebagai bentuk imperalisme yang satu terhadap yang lain. Sekularisasi mesti dilihat sebagai ‘pembelajaran komplementer’. Dalam pembelajaran ini, nalar dan agama mediskusikan tema-tema kontroversial secara publik. 
    Kisah Paskah, kisah Yesus - Putera Allah- yang menyelematkan umat manusia dari dosa hanyalah salah satu contoh tentang kemungkinan iman kepercayaan itu dilandasi oleh nalar. Masih banyak kisah-kisah lain yang serupa, sehingga, pada suatu waktu - kelak,  kita akan mencapai tingkat kesadaran intergral, menyeluruh. Kesadaran magis –religius tidak dilenyapkan, (tetapi) dijernihkan dan dilengkapi oleh kesadaran rasional.  Semoga!

 

 

 

Leo Sutrisno