Pengerjaan Perbaikan Jaringan Udara Memakan Waktu

Pengerjaan Perbaikan Jaringan Udara Memakan Waktu

  Selasa, 14 November 2017 10:00
PERBAIKAN: Petugas sedang memperbaiki jaringan listrik yang mengalami gangguan. INTERNET

Berita Terkait

Kondisi Kelistrikan di Kalbar 

Manajer Area Pengatur dan Penyalur Beban (AP2B) PLN Wilayah Kalimantan Barat, Ricky Ardian mengatakan proses perbaikan para Jaringan Udara Tegang Menengah (JUTM) yang memakan waktu sehingga menuai komplain dari pelanggan.

***

Ricky menuturkan proses perbaikannya memakan waktu dua jam. Selama proses perbaikan petugas harus memastikan jaringan aman dari dari aliran listrik sehingga proses pekerjaan bisa berjalan lancar. 

“Petugas harus memastikan JUTM itu tidak bertegangan, sehingga proses pengerjaannya lebih safety. Jangan sampai dikerjakan dalam kondisi yang tidak aman, sehingga membayar petugas,” jelas Ricky kepada awak media di Kantor AP2B, Senin (13/11). 

Ia menjelaskan kerusakann jaringan itupun disebabkan beberapa faktor. Bisa karena faktor cuaca ekstrim, seperti angin kencang, hujan deras hingga petir. Kondisi itu bisa menyebabkan pohon tumbang hingga mengenai jaringan. Penyebab lainnya bisa dari layangan kawan. 

Sementara kondisi listrik yang biarpet pada beberapa hari terakhir ini lebih disebabkan petir yang menghantam JUTM 275 KV di Mabong (Malaysia). Kondisi inilah menyebabkan pasokan listrik ke Indonesia terganggu. 

Saat ini Kalimantan Barat mendapat pasokan listrik dari Sesco. Listrik ini mengalir di Sistem Khatulistiwa yang menginterkoneksikan tujuh kabupaten/kota yaitu Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas, dan Ngabang.

Dengan mendapat pasokan tambahan itu, maka daya listrik Kalimantan Barat surplus. Hanya saja jika terjadi gangguan maka PLN tidak bisa menyuplai langsung dengan menggunakan pembangkit yang ada. 

“Kalau terputus karena faktor-faktor tadi ya belum bisa langsung disuplai kelebihan daya ini.  Apalagi suplai yang kita berikan ke pelanggan juga sedang tinggi,” katanya.

Ia menyebutkan dalam sistem Khatulistiwa 150 MW daya listrik dipasok dari Sesco Malaysia sementara 50 MW dipasok dari pembangkit milik PLN. Dengan pembangunan pembangkit listrik di beberapa tempat di Kalbar diharapkan mampu memasok suplai daya yang lebih besar. 

Direncanakan PLTU 3 Pasir Panjang dengan daya 100 MW ini akan beroperasi tahun depan. Kemudian dilanjutkan dengan pengoperasian PLTU 2 Tanjung Gundul 55  MW serta PLTU 1 Jungkat 100 MW.

“Saat ini pembangkit kita masih banyak menggunakan PLTD sehingga menyebabkan cost yang dikeluarkan sangat mahal,” ucapnya.

Ricky Ardian direncanakan akan mengakhiri masa tugasnya di Kalbar per Rabu (15/11/2017). Dirinya akan pindah tugas ke DKI Jakarta. Menurutnya kondisi yang berbeda terjadi di Jakarta.

Layangan kawat, petir hingga pohon tumbang tidak menjadi faktor penyebab terganggunya suplai listrik. Ini dikarenakan 97 persen jaringan listrik di ibukota menggunakan kabel bawah tanah. Kondisi yang berbeda terjadi di Kalimantan Barat, di mana masih menggunakan JUTM. Hal inilah yang sangat rentan terjadi masalah seperti layangan, pohon tumbang dan lainnya.  

“Ke depan memang ada rencana penggunakan kabel kabel bawah tanah untuk jaringan listrik di Pontianak, tetapi memang biaya yang lebih besar. Nilai investasi bisa tiga hingga lima kali lipat dibandingkan dengan hanya memakai JUTM,” pungkasnya. (mse)

Berita Terkait