Pengasuhan Anak ke Orang Lain

Pengasuhan Anak ke Orang Lain

  Rabu, 20 April 2016 09:21

Berita Terkait

“Pertimbangkan berapa lama anak akan ditinggal bersama orang lain, apa saja yang dibutuhkan anak, dan bagaimana karakter pihak ketika yang akan mengasuh anak selama ditinggal,”

Yulia Ekawati Tasbita, Psikolog

-------------------------------

Masing-masing orang tua memiliki pola asuh tersendiri terhadap anak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab,  pengasuhan orangtua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pengasuh atau nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Meski demikian, orang tua harus memiliki cara tersendiri agar pola asuh yang diinginkan bisa diterapkan kepada anak meskipun dititipkan pada orang lain. 

Oleh : Marsita Riandini

Mendidik anak sudah menjadi tanggung jawab dari orang tua. Berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari membesarkan hingga memberikan pendidikan. Sayangnya, tidak semua orang tua bisa memberikan sepenuh waktunya untuk mendidik anaknya.  Terutama ketika keduanya harus bekerja. Mau tidak mau anak pun dititipkan kepada orang lain.  Lantas bagaimana mendidik anak saat di asuh orang lain?

Sebaik-baik pengasuhan anak adalah pengasuhan orangtua di rumah. Inilah salah satu dilemma yang banyak dialami oleh ibu yang bekerja di luar rumah. Yakni harus menitipkan anak pada orang lain, baik itu pada pengasuh, tetangga, tempat penitipan anak, atau pada saudara sendiri. Demikian yang disampaikan Yulia Ekawati Tasbita, S.Psi, Psikolog kepada For Her. “Ada berbagai alasan kenapa orang tua mempercayakan pengasuhan anaknya kepada orang lain. Ayah ibu yang bekerja, biasanya menjadi alasan utama kenapa anak di asuh orang lain,” ucap salah satu Pendiri Biro Konsultasi Persona ini. 

Mempercayakan pengasuhan kepada orang lain, itu artinya orang tua harus siap dengan berbagai pertimbangan. Walau bagaimana pun pola asuh yang diterapkan orang tua tidak bisa sama persis dengan pola asuh yang diterapkan orang lain. Apalagi anak tak hanya butuh makan dan minum saja, tetapi ada pembelajaran hidup yang diberikan. “Setiap orang tua berhak memilah dan memilih kepada siapa ia mempercayakan anaknya diasuh. Apakah dengan orang tua, pengasuh, ataupun ke tempat penitipan,” ucap dia. 

Terpenting bicarakan hal ini kepada pasangan, sebab anak adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya tanggung jawab ibu, ataupun ayahnya saja. Buatlah kesepakatan kepada siapa anak dititipkan. “Pertimbangkan berapa lama anak akan ditinggal bersama orang lain, apa saja yang dibutuhkan anak, dan bagaimana karakter pihak ketika yang akan mengasuh anak selama ditinggal,” beber dia. 

Menitipkan anak kepada orang tua jelas tidak bisa sama ketika anak dititipkan kepada pengasuh. “Kepada orang tua mungkin akan lebih sulit menetapkan aturan, tetapi paling tidak bisa memberikan pemahaman apa yang baik untuk anaknya, dan apa yang tidak. Kadang ketika kita melarang anak melakukan sesuatu, orang tua berkata “kamu dulu seperti itu juga,”. Hal-hal semacam ini menjadi tantangan bagi orang tua,” papar dia. 

Berbeda halnya ketika anak dititipkan kepada pengasuh. Anda memiliki otoritas penuh terhadap pola asuh yang akan diterapkan kepada anak. Meksipun hal tersebut tidak bisa dijalani seratus persen, tetapi Anda bisa membuat kesepakatan bersama pengasuh. “Tentu saja memilah dan memilih mana pengasuh yang benar-benar bisa dipercaya dan membuat orang tua nyaman meninggalkan anak-anak mereka,” papar dia. 

Demikian pula saat memilih tempat penitipan anak. Lihatlah program-program yang sesuai. Ada baiknya sebelum menitipkan, cari tahu banyak tentang  tempat penitipan tersebut dan pengaruhnya pada tumbuh kembang anak. “Biasanya khan setiap tempat penitipan punya program harian, dari makan, mandi sampai tidurnya anak. Pilihlah program yang sesuai dengan pola asuh yang diinginkan orang tua,” ulas dia. 

Bangunlah waktu yang berkualitas kepada anak. Ketika selama bekerja anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan orang lain, maka ketika bersama anak manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. “Tantangan membesarkan anak akan semakin besar lagi ketika meninggalkan anak dalam waktu yang lama. Kalau meninggalkan anak sehari hanya beberapa jam saja mungkin masih bisa membangun quality time, tetapi kalau dalam jangka waktu satu bulan, satu minggu, biasanya anak akan lebih dekat dengan orang yang tinggal bersamanya,” pungkasnya. **

 

Berita Terkait