Pengakuan Pelaku Silvianus Pitus pada Pontianak Post

Pengakuan Pelaku Silvianus Pitus pada Pontianak Post

  Kamis, 20 Oktober 2016 09:30
Minta Maaf: Surat yang ditulis tangan oleh Silvianus Pitus, berisi permintaan maaf atas perbuatannya.

Berita Terkait

Ini Spontan Saja Saya Lakukan

SANGGAU – Silvianus Pitus, hanya diam dan terlihat linglung saat ditemui Pontianak Post, Rabu (18/10) malam. Raut wajah pelaku penggelapan uang KUD Tut Wuri Handayani Kecamatan Mukok senilai Rp8,4 miliar itu menggambarkan betapa dia lelah sekali malam itu. Sebelum memulai wawancara, Pontianak Post mencoba mencairkan suasana agar tidak terkesan kaku dengan sedikit bergurau dengannya. Dengan begitu, dia bisa sedikit lebih rileks saat diwawancarai.

“Saya tidak tahu mengapa bisa jadi seperti ini,” itulah kata Pitus memulai ceritanya. Entah pikiran apa yang merasuki dirinya. Saat berangkat untuk mengambil uang di bank yang ada di Kota Sanggau, Pitus mengaku sama sekali tidak punya niat untuk menggelapkan uang yang menjadi hak dua ribu petani itu. 

Dia memang mengaku sedang tertekan karena berbagai persoalan yang dihadapinya belakangan ini. Namun enggan dijelaskannya secara detail permasalahan tersebut karena sifatnya privasi. 

Pitus berangkat dari Mukok dengan mengendarai mobilnya Senin (17/10).  Pada siang hari dia tiba di kota Sanggau dan langsung menuju bank.

Di bank itu, Pitus sempat marah-marah terhadap layanan pihak bank karena mencairkan uang dengan jumlah banyak tidak di ruang khusus. Bahkan ditonton oleh banyak nasabah lain. 

Dia mengaku sudah komplain kepada teller bank, tetapi masih saja tetap dilakukan di ruangan tersebut. Akhirnya dia mengikuti saja kemauan pihak bank. Setelah selesai dicairkan, uang tersebut dimasukkan ke dalam karung. Dia tidak ingat ada berapa karung untuk membungkus uang miliaran tersebut. 

Bersama dengan satpam bank, dia memasukkan uang tersebut ke mobil melalui pintu belakang. Setelah itu dia langsung masuk ke mobil dan mengendarai mobilnya tersebut. Dia ingat punya janji dengan rekannya, JK di sebuah kedai kopi. Rekannya itu berencana ke Mukok dan hendak menumpang mobilnya. 

Aneh, lanjutnya, berniat menemui rekannya, dia malah bablas ke jalan menuju rumahnya. Akhirnya, dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah di Jalan Bujang Malaka. Dia mengabari rekannya akan segera menjemputnya beberapa waktu ke depan. 

Sampai di rumah, tidak ada siapapun. Menurutnya, dia berada di rumah sekitar 45 menit. Uang Rp8,4 miliar itu masih di dalam mobil. Sementara dia hanya duduk-duduk sambil menghisap rokoknya. Pikirannya saat itu kosong. Seperti tidak sedang memikirkan apapun. Dalam kurun waktu itu - sebelum berangkat kembali ke Mukok- dia memindahkan sebagian uang yang ada di mobil KB 761 D ke dalam rumah. 

“Iya memang saya pindahkan. Tapi saya juga bingung mengapa bisa jadi begitu. Pikiran saya betul-betul kosong,” ujarnya. 

Ternyata, Pitus tidak hanya menyimpan uang itu di rumahnya senilai Rp4,7 miliar melainkan lebih dari perkiraan. Total yang disembunyikannya Rp6,1 miliar. Uang yang disimpan di bawah tempat tidurnya berjumlah Rp4,7 miliar. Sisanya disimpan di sebuah koper di tempat lain yang keluarganya pun tidak tahu. Bahkan saat tim dari kepolisian menggeledah rumah tersebut tidak menemukannya.

“Saya simpan di rumah itu juga. Tapi tempatnya saya tidak beritahukan kepada siapapun termasuk polisi saat menggeledah rumah,” katanya mengakui. 

Pontianak Post coba mendesaknya. Tetapi dia enggan mengatakannya. “Mengapa?” tanya saya. Dia tetap tidak mau dan memilih diam. Saya kemudian berpikir mungkin itu tempat rahasia yang hanya diketahui olehnya. Tapi dia berjanji mengambil uang tersebut untuk diserahkan kepada polisi. 

Kembali lagi, setelah menyimpan uang-uang senilai Rp6,1 miliar itu, dia langsung menuju kedai kopi di mana rekannya telah menunggu. Di dalam mobil itu masih tersisa uang sekitar Rp2 miliar. Sampai di sana, tidak berselang lama, Pitus dan rekannya langsung meluncur ke Mukok dengan mobil yang dikemudikan oleh Pitus. 

Sesampainya di Desa Semuntai atau tidak jauh dari simpang jembatan Semuntai, mobil yang dikemudikan Pitus berhenti di dekat jembatan arah menuju Mukok untuk buang air kecil. Saat turun buang air kecil, rekannya sedikit agak jauh dari mobil. Sedangkan dia buang air kecil tepat di sebelah kanan mobilnya. 

Dengan pikiran yang tak menentu, dan tidak ingin timbul kecurigaan dari rekannya, saat itulah dia beraksi. Dia membuka pintu belakang. Spontan dia ingat bahwa di bagian belakang mobilnya masih ada bbm jenis pertalite di dalam jeriken yang dibungkus plastik. Pertalite itu sisa saat mengisi motornya beberapa minggu lalu. 

Menurut Pitus, ide membakar itu muncul dalam waktu sangat singkat. Dia mengambil jeriken itu dan memiringkan posisinya serta mengendurkan tutupnya sehingga pertalite itu tumpah sedikit membasahi plastik yang membungkus jeriken tersebut. Setelah itu, dia menyulutnya dengan korek api gas. Api pun menyala dan dia kembali menutup pintunya. 

Dari kejauhan, rekannya menuju mobil. Kemudian, seolah mencium bau bensin, dia meminta rekannya untuk memeriksa apakah ada bensin tumpah dari tangki mobil karena bocor. Rekannya pun kemudian memeriksanya tetapi tidak ada yang bocor. 

Rekannya kemudian melihat asap dari bagian belakang dalam mobil. Mereka kemudian buru-buru membuka pintu mobil dan mendapati api sudah menyala dan membakar bagian belakang di dalam mobil termasuk kursi belakang sebelah kanan. Mereka pun berusaha memadamkan api tersebut. Warga yang rumahnya tidak jauh dari lokasi juga kemudian menolong mereka. Pitus pun kemudian melapor ke Mapolsek Mukok. 

Pitus kemudian menghubungi rekannya, HP yang ada di Sanggau untuk membantunya menderek mobil tersebut. Tidak berselang lama kepolisian datang ke lokasi kejadian untuk melakukan pemeriksaan. HP yang diminta Pitus menderek mobilnya berangkat dari Sanggau menuju lokasi dengan mengendarai mobil hilux. Saat rekannya itu tiba, warga dan kepolisian sudah lebih dulu berkerumun di lokasi tersebut. 

Oleh kepolisian setempat, mobil Pitus dibawa ke Mapolsek Mukok. Saat itu yang disuruh membawanya adalah HP. Sementara Pitus mengendarai mobil yang awalnya dibawa oleh  rekannya tersebut. 

Sebelum mobil dibawa ke Mapolsek, uang-uang yang berada di mobil dikemas terlebih dahulu menggunakan karung. Hanya saja menurut dia masih ada uang satu ikat bernilai Rp100 juta tercecer di bawah kursi mobil. Uang itu diambil oleh Pitus dan dimasukkan ke dalam tasnya. 

Di dalam perjalanan menuju Polsek Mukok, tas berisi uang Rp100 juta itu dia simpan tidak jauh dari tempat duduk sopir. Sesampainya di Polsek Mukok, tas tersebut lupa dibawa keluar. Saat itu semua tas dan telepon genggam milik Pitus dan juga rekannya disita polisi. 

Setelah itu, Hadi pulang ke Sanggau dengan menggunakan mobilnya. Pitus mengaku lupa memberitahukan kepadanya kalau ada tas berisi uang di mobilnya. Sehingga rekannya itu terseret dalam kasusnya tersebut. 

Dia menyesal telah melibatkan dua rekannya tersebut. Dan dia menjamin bahwa dua rekannya itu -JP dan HP- tidak terlibat dalam kasus tersebut. Hal ini juga telah disampaikan kepada kepolisian dan berharap dua rekannya itu bisa dibebaskan dari jerat hukum. 

Pontianak Post kemudian melanjutkan pertanyaan mengenai uang tersebut mau digunakan untuk apa. Dia sempat tertegun, namun dengan tenang dia menjawab “Saya tidak tahu mau pakai untuk apa itu uang”.

“Saya tidak tahu mas. Karena ini spontan saja kejadiannya. Saya juga tidak ada gunakan uangnya serupiah pun. Saya minta maaf kepada mereka yang telah dibuat susah karena perilaku saya ini,” ujarnya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. 

Pada Pontianak Post Pitus mengatakan akan mengembalikan semua uang milik para petani tersebut dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Dirinya juga menyatakan menyesal dengan perbuatannya yang merugikan banyak pihak ini.  (sgg)

Berita Terkait