Pendidikan Sebagai Potret Kehidupan

Pendidikan Sebagai Potret Kehidupan

  Jumat, 18 March 2016 10:37   720

FAKTA menunjukkan bahwa pendidikan kita bertugas menghasilkan tamatan yang memiliki kemampuan kognitif semata. Praktik pendidikan hanya berorientasi pada otak, mengabdi UN, dan menghamba ijazah. Pendidikan hanya diartikan sekadar pengajaran (transfer of knowledge). Hakikat belajar untuk hidup dinafikan. Proses pematangan berpikir, bernalar, beraktualisasi dan berkomunikasi hanyalah pura-pura, formalitas, rutinitas, tidak substantif dan mendalam.  

Praktik pendidikan tidak memberi peluang seluas-luasnya untuk mengembangkan kemanusiaan peserta didik. Pendidikan hanya mendorong ambisi egoistik, tidak peduli pada kepentingan sesama, hanya berorientasi pada nilai-nilai angka kuantitatif. Kriteria keberhasilan seseorang harus distandarkan, siapa yang memenuhi standar dan siapa yang tidak. Anak tidak dihargai lagi sebagai pribadi, sebagai manusia yang utuh dan unik. Mereka dijadikan ‘barang produksi’ yang harus memenuhi standar tertentu. Ketika tidak memenuhi standar mereka dicampakkan.

Apa jadinya anak bangsa negeri ini jika mereka tidak mendapatkan pemahaman yang benar tentang hakikat pendidikan yang sesungguhnya? Bukankah dengan demikian  upaya ke arah optimalisasi kemanusiaan manusia peserta didik menjadi insan-insan yang cerdas (dalam arti yang seluas-luasnya), berwatak, berpribadi, berohani, bermoral, dan bertoleransi itu semakin jauh dari harapan?

Pendidikan adalah pertaruhan masa depan sebuah bangsa. Belajar dari pengalaman bangsa-bangsa yang maju, pendidikan adalah solusi fundamental dari keterpurukan bangsa. Oleh sebab itu, kebijakan pendidikan harus sungguh disusun secermat mungkin. Falsafah tentang hakikat manusia, realitas kehidupan, dan bagaimana “ilmu sekolah” dapat berdampak positif dalam peradaban manusia sungguh harus diperhatikan.

Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan harus menukik ke akar persoalan utama yang menyebabkan carut-marutnya pendidikan kita. Adakah implementasi kebijakan pendidikan kita sungguh berpijak (berlandaskan) paradigma pendidikan yang benar? Ini penting mengingat paradigma pendidikan yang keliru akan membawa kehancuran.

Dalam konteks kebijakan Unas misalnya, banyaknya siswa kita yang gagal unas (tidak memenuhi standar kompetensi yang disyaratkan) hendaknya dijadikan momentum untuk memandang pendidikan bukan sebagai medan laga pertandingan para gladiator, petarung yang unggul sekaligus penyingkiran yang lemah, penyiapan para calon juara, tetapi tempat penyemaian benih-benih toleransi, tempat satu sama lain saling tergantung dan melengkapi. Lahan bagi siapa saja dengan segala keunikannya masing-masing boleh berperan dan memberikan kontribusi.

Pendidikan adalah potret kehidupan itu sendiri, tempat satu sama lain saling tergantung dan melengkapi. Tak ada lagi yang kuat dan yang lemah. Yang ada adalah setiap pribadi yang bebas mengembangkan diri sesuai dengan keunikannya. Semangat untuk “memenangkan diri dengan mengalahkan orang lain” diganti dengan “kemenangan diri karena kontribusi orang lain”. Sesamaku bukan lawan yang harus kukalahkan, melainkan mitra yang sangat kuperlukan untuk meraih kemuliaan bersama ( lih.Paulus S., 2002).

Antara siswa yang satu dengan lainnya bukan lagi diadu, dipertandingkan, diseragamkan, distandarkan, dikolektifkan, dikontestasikan, melainkan diajak untuk saling bekerja sama dengan menghargai segala keunikannya, saling menolong, saling tergantung, dan melengkapi satu sama lain.

Pendidikan hendaknya mengedepankan ilmu pengetahuan humaniora. Perilaku humaniora mencakup daya nalar, daya cipta-rasa, daya juang, daya spiritualitas, dan daya hidup. Di dalamnya eksistensi manusia sebagai pribadi tercipta (being created). Di dalamnya, manusia (baca: para siswa) diarahkan untuk mencintai sesama (man for others), memahami kehidupan bersama dan berusaha menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

Anak (siswa) difasilitasi untuk memahami potensi dan pengalaman belas kasih, empati-simpati, kepedulian, keadilan dan kedamaian (justice and peace), competence, partisipasi, solidaritas, pengharapan, kepercayaan, etika, pengakuan kesetaraan martabat manusia dan hormat kepada pribadi manusia. Ini penting karena nilai-nilai kehidupan inilah yang mengantar siswa sebagai pribadi-(pribadi) kepada suatu citarasa: mengenal kehidupan (knowing), memperhatikan kehidupan (caring), mencintai kehidupan (loving), dan berbagi kehidupan (sharing) (Bdg.  Rm. Alberto Djono Moi O,Carm., 2002).

Pendidikan hendaknya bermuara pada kehidupan manusia karena manusia merupakan sentrum segala-galanya. Pendidikan yang baik haruslah berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan karena manusia adalah pemberi makna kepada segala-galanya. Itulah sebabnya, membangun sistem pendidikan yang lebih berorientasi pada manusia dengan segala keunikannya itu adalah suatu keniscayaan. Penyeragaman, penyamarataan dalam pendidikan adalah kesalahan yang paling besar terhadap anak. Anak bukan barang produksi. Anak adalah persona yang mesti dimuliakan.

* Penulis Seorang Pendidik, Alumnus USD Yogyakarta, Humas SMP santo F. Asisi, Tinggal di Kota Pontianak

 

 

Drs. Y Priyono Pasti

Saya adalah seorang guru. Sejak tahun 1984, ketika saya masih kuliah saya sudah mengajar (menjadi guru) di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Sejak masih kuliah saya sudah melakukan aktivitas menulis. Bagi saya menulis merupakan aktivitas yang penting untuk sharing pengetahuan dan aktualisasi diri. Kini saya guru aktif di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Sebelumnya menjadi kepala SMA lebih kurang 11 tahun. Ikut berbagai kegiatan di Unit Yayasan Pancur Kasih. Pernah mewakili Yayasan Pancur Kasih mengikuti kegiatan CCFD di Perancis tahun 2003.