Pendidikan di Indonesia Belum Menghasilkan Orang yang Merdeka

Pendidikan di Indonesia Belum Menghasilkan Orang yang Merdeka

Jumat, 19 Agustus 2016 09:15   547

TEPAT pada tanggal 17 Agustus 2016, Indonesia telah merdeka 71 tahun. Itu berarti 6 tahun lebih tua dari umur saya. Banyak pembicaraan, baik di media massa, media sosial maupun diskusi langsung tentang kemerdekaan. Banyak pertanyaan dan komentar yang muncul. Pada umumnya diwarnai oleh keprihatian akan ‘rasa kebangsaan yang memudar’. Benarkah? Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan ini. Tetapi, mengajak kita semua berpikir ‘merdeka’.

Walaupun sejak proklamasi tentang Indonesia menjadi nagara yang merdeka hingga kini kurikulum pendidikan dasar dan menegah telah diubah sebelas (11) kali, tetapi dasar filosofinya belum berubah. Filosofi pendidikan selama 71 tahun ini masih didominasi oleh tradisi behaviorisme. Dalam tradisi behaviorisme, hasil pendidikan diberi label ‘benar dan salah’. Yang ‘benar’ adalah yang sesuai dengan yang telah ditetapkan dan sebaliknya yang ‘salah’ adalah yang tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan. 

Pendidikan dianggap berhasil jika menghasilkan yang ‘benar’. Siapa yang memiliki wewenang menetapkan yang ‘benar’ dan yang ‘salah’? Mereka yang duduk ‘di atas’, mereka yang menjadi anggota kelompok ‘dominan’ yang mempunyai wewenang menentukan yang ‘benar’ dan yang ‘salah’. 

Agar yang ‘benar’ itu sungguh sampai dan sungguh terwujudkan pada peserta didik maka para pakar pendidikan memilih pedagogi yang bersifat ‘instruktur’, satu arah dari ‘atas’ – si pemilik kebenaran ke arah ‘bawah’ – si penerima kebenaran. Proses pembelajarannya mengalir  dari penyajian defisi suatu konsep, contoh dan bukan contoh, serta soal-soal latihan. 

Demikian juga evaluasi belajar. Untuk memastikan bahwa yang ‘benar’ itu sungguh sampai dan sungguh terwujud setelah peserta didik menjalani proses pembelajaran, para pakar pendidikan memilih evaluasi hasil belajar yang bersifat reproduksi pengetahuan - mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari. Sehingga, pertanyaan tentang definisi mendominasi seluruh pertanyaan ulangan atau ujian. Kebenaran jawaban ditetapkan seberapa jauh kesamaannya dengan definisi yang telah disampaikan selama pembelajaran. 

Dalam konteks memaknai kemerdekaan, maka model pendidikan dalam tradisi behaviorisme semacam ini sangat tidak merdeka. Yang ada semangat menirukan dan memperbudak diri untuk mengikuti apa yang telah diterima oleh para pendidik. Tidak peduli apa isinya. Yang penting jika sesuai dengan yang diajarkan nilai yang baik sudah di tangan. Maka, proses pendidikan yang bersangkutan berlangsung sangat lancar, lulus SD, lulus SMP, lulus SMA, lulus S1, lulus S2 dan akhirnya juga lulus S3. Karena itu, sering dijumpai di masyarakat suatu bisisk-bisik lemah, ‘pendidikannya tinggi  tetapi kinerjanya kok seperti itu, ya’.

Menteri pendidikan yang baru, Prof Muhadjir Effendy akan lebih baik menyelesaikan ini labih dahulu ketimbang merancang ‘full day schooling’. Semoga!

Leo Sutrisno