Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Kaki Gajah

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Kaki Gajah

  Jumat, 29 January 2016 08:46   8,578

Beberapa istilah dalam pencegahan dan pengobatan penyakit kaki gajah (elephantiasis) seperti :1).Filariasis adalah orang  yang sudah terkena infeksi mikrofilaria didalam tubuh tetapi belum menunjukkan gejala pembengkakan di kaki, tangan, mame, skrotum, tetapi dapat menular ke orang lain  melalui gigitan nyamuk. 2). Elephantiasis adalah orang yang sudah terinfeksi mikrofilaria di dalam tubuh dan sudah timbul gejala gejala pembengkakan di kaki,tangan, mame,skrotum karena karena mikrofilaria yang sudah menjadi cacing dewasa menyumbat saluran kelenjar getah bening di ketiak,pangkal paha, sehingga terjadinya bendungan pada daerah tersebut.

Di indonesia ada 3 spesies cacing darah (mikrofiaria), yaitu Wuchereria Banchrofti (WB), Brugia Malayi (BM) dan Brugia Timori (BT). Kalimantan Barat berdasarkan hasil survey terdahulu dengan pengambilan darah jari pada malam hari pada penduduk pesisir pantai dan pedalaman (1980) di temui spesies Wuchereria Banchrofti  dan Brugia Malayi.  Infeksi spesies WB gejalanya dan akibatnya lebih berat dari BM. Sedangkan spesies BM bersifat zoonotik sehingga sulit diberantas karena dapat menginfeksi kucing,kera, anjing dan manusia. Siklus penularan ini yang sulit diputuskan,untuk memberantasnya harus membunuh binatang tersebut.

Vektor penular untuk daerah Kalimantan Barat  untuk daerah perkotaan yaitu nyamuk culek fitigan yang biasa hidup di air got,comberan, parit parit dan untuk daerah pedesaan di dominasi olah nyamuk mansonia biasa hidup didaerah rawa rawa.

Akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini antara lain 1). Menyebabkan sakit dan hilangnya jumlah hari kerja sehingga tidak produktif, terutama para  petani, buruh pekerja lainnya (contoh ril ; seorang petani terkena filariasis, maka setiap  bulannya akan mengalami demam selama 2 – 4 hari, rata rata 3 hari, untuk satu tahun berarti  3 x 12 = 36 hari tidak bekerja (tidak produktif), dapat dibayangkan jika jumlah petani yang  menderita filariasis ribuan, coba hitung hari tidak produktif.

2). Menyebabkan cacat pada kaki, tangan menimbulkan beban mental , tidak produktif dan akhirnya menjadi beban keluarga. Upaya pencegahanyang dapat dilakanakan oleh individu maupun keluarga. Membersihkan got, selokan secara gotong royong agar air dapat lancar mengalir tidak tergenang.

Memasukan ikan pemakan jentik di rawa rawa sehingga jentik jentik nyamuk tidak bisa berkembang biak.
Menghindari gigitan nyamuk pada malam hari, memakai baju lengan panjang /jaket jika keluar rumah, menggunakan lotion obat nyamuk.
Memasang kasa nyamuk pada ventilasi kamar tidur, tidak membiarkan baju, kain bergantungan disembarang tempat  memudahkan nyamuk bersembunyi.
Memeriksakan diri secara rutin setiap 6 bulan sekali, khususnya darah tepi pada malam hari.
Memakan obat filariasis (diethyl carbamacine) yang diberikan petugas dalam pengobatan massal  secara teratur dan kontinyu.

Pengobatan massal filariasis dilakukan biasanya berdasaran indikator penemuan gejala gejala klinis, penderita elephantiasis di masyarakat dan di konfirmasi hasil survey darah jari pada malam hari ditempat tersebut, hasilnya  mikrofila rate diatas 1% di anggap endemis filaria.

Pengobatan massal pada penduduk arah endemis filaria bertujuan. 1). Membunuh  mikrofilaria  dalam tubuh penderita filariasis agar tidak menyebabkan sakit dan cacat.

2). Menurunkan jumlah mikrofilaria dalam tubuh masyarakat secara serentak sehingga mikro  filaria dalam batas terendah akibatnya nyamuk tidak dapat menularkan kepada orang lain.

3). Membunuh dan memandulkan cacing dewasa yang ada pada kelenjar lymphe sehingga  produksi mikrofilaria dalam tubuh yang merupakan sumber penularan tidak ada lagi.

Makan obatdiethyl carbamacine khusus obat filaria pada penduduk endemis filaria, biasanya akan menimbulkan gejalagejala :  1). Demam 2-3 hari, biasanya terjadi karena  mikro filaria dalam tubuh cukup banyak, begitu mikro filaria mati akibat makan obat, mikro filaria  yang mati dianggap benda asing oleh tubuh maka tubuh bereaksi mengeluarkan mikrofilaria tesebut dari seluruh tubuh. Reaksi tersebut  biasanya berupa demam.

 2). Reaksi Allergi, setelah makan obat filaria  terasa gatal gatal diseluruh tubuh, mual,muntah

atau diare.  3). Timbul abses pada lipatan paha, skrotum setelah beberapa hari makan obat, biasanya karena  cacing dewasa filaria mati, karena sulit dikeluarkan tubuh maka timbul reaksi lokal. Dalam pengobatan massal filariasis ini tentu di dampingi oleh dokter dan paramedis Puskesmas yang pengetahuan dan kemampuannya  tidak diragukan lagi.

 

*)Mardjan

Pengamat Kesehatan Masyarakat

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas muhammadiyah Pontianak