Pencabulan Bocah, Lingkungan Cuek Jadi Pemicu

Pencabulan Bocah, Lingkungan Cuek Jadi Pemicu

  Sabtu, 14 May 2016 15:25

Berita Terkait

SURABAYA – Polrestabes Surabaya tak ingin setengah-setengah dalam mengusut kasus pencabulan oleh delapan bocah SD dan SMP terhadap temannya yang juga siswi SMP. Selain mengorek keterangan dari korban dan pelaku kasus yang menggegerkan kalangan orang tua di Surabaya itu, unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) polrestabes akan meminta keterangan pengurus RT dan RW di kampung tempat korban dan pelaku tinggal.

Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni mengatakan bahwa pihaknya tidak hanya memeriksa para pelaku dan meminta keterangan korban. Satu hal yang masih menjadi pertanyaan besar adalah tak acuhnya warga sekitar. ”Mereka tidak pernah tahu bahwa AS cs (julukan kelompok delapan bocah, Red) sampai tega mencabuli Bunga (nama samaran korban, Red),” ujarnya di Mapolrestabes Surabaya kemarin.

Ruth Yeni menegaskan bahwa anak tidak bisa sepenuhnya disalahkan dalam peristiwa pencabulan itu. Lemahnya kontrol sosial merupakan faktor utama. Mulai kurangnya pengawasan orang tua, warga, sampai kurangnya lahan bermain anak. ”Tidak menutup kemungkinan akan kami periksa, pelan-pelan. Kalau pemeriksaan pelaku cepat beres, bisa jadi pengurus kampung kami panggil minggu depan,” tutur polisi asal Banyuwangi tersebut.

Seperti diberitakan, Kamis siang (12/5) polisi menjemput satu per satu korban dan pelaku pencabulan yang seluruhnya masih belia dari sekolah masing-masing. Itu dilakukan setelah polisi menerima laporan ada delapan bocah yang diduga melakukan aksi pencabulan di kawasan sekitar Ngagel, Surabaya. Pelaku paling muda berumur 9 tahun yang baru kelas III SD, sedangkan yang tertua berusia 14 tahun (kelas III SMP). Delapan pelaku pencabulan tersebut adalah MI, 9; MY, 12; JS, 14; AD, 14; BS, 12; LR, 14; AS, 14; dan HM, 14. Mereka tinggal di satu lingkungan yang sama, yakni daerah Kalibokor, Surabaya. Sementara itu, korban pencabulan juga masih bau kencur. Bunga baru berumur 13 tahun dan duduk di kelas I SMP.

Keluarga Berantakan

Untuk menemukan akar penyebab kenapa kasus pencabulan oleh bocah dengan korban bocah itu terjadi, koran ini menelusuri lingkungan terdekat pelaku dan korban. Yakni, kampung halaman dan sekolah tempat belajar.

Sasaran pertama penelusuran adalah AS. Berdasar keterangan para pelaku dan korban di kepolisian, bocah 14 tahun yang baru ikut unas SMP itulah yang memulai aksi pencabulan dan menyeret tujuh tersangka lainnya untuk ikut melakukan kebejatan yang sama terhadap Bunga. AS, di lingkungan tempat tinggalnya, dikenal tetangganya sering terlihat mabuk-mabukan.

AS tinggal di gang sangat sempit di daerah Kalibokor. Rumahnya cukup sederhana. Berlantai dua dengan tembok-tembok yang belum selesai disemen. AS merupakan anak kedua di antara tiga bersaudara di keluarganya. Dia punya kakak perempuan yang sudah diusir dari rumah oleh orang tuanya. Di rumah yang sederhana dan ”minim” perabotan itu, AS tinggal bersama ayah, ibu, dan satu adiknya.

Ekonomi AS terbilang susah. Ayahnya hanya bekerja sebagai pendorong bak sampah di Pasar Turi, Surabaya. Ibunya sehari-hari bekerja serabutan. Dengan upah yang pas-pasan itu, orang tuanya harus menghidupi AS dan adiknya, baik untuk sekolah maupun makan sehari-hari.

Hidup di keluarga yang miskin membuat AS kurang mendapat perhatian sebagaimana anak remaja lainnya. Rasa haus perhatian itu dilampiaskan AS dengan mencari perhatian ke lingkungan di luar keluarga. Apes, lingkungan di luar rumah AS sangat buruk. Di sana kerap terlihat anak-anak muda yang mabuk-mabukan. Itu membuat AS terjerumus.

Salah seorang tetangga mengatakan tidak kaget jika AS terlibat tindak kriminal. Kelakuannya yang kerap mabuk-mabukan membuat warga resah. Mereka sudah sering menasihati AS atas perbuatannya tersebut. ”Tapi, dasare arek nakal, tidak bisa dibilangi,” ujar seorang tetangganya.

Selain AS, tersangka lain yang mendapat cap nakal oleh lingkungannya adalah MI. Menurut pengakuan teman sebayanya, pelaku termuda –baru berumur 9 tahun dan duduk di kelas III SD– itu kerap berkata kotor saat bermain. MI juga dikenal sebagai penggila PlayStation (PS) dan rajin ke warnet. ”Sering main PS, kadang pergi ke warnet sendirian,” ucap anak tersebut.

Hal berbeda justru terjadi pada tersangka HM. Bocah yang seumur dengan AS itu dikenal warga sering ikut kegiatan keagamaan di masjid kampung. Misalnya, mengaji dan mengikuti kasidahan. HM juga disebut-sebut memiliki sifat yang baik. Dia justru menghabiskan banyak waktunya untuk kegiatan positif daripada bermain dengan teman sebayanya.

Tertangkapnya HM sebagai salah seorang tersangka pencabulan cukup mengagetkan warga di sekitar tempat tinggalnya. Seorang tetangga di dekat rumahnya menuturkan, walau tinggal berhadap-hadapan dengan tersangka AS, HM jarang terlihat bermain bersama dengan tersangka utama tersebut. ”Paling bal-balan. Itu juga banyak anak-anak lainnya, termasuk si cewek (Bunga, Red),” katanya.  

 

Nenek Cuek

Seperti koin yang memiliki dua sisi yang berbeda, begitu pula kehidupan korban pencabulan delapan tersangka di bawah umur, Bunga. Dikenal pendiam di sekolah, Bunga justru terlihat nakal di lingkungan rumahnya. Dia justru sering bergaul dengan teman-teman pria daripada perempuan.

Bersekolah di salah satu SMP swasta di Surabaya, Bunga cenderung menjadi siswi yang cuek di kelasnya. Bahkan, dari penelusuran Jawa Pos kemarin (13/5), korban jarang bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Dia lebih memilih beberapa teman di kelas yang berbeda dengan dirinya. ’’Sering datang ke kelas lain. Teman-temannya ada di sana semua,’’ ungkap seorang teman sekelas Bunga kepada Jawa Pos.

Bunga juga dikenal pemalas. Segala tugas dan PR yang diberikan gurunya tidak pernah dikerjakan. Hal itu diungkapkan wali kelas Bunga. Dia mengaku jengkel dengan kemalasan Bunga. Padahal, sudah beberapa kali nenek Bunga dipanggil ke sekolah karena kebiasaan cucunya tersebut. ’’Tapi, tetap saja dia tidak pernah nggarap PR,’’ ujar sang wali kelas.

Dia juga mengungkapkan, untuk masalah berdandan, Bunga terlihat lebih ’’mencolok’’ jika dibandingkan dengan teman-temannya. Dia kerap memakai bedak yang berlebihan. Hasilnya, penampilan Bunga sehari-hari bisa dikatakan menor.

Lucunya, menurut penuturan sang wali kelas, bedak yang digunakan Bunga adalah bedak bayi, bukan bedak untuk make-up pada umumnya. ’’Saya pernah menegur. Saya tanya pakai bedak apa kok putih sekali. Eh, dia menunjukkan bedak bayi,’’ ujarnya, lantas tertawa.

Namun, dia mengaku tidak terlalu mengenal delapan tersangka yang menyetubuhi muridnya tersebut. Hanya pelaku utama, AS, yang memang bersekolah di sekolah yang sama dengan Bunga. Bedanya, AS sudah menginjak kelas 3, sedangkan Bunga masih kelas 1.

’’Saya pernah tahu dia (tersangka AS, Red), tapi tidak mengerti kalau perilakunya seperti itu. Di sekolah tidak ada hubungan yang mencolok dengan Bunga,’’ terangnya saat ditemui Jawa Pos kemarin.

Jika di sekolah dikenal para guru sebagai siswi pendiam, di lingkungannya, Bunga justru sebaliknya. Di rumahnya di daerah Kalibokor, Bunga dikenal para tetangga sebagai gadis ’’centil’’. Hidup berdua dengan sang nenek, Bunga kerap keluar bermain dengan pria daripada perempuan. Rumahnya yang tepat di belakang rumah AS membuat Bunga terlihat sering keluar bersama tersangka utama itu.

Hal tersebut diungkapkan ayah salah seorang tersangka pencabulan berinisal HM. Kepada Jawa Pos, dia mengungkapkan, Bunga sering terlihat bersama AS. Bunga juga lebih memilih bermain dengan teman-teman pria lainnya. Misalnya, sepak bola dan cangkruk. ’’Rumahnya dekat. Pokoknya, ke mana-mana Bunga itu selalu sama AS dan teman-teman cowok lainnya,’’ ujarnya.

Saat ditanyai soal ibu Bunga yang mantan PSK, ayah tersangka HM itu mengaku tidak tahu. Dia hanya menuturkan, sejak kecil, Bunga memang tinggal bersama sang nenek. Sepengetahuan dia, ayah dan ibu Bunga bercerai. ’’Saya tahunya cuma orang tuanya cerai. Itu saja. Tentang mantan PSK atau bukan, saya tidak mau menjawab,’’ katanya.

Warga tidak pernah sampai menegur nenek Bunga. Sebab, mereka tidak ingin mempunyai masalah dengan orang lain. Paling banter, tetangga Bunga hanya rasan-rasan. Selain itu, warga sekitar sebenarnya juga merasa iba melihat keluarga Bunga. Sebab, sejak kecil Bunga tidak mengenal sosok ayah. Ibunya pun cuek. ’’Mau ngingatkan neneknya itu juga kasihan,’’ tambahnya.

 

Perlakuan Berbeda

Kemarin penanganan berbeda diberlakukan polisi kepada para tersangka pencabulan terhadap Bunga. Kepolisian memutuskan untuk mengembalikan enam pelaku kepada orang tuanya, sedangkan dua lainnya dititipkan di selter anak.

Penyidikan bakal terus berlanjut. Namun, para tersangka tidak akan ditahan. Soal putusan hukuman nanti, hal itu menjadi wewenang pengadilan. ’’Para orang tua pelaku menjadi penjamin bahwa mereka akan berkelakuan baik,’’ ujar Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya Kompol Manang Soebeti kemarin.

Selama penyidikan, polisi memberlakukan wajib lapor kepada para tersangka. Mereka diminta mendatangi Mapolrestabes Surabaya setiap Senin dan Kamis. Para tersangka tersebut juga akan tetap didampingi orang tua mereka.

Kemarin sekitar pukul 09.00, para orang tua pelaku kembali mendatangi Mapolrestabes Surabaya. Mereka menjemput putra-putra mereka yang sempat dititipkan di selter anak pada Kamis malam.

Tidak hanya menjemput, mereka juga kembali diberi pengarahan oleh polisi di ruang rapat Satreskrim Polrestabes Surabaya, lantai 3 Gedung Anindita. Pengarahan tersebut berlangsung tertutup bagi awak media. Namun, dari kaca jendela, Jawa Pos melihat ada beberapa orang tua yang menangis sambil merangkul anaknya.

Total ada enam anak yang diizinkan pulang. Dua lainnya ditempatkan di selter. Keduanya adalah AS dan HM. ’’Mereka butuh penanganan lebih karena tingkat kenakalannya paling parah jika dibandingkan lainnya,’’ terang Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni. (rid/did/c10/kim)

Berita Terkait