Penanggulangan Kekerasan (Sekusal) terhadap Anak-anak

Penanggulangan Kekerasan (Sekusal) terhadap Anak-anak

Minggu, 22 May 2016 10:19   1

PADA Edisi 15 Mei 2016, disajikan sejumlah faktor yang dapat menimbulkan kekerasan (seksual) baik terhadap anak dan perempuan. Diantaranya adalah kondisi ‘anti-sosial’ lingkungan rumah, kondisi ‘anti-sosial’ sekolah, kondisi ‘anti-sosial’ masyarakat sekitar, video games yang menampilkan kekerasan, serta tayangan kondisi ‘anti-sosial’ di media massa dan media sosial. Pada sajian ini akan dibahas tentang sejumlah program internasional yang telah dilakukan untuk menanggulangi kekerasan semacam ini.

Marije Stoltenborgh, Marinus H. van Ijzendoorn, Eveline M. Euser, dan  Marian J. Bakermans-Kranenburg dari Centre for Child and Family Studies, Universitas Leiden, Belanda (2011) memeta-analisis 217 laporan penelitian kekerasan terhadap anak di seluruh dunia yang terbit antara 1980 dan 2008. Meta-analisis ini mencangkup 9.911.748 anak. Ditemukan prevalensi rata-rata adalah 127/1000. Artinya, di antara 1000 anak ada 127 anak yang pernah mengalami kekerasan terhadap dirinya. Lebih rinci ditemukan bahwa prevalensi di kalangan anak perempuan lebih tinggi dibanding di kalangan anak laki-laki (180/1000 vs 76/1000). Kejadian terendah di Asia, 113/1000 di kalangan perempuan dan 41/1000 di kalangan laki-laki. Prevalensi paling tinggi di kalangan anak perempuan di Australia (215/1000) dan di kalangan anak laki-laki  di Afrika (193/1000). Temuan ini menkonfirmasi pendapat bahwa kekerasan terhadap anak-anak terjadi di seluruh dunia.

Paradise J.E. dari Bridgewater Goddard Park Medical Associates, Brockton, Massachusetts-AS (2001) menyatakan bahwa sebagian besar usaha penanggulangan kekerasan seksual terhadap anak dipusatkan pada pendidikan seksual di sekolah, khususnya pada perlawanan tindak kekerasan seawal mungkin sebelum kekerasan terjadi dan kemudian sesegera mungkin memberitahukan tindakan itu kepada orang-orang dewasa (yang sungguh dapat dipercaya). 

Sejauh ini ada dua kelompok program penanggulangan kekerasan seksual terhadap anak, yaitu: berbasis sekolah (Wurtele, S.K., 1987) dan berbasis keluarga (Beardslee, W. R., Gladstone, T. R., Wright, E. J., dan Cooper, A. B.,  2003). Tampaknya, perhatian para pembuat kebijakan lebih banyak diarahkan program penanggulangan kekerasan seksual terhadap anak-anak yang berbasis sekolah ketimbang yang berbasis keluarga. 

Davis, M.K, dan Gidycz, C.A. dari Department of Psychology, Universitas Ohio-AS, (2000), memeta-analisis 27 penelitian program penanggulangan kekerasan seksual pada anak-anak berbasis sekolah menghasilkan Effet Size rerata 1.07. Variabel moderator yang juga berpengaruh pada keberhasilannya adalah: umur, jumlah sesi pelatihan, keterlibatan aktif partisipan, serta perilaku yang dilatihkan. 

Beberapa meta-analisis  penelitian program penanggulangan kekerasan seksual berbasis sekolah yang lain: dilakukan Berrick (1992, 13 penelitian) menghasilkan Effect Size rata-rata 0.90, Heidiotting (1994, 18 penelitian) menghasilkan Effect Size rata-rata sebesar 0.57, Rispens (1997, 16 penelitian) menghasilkan Effect Sise 0.90 dan Campbell (2015, 24 penelitian) menghasilkan Effect Size sebesar 0.59.  

Rangkuman yang dibuat Campbell (2015) meliputi penelitian di AS, Kanada, China, Jerman, Spanyol, Taiwan dan Turki. Lama pelatihan berkisar antara satu kali 45 menit per sesi hingga delapan kali 20 menit per sesi.  Format penyampaiannya meliputi: film, video atau DVD, drama, nyanyian, pertunjukan boneka/wayang, komik, serta mewarnai gambar. Pengajarannya bervariasi misalnya: penjelasan singkat, main drama, diskusi, praktik, FGD, serta umpan balik. 

Program yang diimplementasi juga bervariasi. Diantaranya adalah: 

‘Behavioural Skills Training’, ‘Good Touch/Bad Touch’, ‘Red Flag/Green Flag’, ‘Child Abuse Primary Prevention Program’, ‘Child Sexual Abuse Prevention Program’, ‘Children Need to Know Personal Safety Training Programme’, ‘Good Secrets/Bad Secrets’, ‘No Child's Play’, ‘Prevention of Child Sexual Abuse Program’, ‘Project TRUST’, ‘Safe Child Program’, ‘Stop’, ‘Tell someone’, ‘Own your body’, ‘Protect yourself’, ‘TOUCH’, dan ‘Who Do You Tell?’

Hasil yang diharapkan berupa tingkah laku yang cocok untuk melindungi diri dari tindak  kekerasan seksual serta pengetahuan tentang kekerasan seksual, baik untuk jangka pendek (setelah mengikuti pelatihan) maupun  jangka panjang.  Disimpulkan bahwa program penanggulangan kekerasan seksual terhadap anak-anak efektif untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan peserta tentang penanggulangan kekerasan seksual.  

Inilah sejumlah program yang digunakan untuk menguatkan penanggulangan kekerasan seksual terhadap anak-anak, khususnya yang berbasis sekolah. Program yang berbasis keluarga sebaiknya dilakukan secara simultan dengan program yang dilaksanakan di sekolah ini. 

Disarankan juga agar dilakukan  program penanggulangan yang berfokus pada remediasi penyimpangan seksual para pelaku kekerasan seksual ini. Sebagai ilustrasi, pada suatu waktu ada suatu kampanye sekelompok pelaku kekerasan seksual di Vermont – AS  (sekitar 50) yang demonstrasi mencari  bantuan untuk meremediasi penyimpangan seksual yang dideritanya.  Semoga!**

Leo Sutrisno