Pemukulan Siswa dan Guru Tidak Dibenarkan

Pemukulan Siswa dan Guru Tidak Dibenarkan

  Sabtu, 13 Agustus 2016 10:58
Jusuf Kalla

Berita Terkait

JAKARTA – Kasus kekerasan di sekolah tidak bisa lagi dilihat dengan cara pandang lama yang menempatkan guru sebagai pihak yang paling benar. Sebab, sekarang sudah ada banyak aturan yang juga melindungi siswa atau anak didik dari kekerasan di sekolah.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan dulu memang ada anggapan yang sangat mengkultuskan guru. Bahkan, di kampung halamannya di Makassar juga ada satu petuah tentang penghormatan yang luar biasa pada guru. ”Zaman dulu mencela atap rumah guru pun jangan. Jangan sampai murid mencela apalagi memukul. Wah itu dosa besar sekali,” ujar JK, di kantor Wakil Presiden, kemarin (12/8).

Dia menjelaskan anggapan seperti itu bertahan cukup lama. Pada 1970-an, guru yang memukul murid dengan rotan pun dianggap hal yang lumrah.  Tapi, dengan berbagai peraturan baru seperti perlindungan anak, pemukulan siswa itu tidak dibenarkan lagi. ”Apalagi memukul guru, lebih tidak boleh lagi,” ujar JK.

Kasus yang teruangkap seperti di Sidoarjo dan Makassar perlu menjadi pelajaran bagi orang tua, guru, juga siswa dalam memahami arti kekerasan di dalam pendidikan. JK mendukung tindakan polisi yang telah mengambil tindakan untuk memperoses guru dan orang tua siswa.

Kasus pemukulan guru oleh orangtua siswa juga menuai respon dari PGRI. Plt Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan saat ini mereka sedang menyusun naskah akademis undang-undang perlindungan profesi. ’’Tidak hanya profesi guru. Kami juga berkoordinasi dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia, red),’’ katanya di Jakarta kemarin.

Menurut Unifah profesi guru dan dokter memang rentan terjadi gesekan dengan ’’konsumennya’’. Bagi doter rawan terjadi konflik dengan pasien. Sementara guru rentan terjadi seteru dengan siswa atau orangtuanya.

Unifah tidak memungkiri bahwa PGRI sudah mengkampanyekan supaya guru mengajar dengan penuh kesabaran. Tetapi jika di lapangan ada satu atau dua kasus guru yang reaktif terhadap siswanya, bukan berarti seluruh guru masih jelek mengajarnya. Dia menuturkan di lapangan sering sekali kesabaran guru benar-benar diuji oleh kelakuan siswanya.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Sumarna Surapranata menuturkan kasus pemukulan guru di Makassar harus diselesaikan dengan dua pendekatan. Yakni kekeluargaan dan penindakan hukum. Dia mengatakan jika pelaku pemukulan meminta damai, tidak otomatis menggugurkan proses hukumnya.

Seorang guru SMKN 2 Makassar bernama Dasrul bersimbah darah setelah dipukul oleh Adnan Ahmad. Adnan adalah orangtua siswa Dasrul. Adnan tidak terima perlakukan Dasrul, yang menurut penuturan anaknya telah melakukan hukuman fisik. (jun/wan)

Berita Terkait