PEMUDA PROGRESIF

PEMUDA PROGRESIF

  Sabtu, 14 May 2016 07:00   550

Usia 28 tahun, Tan Malaka menulis "Menuju Republik Indonesia (Naar de Republiek Indonesia). Usia 25 tahun, Soekarno menulis" Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme ". Tan Malaka dan Soekarno adalah anak-anak muda yang muncul pada era generasi emas Indonesia, generasi 1920-an. Inilah generasi yang secara otentik merefleksikan kaum muda progresif, kaum muda yang merobohkan kejumudan berpikir di jamannya.

Di tangan kreatifitas generasi 1920-an inilah Indonesia sebagai sebagai bangsa ditemukan, melalui sumpah pemuda. Bung Hatta menyebutnya sebagai "milestone" keindonesiaan.

Satu ciri utama generasi 1920-an adalah "melek literasi". Gemar membaca, berdiskusi dan menulis. Atmosfere literasi yang cukup memadai menjadikan kaum muda mempunyai kedalaman dan keluasan berpikir, terutama dalam mengkonstruksi keindonesiaan. Dengan kondisi itu, adalah wajar jika dalam usia muda Sukarno dan Tan Malaka sudah menghasilkan tulisan-tulisan monumental.

Lebih dari itu, melek literasi menjadikan kaum muda era 1920-an tumbuh sebagai pemimpin yang visioner; pemimpin yang membaca Indonesia dengan spektrum yang luas dan mendalam. Jelas, orang-orang seperti Bung Karno, Bung Hatta, atau Semaun bukanlah pemimpin-pemimpin karbitan. Mereka cukup mumpuni sebagai pemimpin, yakni tidak saja cakap dalam literasi tetapi juga terlibat dalam aksi-aksi rakyat.

Sekarang, mari kita tengok kaum muda Indonesia hari ini. Maret 2016 yang baru lalu, Connecticut State University merilis peringkat literasi negara-negara di dunia. Ada 61 negara yang diriset. Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara itu. Artinya, budaya literasi Indonesia sangat rendah, Indonesia hanya lebih baik dari Botswana.

Inilah realitas kaum muda Indonesia hari ini, kaum muda yang buta literasi. Saya yakin hanya sedikit kaum muda Indonesia hari ini yang sudah baca buku "Di Bawah Bendera Revolusi". Lebih sedikit lagi yang baca tulisan-tulisan Tan Malaka.

Padahal, dari pemikiran para pendiri bangsa itulah kita bisa paham mengapa Indonesia harus berdiri, mengapa republik ini harus merdeka. Kaum muda hari ini terputus pengetahuannya dengan pemikiran para pendiri bangsa, kehilangan sanad dalam bahasa pesantren.

Rendahnya literasi itu juga bisa kita baca dari celoteh atau komentar di media sosial, FB, twitter dan yang sejenis. Komentar-komentar kaum muda kita terhadap suatu masalah sangat dangkal, selalu ingin menang sendiri dalam beradu argumentasi; lebih sibuk selfie ketimbang berpikir jernih untuk kebangunan Indonesia.

Akhirnya, dengan kecakapan literasi rendah itu, Indonesia hanya menghasilkan pemimpin-pemimpin muda karbitan, pemimpin-pemimpin muda yang instan. Meskipun, ada beberapa pemimpin muda yang cukup progresif, tetapi tidak seprogresif generasi 1920-an. Untuk itu, dengan realitas ini, saya lebih tertarik untuk mendorong kaum muda Indonesia untuk mencintai literasi daripada mendorong mereka ramai-ramai masuk arena politik praktis. Berpolitik tanpa kecakapan literasi hanya akan menghasilkan politisi busuk, bukan negarawan.**

 

Herliyana Rosalinda

Dosen Universitas INDRAPRASTA PGRI JAKARTA