Pemuda Memimpin

Pemuda Memimpin

Senin, 3 Oktober 2016 10:47   584

Oleh: Aswandi

 

PERDANA Menteri Canada, Justin Trudeau pada pembukaan pertemuan tahunan kaum muda se dunia “One Young World 2016 di Ottawa mengatakan bahwa kaum muda adalah inti dari perubahan dunia menuju kondisi lebih baik, yakni bebas dari rasa takut, kemiskinan, kerusakan lingkungan dan ketiadaan pendidikan. Tanpa melibatkan kaum muda, dunia tidak akan pernah berubah dan tanpa kaum muda dunia tidak akan beralih menjadi lebih baik, dikutip dari  Kompas, 30 September 2016. Stigma yang diyakini selama ini bahwa kaum muda sebagai calon pemimpin masa depan dan slogan “learning to day, leader tomorrow” sudah tidak relevan lagi, melainkan kaum muda adalah pemimpin masa kini dan masa yang akan datang. Trudeau berkali-kali mengingatkan bahwa keterlibatan kaum muda dalam kepemimpinan dunia tidak hanya untuk masa depan, melainkan untuk masa kini. Oleh karena itu pemuda harus proaktif dan berani untuk tampil memimpin masyarakat. Para pemuda di seluruh dunia menjadi kekuatan politik yang tidak kecil untuk melakukan perubahan karena mereka pada umumnya berpendidikan, inovatif, inklusif, dan progresif. Penulis tambahkan, pemuda memiliki idealism. Meskipun ada negara di dunia ini yang sedikit lambat mempromosikan pemuda menjadi pemimpin, hal ini semata-mata alasan kultural bangsa tersebut yang dikenal dengan “Budaya Senioritas”.

Partai Demosisto Hongkong prodemokrasi menang dalam pemilihan legislatif dan memperoleh sepertiga (lebih dari 30%) kursi parlemen. Kemenangan partai baru tersebut bukanlah sesuatu yang ajaib atau tidak datang dengan sendirinya, melainkan telah diusahakan oleh anggotanya yang rata-rata masih berusia muda, 17-30 tahun dan umumnya masih berstatus mahasiswa. Aktivitasnya antara lain; menyambangi dan mengadvokasi masyarakat terutama dalam mengatasi persoalan perumahan dan ancaman penyerobotan tanah oleh pemilik modal. Kemenangan partai anak muda di Hongkong ini membuat rasa takut pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC). Beijing mengancam mereka tidak menyentuh soal kemerdekaan, dikutip dari Tempo, 18 September 2016

Kaum muda menjadi pemimpin telah terjadi sebelumnya di seantero dunia, termasuk di negeri ini. Misalnya Garfield (2011) menulis sebuah buku berjudul “The Paladin”, buku tersebut mengisahkan keberhasilan seorang anak kecil menjadi agen rahasia pada perang dunia ke-2. John Freely (2013) dalam bukunya “The Grand Turk: Sultan Mehmet II” mengisahkan keberhasilan seorang pemuda memimpin. Seorang Sang Penakluk yang disegani pada masanya, memegang tapuk kekuasaan Kekaisaran Usmani sejak berusia 12 tahun, bahkan diusia 21 tahun ketika tahun 1435, ia menaklukan Konstantinopel dalam waktu 55 (lima puluh lima) hari. Ini adalah sebuah pertanda jatuhnya kekuasaan Byzantium yang sangat kuat pada waktu itu dan berakhirnya Abad Pertengahan. Penaklukan Istambul yang sangat spektakuler itu hingga sekarang terus dikaji oleh banyak pakar untuk mempertanyakan rahasia kemenangan kelompok kecil anak muda yang dipimpin Sultan Helmet II terhadap kekuatan raksasa Konstantinopel atau Istambul lebih dari setengah abad (563 tahun) untuk mencari jawaban atas penaklukan Konstantinopel yang oleh sebagian ahli diterasakan aneh itu. Sebuah buku ditulis Roger Crowley (2011) berjudul “ 1453” mencoba mengungkapkan rahasia kemenangan pemimpin muda Sultan Helmet II menaklukan Konstantinopel tersebut, yakni sebuah kemenangan yang didasarkan atas keyakinan atau semangat tauhid untuk tegaknya kebenaran di atas muka bumi ini. Belajar dari asumsi tersebut, sekarang ada upaya dari musuh-musuh Islam untuk setiap usaha penaklukan dan pencapaian kemenangan terhadap Islam dilakukan melalui “Pendangkalan Aqidah”, karena disimpulkan kekuatan aqidah umat Islam adalah sumber kekuatannya, terutama ditanamkan melalui proses pendidikan sekuler.

Di negeri ini, dokter Sutomo dan pemuda lainnya adalah kaum muda yang masih berstatus mahasiswa di STOVIA dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi lainnya telah menemukan sebab dari silih berganti penjajah datang menjajah negeri ini akibat masyarakat yang masih terpecah-belah atau tidak bersatu. Tumbangnya kekuasaan Orda Lama dan Orde Baru di negeri ini tidak dapat dilepaskan dari perjuangan yang dilakukan oleh kaum muda, terutama mahasiswa dan pelajar.

Sayangnya, kaderisasi dan regenerasi calon pemimpin oleh partai politik dan oleh institusi pendidikan akhir-akhir ini mengalami kegagalan dan kebuntuan, sehingga sulit melahirkan pemuda menjadi calon pemimpin saat ini, dikutip dari Kompas, 25 Februari 2012 dan 17 April 2012. Majalah Pemikiran Sosial Ekonomi “Prisma”, Volume 30, No. 2/tahun 2011 menyatakan “banyak calon pemimpin muncul dari kaum pemuda sekarang ini bukan karena kompetensi atau pengkaderan, melainkan mereka penerus bapaknya yang telah pensiun dan sedang menjabat sebagai pemimpin dan dari berbagai pertalian darah mendapatkan kemudahan memperoleh posisi politik, ayahnya lebih dulu sibut memasarkan, menjual dan mengkampanyekan anaknya untuk dipilih menjadi pemimpin. Terhadap fenomena seperti ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra pernah mengingatkan kepada setiap pemuda untuk bangga karena prestasi yang telah diusahakan atau dicapainya sendiri, sekecil apapun prestasi itu, bukan prestasi yang dicapai oleh orang tua mereka.

Menurut pengamatan penulis, kelangkaan terhadap lahirnya pemuda memimpin ini akibat dari kurangnya persiapan dan pembinaan calon pemimpin ini, baik sejak di rumah, di sekolah maupun di masyarakat. Untuk melahirkan pemuda memimpin, maka tiga jenis lembaga pendidikan (informal, formal dan nonformal) harus mengajarkan kepada peserta didiknya mengenai kehidupan, yakni kehidupan diri dan orang lain sehingga dari sejak kecil mereka belajar mengatasi segala permasalahan dalam hidupanya karena menjadi seorang pemimpin itu pada hakikatnya adalah kemampuan menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi rakyat atau pengikutnya.

Komaruddin Hidayat menambahkan, “calon pemimpin harus mau belajar mendengarkan apa yang tidak terucapkan, mau melihat apa yang tidak terlihat, mau membaca apa yang tidak tertulis. Jika calon pemimpin mau dan mampu membaca dan mendengarkan suara dan perilaku alam, itu merupakan modal besar menjadi pemimpin. Dari zaman ke zaman antara istana dan rakyat selalu ada tembok pembatas sehingga pemimpin sering kali tidak memahami apakah rakyat mencintanya atau membencinya, dikutip dari Kompas, 6 Agustus 2011.  Oleh karena itu, kepada anak muda calon pemimpin, mulailah dari sekarang belajar mempertajam hati, pikiran dan intuisi masing-masing dengan kesabaran dan ketulusan, terutama tulus dan jujur terhadap diri sendiri. Poul Stoltz (2010) dalam bukunya “Adversity Quotient” mengajarkan agar belajar mendengarkan, setelah itu eksplor dan analisis informasi yang telah didengar tersebut sebelum membuat keputusan atau mengambil tindakan (Penulis, Dosen FKIP UNTAN).

 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019