Pemimpin yang Direncanakan

Pemimpin yang Direncanakan

  Rabu, 17 February 2016 07:59   1

Oleh Abdul Hamid S

Ketika mendengar kata pemimpin, maka terlintas di benak kita, bahwa pemimpin adalah penguasa, orang hebat, populer dan segudang penilaian lainnya yang akan memperkokoh kepantesan seseorang itu untuk disebut sebagai pemimpin.Benarkah pemimpin dapat ditafsirkan demikian? Ada seorang yang miskin nestapa, hidup sederhana bahkan jauh dari nilai kelayakan, tapi ia sukses menghantarkan putra putrinya menempuh jenjang pendidikan tinggi dan berhasil dalam bidang keahlian profesi tertentu. Kisah si Raeni, anak tukang becak yang lulus dengan IPK 3,96 di  Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) bisa jadi contohnya. Hari Selasa, 10 Juni 2014, ia berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya Mugiyono dengan becak. Ia mengubah rasa minder menjadi prestasi dan kini mendapat beasiswa melanjutkan S-2 ke Inggris.

Demikian pula kisah Agung Bakhtiar yang juga anak seorang tukang becak bernama Suyatno. Dia berhasil menjadi dokter dari Fakultas Kedokteran UGM dengan IPK 3,51 yang diwisuda pada 8 Juli 2011.

Kisah inspiratif lainnya tentang seorang yang bernama Jack Ma. 10 tahun silam ia adalah seorang pengangguran yang prestasinya di bangku kuliahpun pas-pasan. Tiga kali masuk kuliah ditolak oleh kampus dan yang terparah setelah lulus kuliah, 30 kali penolakan kerja diterimanya sampai nyaris membuat Ma putus asa.

Kini dengan kerja keras dan dedikasi yang tinggi, pendiri e-commerce Alibaba terbesar di China, Jack Ma dinobatkan sebagai orang terkaya di Tiongkok dengan total kekayaan sebesar 20,4 miliar dolar atau sebesar Rp275,4 triliun.

Menjadi renungan bersama bagi kita, apakah sang tukang becak ayahnya si Raeni (Mugiyono), atau ayahnya Agung Bakhtiar (Suyatno) maupun sosok ayahnya Jack Ma, layakkah mereka disebut sebagai pemimpin keluarga yang hebat?  Sangat layak tentunya. Kok bisa dinilai demikian? Bukankah mereka tidak punya standarisasi tentang kepemimpinan (leadership)?

Mereka tidak pernah kursus pelatihan untuk menjadi pemimpin keluarga yang hebat. Dengan keterbatasan hidup yang "mencekik", mereka tidak pernah berharap muluk-muluk akan apa yang bisa ia peroleh hari ini dan nanti, namun yang terpenting adalah bagaimana anak-anaknya bisa sekolah dan belajar dengan baik. Serta tumbuh semangat untuk merubah hidup jadi lebih baik dan lebih hebat dari kesulitan hidup yang mereka jalani bersama sang ayah tercinta selama ini.                                 

Motivasi yang mereka tanamkan kepada putra putrinya, contoh dan sikap yang baik dalam memandang beban persoalan kehidupan yang sangat pelik, bahwa kesemuanya telah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Tapi jangan pernah berputus asa dalam berikhtiar serta harus bersabar dan memandang positif akan ketetapan takdir yang sudah Allah gariskan bagi keluarga mereka.                

Ternyata pembelajaran sederhana ini membuat putra putrinya menjadi anak yang tangguh dan tahan banting akan cobaan kehidupan, serta tumbuh kembang semangat dan motivasi agar dapat mengubah keadaan hidup yang sangat berat selama ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. 

Jadi benarlah jika dalam ajaran Islam, baginda Nabi SAW memberikan wejangan yang sangat indah: Bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap diri pemimpin akan dimintai Allah pertanggungjawabannya.

Jadi seseorang yang memahami akan eksestensi dirinya, peranan dan tugas yang sudah Allah tetapkan dalam dirinya, selalu belajar secara berkesinambungan akan abjad-abjad kehidupan yang telah dilakoni selama ini. Maka sungguh tepat jika dikatakan, bahwa orang tersebut adalah pemimpin yang direncanakan oleh alam semesta sekaligus ia termasuk pemimpin yang telah mempersiapkan dirinya agar bisa survive membaca dan melewati abjad-abjad kehidupan yang penuh lika liku onak duri dan jalan terjal.

Jika Anda, kami, saya dan kita semuanya merasa bahwa saya, kami, Anda atau kita bukanlah sosok yang layak menjadi pemimpin, maka sungguh kita telah "mengkerdilkan" akan peranan Allah dalam melimpahkan karunia "kepemimpinan alamiah" bagi makhluk-makhluk-NYA. Sungguh dalam hidup ini, ada yang namanya garis tangan (takdir), dan ada juga yang disebut dengan "turun tangan" atau ikhtiar.

Muliakan diri Anda dengan menumbuhkan nilai-nilai positifisme dalam memandang atau mengukur  diri Anda sendiri. Cara pandang atau "mindsetlah" yang akan hantarkan kita, menjadi seorang yang tangguh, berdedikasi serta penuh integritas yang tinggi, tumbuh kembang dalam bakat-bakat kepemimpinan diri yang sejatinya sudah "Allah siapkan dalam setiap individu hamba-hamba Nya".            

Sejalan dengan hal itu, maka Anda harus memiliki konsep nilai atau konsep diri. Konsep diri adalah perasaan dan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Orang yang merasa mampu pada akhirnya ia akan mampu. Orang yang merasa "Ah nggak mungkin bisa, pada akhirnya ya nggak akan pernah bisa".

Ciri konsep diri positif : pertama, merasa mampu mengatasi masalah. Kedua, merasa setara dengan orang lain. Ketiga, memandang pujian sebagai kewajaran. Keempat, sadar tak mungkin memuaskan semua orang. Kelima, mampu memperbaiki diri dengan koreksi dan evaluasi diri.

JIka anda memiliki konsep diri yang baik maka sungguh Anda akan menjadi pemimpin yang hebat yakni sanggup memimpin diri sendiri, memimpin anak dan istri, memimpin masyarakat, wilayah, bahkan bangsa atau negara sekalipun.       

 

 

Penulis adalah Chairman Bina Ihya Mandiri Foundation, Pemerhati Sosial dan Praktisi Dakwah