PEMIMPIN YANG ‘HOT’

PEMIMPIN YANG ‘HOT’

  Kamis, 16 November 2017 09:27   112

Oleh: Ferry Yasin

HOT, high order thingking, adalah ketrampilan berpikir pada taksonomi Bloom, merupakan urutan tingkat berpikir (kognitif) dari tingkat rendah sampai yang ke tinggi. Pada ranah tertingginya HOT berada pada level analisa, sintesa dan evaluasi. Tetapi HOT yang digunakan dalam tulisan ini tidak hanya dalam domain berpikir sebagaimana yang dikemukakan Bloom itu, tetapi juga bersikap dan bertindak. HOT bisa saja berarti panas, bergairah dan menggebu-gebu serta agresif dalam mencapai kemajuan. HOT juga bisa berarti dinamis dan pantang menyerah serta putus asa dalam menghadapi segala tantangan dan permasalahan.

Menurut pakar kepemimpinan dan manajemen kelas wahid dunia, John Maxwell, seorang pemimpin yang mengklaim dirinya pemimpin, tetapi tidak memiliki pengikut, itu sama dengan jalan-jalan. Dan seorang pemimpin, menjadi (diangkat) menjadi pemimpin, jelas, ia memiliki ‘sesuatu’ yang di atas rata-rata pengikutnya. Entahkah itu karisma atau daya tarik tertentu, atau pengetahuan dan wawasan yang dimiliki, dan bisa jadi kepemilikan atas sesuatu yang luar biasa banyaknya. Atau kedudukan dan status baik dalam jabatan formal maupun nonformal. Yang jelas, apa yang tak dimiliki oleh para pengikut, tetapi dimilikinya, maka jadilah ia seorang pemimpin.

Tetapi dalam dunia persilatan pilkada (pemilihan kepala daerah), menjadi pemimpin tok tidak cukup. Ia harus memiliki HOT yang tidak hanya berkisar pada high order thingking, tetapi juga behaving dan acting. Tidak hanya kemampuannya dalam menuangkan dan menjabarkan visi, misi, ide dan gagasan yang dimiliki, tetapi juga bagaimana ia bersikap terhadap posisi yang dimiliki serta masyarakat yang dipimpinnya, serta tindakan serta aksi yang dilakukannya di lapangan untuk merealisasikan semua programnya.

Era reformasi dan otonomi daerah ini, ternyata, menelurkan pemimpin-pemimpin daerah dengan figur yang kuat dan nuansa HOT yang kental. Bisa disebut sedikit disini Bupati Banyuwangi, Bupati Trenggalek, Bupati Purwakarta, Bupati Batang, Bupati Bantaeng, Walikota Surabaya, Walikota Bandung. Dan masih banyak lagi, yang mungkin, belum terekspose oleh media nasional. Kebaikan dan hasil kerja yang bagus itu tidak bisa ditahan-tahan dan disembunyikan. Pada akhirnya mata melihat dan kamera menyorot gaya kepemimpinan mereka karena HOT. Tanpa pamrih dan tidak berorientasi menjadi selebriti, mereka akhirnya terkenal juga (famous—terkenal dalam arti yang baik, lawan dari notorious). 

High order thingking seorang pemimpin berhubungan dengan cara berpikirnya yang lateral, memiliki ide dan gagasan yang cemerlang, kreatif dan memiliki terobosan-terobosan (breakthrough). Cara berpikir yang umum adalah linier, memanjang dan lurus. Itu baik. Orang merencanakan suatu kerja secara apik, terencana, berurutan. Dalam dunia manajemen menjalani urut-urutan seperti planning, organizing, executing dan evaluating. Namun pemimpin yang HOT tidak cukup berpikir linier tetapi juga lateral. Arti harfiahnya dari samping, tetapi berfikir lateral pada prinsipnya menganut fleksibilitas, kreatif dan berani mengambil terobosan. Atau malahan jalur yang diambil agak sedikit kontroversial via a vis konvensional. 

Contoh paling riil adalah tindakan yang dilakukan oleh Walikota Surabaya dalam menutup daerah hitam prostitusi Dolly, yang menurut informasi, terbesar di Asia Tenggara. Bercokol selama bertahun-tahun bahkan sebelum kemerdekaan, serta aktivitas itu dilakukan di tengah masyarakat yang permisif, dan menjadi tempat bergantung secara ekonomi banyak orang, namun karena pendekatan yang persuasif dari sang Ibu yang ‘galak’, akhirnya tempat itu bisa ditutup dan kini menjadi destinati wisata. 

Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Bupati Banyuwangi, yang telah menyelenggarakan festival tahunan busana, balap sepeda dan sightseeing wisata alam Kawah Ijen. Kreatifitas dan kejelian harus dimiliki seorang pemimpin untuk bisa melihat potensi daerahnya untuk ‘dijual’ bertumpu pada partisipasi masyarakat dan pemberdayaan ekonomi. Demikian juga dengan Bupati Bantaeng, yang notabene adalah seorang pengusaha, tetapi ternyata memiliki hati terhadap wilayah dan masyarakatnya, yang berujung pada pembangunan yang prima di daerah itu.

High order behaving berbicara tentang sikap seorang pemimpin yang melihat posisinya sebagai amanah, dan berorientasi pada sebesar-besarnya kepentingan masyarakatnya. Pemimpin yang HOT tidak melihat jabatannya dengan paradigma ‘aji mumpung’. Namun demikian wajib memiliki perspektif ‘aji mumpung’ yang lain. Mumpung berkuasa, buat kebijakan yang pro-rakyat. Mumpung sedang menjabat, gunakan dana dan uang yang ada sebanyak-banyaknya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Dan, jangan lupa, selalu berprinsip sustainable.

High order acting berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Waktu kampanye, tidak ada daerah yang tidak ia kunjungi dalam meraih simpati dan, tentunya, dengan maksud mendulang suara sebanyak-banyak. Ketika sudah in charge, usahakan juga melakukan hal yang sama untuk menyerap aspirasi masyarakat, melihat permasalahan yang ada, dan mengevaluasi program yang telah berjalan. Pemimpin yang tidak HOT, setelah ia berkuasa, malas untuk menyambangi rakyatnya, sering pergi ke Jakarta (meski bukan untuk urusan dinas) malahan rajin ke luar negeri (tidak dalam rangka mencari investor).

Pemimpin yang HOT harus rajin blusukan. Meski kita tahu 70 persen pekerjaan pemimpin adalah manajerial, tetapi blusukan merupakan komponen penting kehadiran pemimpin. Pemimpin yang hadir di tengah masarakat, berarti negara hadir. Itu sebuah representasi. Ketika negara hadir, rakyat merasa diperhatikan. Ia merasa secure (aman), merasa dipedulikan. Itu bagian dari relieving (sesuatu yang melegakan) sehingga mereka termotivasi untuk belajar lebih rajin, bekerja lebih keras,  hidup lebih semangat, mengidentifikasi diri terhadap dan terobsesi oleh pemimpinnya, yang jelas-jelas HOT. **

Penulis:  SMA TARUNA BUMI KHATULISTIWA KAB. KUBU RAYA