Pemikiran R.A. Kartini dalam Persepsi Akademisi Internasional

Pemikiran R.A. Kartini dalam Persepsi Akademisi Internasional

Kamis, 21 April 2016 08:35   1

Dalam Wikipedia dituliskan bahwa dalam surat-suratnya,  R.A. Kartini menuangkan pemikirannya  tentang kondisi sosial perempuan Indonesia pada era pergantian abad 19 ke  abad 20. Secara umum, surat-suratnya berupa ‘protes’ atas kungkungan adat masyarakat Jawa pada kaum perempuan. Ia menginginkan agar kaum perempuan (Jawa – Indonesia) mempunyai kebebasan untuk belajar. Ia menulis tentang : Zelf-ontwikkeling – pengembangan diri, Zelf-onderricht, Zelf-werkzaamheid dan Solidaritas. Semua padangannya dilandasi oleh sifatnya yang  religius, arif, serta humanis.

Massachusetts Review; 1984, Vol. 25 No 4, memuat sebuah artikel dengan judul “Kartini: Letters from a Japanese (Javanese, sic!) Feminist, 1899-1902”. Dalam artikel tersebut R.A. Kartini digambarkan sebagai ‘the first champions of women's rights in Indonesia’. Ia tidak hanya sebagai pembela adik-adik perempuannya tetapi sebagai ‘a patron saint’ semua orang Indonesia modern.  Judul tulisan itu merupakan refleksi kehidupan Kartini yang dikungkung dengan ketat oleh ‘adat’. 

Dayana Parvanova, Peneliti dari Institute for Social Anthropology, Austrian Academy of Sciences, Wina, menulis artikel dengan judul ‘Islamic Feminist Activism in Indonesia: Muslim Women’s Paths to Empowerment’ (Austrian Studies in Anthropology Sondernummer 1 / 2012 - ISSN 1815-3704). Ia menyebut surat-surat Kartini sebagai ‘an inspiring figure and a outstanding example for a forward-looking Javanese woman at the end of the 19th and beginning of the 20th century’. Kartini merupakan seorang perempuan yang ingin ‘meretas’ kungkungan adat dan selanjutnya mendedikasikan hidupnya untuk membantu kaum perempuan.  

Barbara Celarent, Porfesor Sosiologi Partikularitas (tahun 2015 tampaknya kembali ke Universalitas) Universitas Atlantis, AS, menulis review, 2016, tentang R.A. Kartini dari dua buku Joost Cote (Monash, Australia): Letters from Kartini-1992- dan On Feminism and Nationalism -1995. Ia berpendapat bahwa Kartini bukan tipe orang yang suka menghindar dari kenyataan. Menurut Kartini, kita mesti menghadapi hidup ini sekalipun sulit dan tiada harapan. Lebih baik menjadi orang yang sesungguhnya ketimbang pemimpi, lebih baik menghadapi kenyataan hidup secara langsung ketimbang menghidarinya. Barbara Celarent memberi contoh keputusn Kartini untuk menikah. Profesor Celarent berkeyakinan bahwa Kartini tentu mempunyai alasan yang kuat untuk ‘mengingkari’ penolakannya terhadap poligami sebelumnya dan memilih untuk menjadi isteri ke-empat. 

Asia-Facific Human Right Information Center, Osaka, Jepang, dalam FOCUS, 2009, Vol. 56, menerbitkan tulisan dengan judul “Raden Ajeng Kartini: Indonesia's Feminist Educator”. Disebutkan bahwa Kartini menyadari pendidikan akan memperluas wawasan hidup seseorang. Kartini banyak menulis tentang peningkatan pendidikan, kesehatan masyarakat, kesejahteraan sosial serta kerajinan lokal. Tahun 1903, Kartini menulis sebuah memorandum yang diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda – cq Menteri pendidikan  dengan judul The Javanese Education! . Kartini menekankan betapa penting pendidikan bagi kaum perempuan untuk membuat masyarakat maju. 

Michael Hawkins, dari Department of History, Universitas Northern Illinois-AS, 2007, menyajikan sebuah makalah dengan judul ‘Exploring Colonial Boundaries: An Examination of the Kartini-Zeehandelaar

Correspondence’ pada Asia-Pacific SocialScience review, Vol. 7: No 1. Hawkin  berpendapat, walaupun R.A. Kartini dipandang sebagai seorang pemikir fiminis di Indonesia yang terpandang, Kartini tidak dapat mewujudkan cita-citanya ini. Sehingga, Kartini menerima poligami, sebagi istri ke-empat dari seorang lelaki yang 28 tahun lebih tua. Pilihan Kartini seperti ini menunjukkan bahwa adat tradisional-Jawa dan juga kebiasaan kolonial (Belanda) tidak dapat dilawannya. 

Beberapa tulisan para skolar yang lain tentang Kartini dapat ditunjukkan dalam sajain ini misalnya:

·    Being Kartini: Ceremony and Print Media in the Commemoration of Indonesia's First Feminist. Mahy, Petra // Intersections: Gender & Sexuality in Asia & the Pacific;Mar2012, Issue 28

·    Kartini: Letters from a Japanese Feminist, 1899-1902.  // Massachusetts Review;Winter84, Vol. 25 Issue 4

·    A Javanese Feminist. S. K. T. // New Republic;11/17/20, Vol. 24 Issue 311

·    Realizing the dream of R.A. Kartini; Her sisters' letters from colonial Java. Hellwig, Tineke // Journal of the Humanities & Social Sciences of Southeast Asia & ;2008, Vol. 164 Issue 4

Apa yang dapat dipetik dari sajian ini adalah, pemikiran R.A. Kartini, seorang gadis muda Jawa yang hidup lebih dari 100 tahun yang lalu menjadi telaah para pakar internasional di abad ke-21 ini. Merupakan suatu hal yang ironis jika justru kita sendiri melupakannya. Semoga tidak!**

Leo Sutrisno