Pemeringkatan Perguruan Tinggi

Pemeringkatan Perguruan Tinggi

Kamis, 25 February 2016 07:53   1

PEMERINGKATAN perguruan tinggi disusun dalam rangka; (1) mewujudkan tujuan pembangunan pendidikan tinggi sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijakan umum pendidikan tinggi nasional; (2) menyediakan landasan dalam penyusunan kebijakan umum pendidikan tinggi dan rencana pengembangan pendidikan tinggi jangka panjang, menengah dan tahunan dalam pengejawantahan tri dharma perguruan tinggi dimana diperlukan informasi yang berketetapan, terukur, dan terpercaya terkait kesehatan organisasi dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara terus menerus.
Pemeringkatan perguruan tinggi dilakukan di banyak negara dengan mengunakan parameter dan indikator yang berbeda. Pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia 2015 ini menggunakan empat indikator utama beserta bobotnya, yakni: Sumber Daya Manusia, terdiri dari kualitas dosen (bobot 12%) dan kecukupan dosen (bobot 18%), kualitas manajemen (bobot 30%), kualitas kegiatan kemahasiswaan (10%) dan kualitas kegiatan penelitian dan publikasi ilmiah (30%).
Data yang digunakan dalam pemeringkatan perguruan tinggi ini berasal dari data yang terdapat pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT), BAN PT Maret tahun 2015, publikasi jurnal internasional scopus Juli 2015 dan dukungan beberapa data ekternal.
Diantara data yang diolah; akreditasi institusi dan program studi, jumlah dana dari SPP dibagi jumlah dana dari masyarakat, lama studi aktual dan IPK, jumlah mahasiswa termasuk mahasiswa asing dan kegiatan kemahasiswaan, jumlah dosen beserta kualifikasinya, penelitian dan publikasi internasional, mahasiswa asing dan kerjasama internasional.
Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Menristekdikti RI) Nomor: 492.a/M/Kp/VIII/2015 mempublikasi klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia tahun 2015 ke dalam lima lima kluster dengan ciri-ciri sebagai berikut, yakni: Kluster 1 sebanyak 11 perguruan tinggi dengan ciri-ciri; (1) SDM dan insfrastruktur kuat berhasil didayagunakan untuk mencapai prestasi nasional yang tinggi; (2) siap ditingkatkan peringkat internasionl; (3) data kegiatan kemahasiswaan belum terekam sepenuhnya; Kluster 2 sebanyak 55 perguruan tinggi, dengan ciri-ciri; (1) SDM dan manajemen relatif kuat; (2) belum berhasil didayagunakan untuk mencapai prestasi nasional yang tinggi; Kluster 3 sebanyak 644 perguruan tinggi dengan ciri-ciri; (1) kualitas SDM dan manajemen sedang; dan (2) belum mampu didayagunakan untuk mencapai prestasi nasional; Kluster 4  sebanyak 2329 perguruan tinggi dengan ciri-ciri;  (1) kualitas SDM dan manajemen rendah; dan (2) belum menunjukkan adanya prestasi nasional; dan Kluster 5 sebanyak 281 pergurun tinggi dengan ciri-ciri: (1) kualitas SDM dan manajemen sangat rendah; dan (2) tidak ada indikasi prestasi.
Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas, pemerintah merekomendasi beberapa usulan program perbaikan sesuai kluster pemeringkatan yakni sebagai berikut: Kluster 1, program penguatan kapasitas untuk membangun reputasi internasional dan perekaman data kegiatan kemahasiswaan secara sistematis ke dalam PDPT; Kluster 2, program penguatan kapasitas manajemen internal untuk mendayagunakan sumberdaya perguruan tinggi; Kluster 3, program peningkatan kualitas SDM dan penguatan kapasitas manajemen internal; Kluster 4, program peningkatan kualitas SDM dan manajemen internal serta peningkatan prestasi tri dharma pendidikan tinggi, dan Kluster 5, program peningkatan kualitas SDM dan manajemen internal, seperti studi lanjut dosen.
Klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia tahun 2015 disikapi beragam oleh banyak pihak, khususnya perguruan tinggi di negeri ini.
Prasetia Mulya dikenal sebagai perguruan tinggi bidang ekonomi, bisnis dan manajemen ternama di Indonesia, dicirikan; selectivity sangat ketat, reputasi sangat mengagumkan, lulusan 100 % direbut dunia usaha, kuliah full day pada Senin hingga Jumat siang dan malam mempertanyakan peringkat 926 yang diperolehnya, jauh dibawah  perguruan tinggi yang hidupnya dari kuliah Jumat dan Sabtu. Pertanyaan lain, mengapa perguruan tinggi yang skor nilainya sama-sama memperoleh nilai nol tetapi menempati peringkatnya yang berbeda, dan seterusnya. Banyak pihak menyesalkan sistem pemeringkatan perguruan tinggi tersebut, menurut mereka adalah dagelan yang paling tidak lucu.
Jurnal internasional dan publikasi ilmiah scopus mendapat bobot yang sangat besar. Ada pendapat mengatakan tanpa disadari perguruan tinggi, khususnya dosen telah terperangkap kepentingan kapitalis. Dampak lain, dosen disibukkan dalam urusan jurnal dan publikasi, tiada hari tanpa jurnal dan publikasi, melaksanakan dharma pendidikan dan pengabdian pada masyarakat terabaikan, sementara proses perkuliahan efektif yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku mahasiswa dalam rangka membangun dan merevolusi mental, seperti melawan terorisme dan radikalisme, budaya hegomoni dan hidup serba bebas, dan terakhir LGBT dipandang bukan tugas utama lagi bagi sebagian dosen.
Berdasarkan Kepmenristekdikti Nomor: 492.a/M/Kp/VIII/2015 ini, dimana posisi Universitas Tanjungpura berada di peringkat 106, kluster 3 dengan skor total 1704 lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa: (1) kualitas SDM berada pada peringkat ke-13, skor 3,70 atau diatas rata-rata kluster 2,27; (2) kualitas manajemen, peringkat 856, skor 1,0, atau dibawah rata-rata kluster 1,97; (3) kualitas kegiatan mahasiswa, peringkat 41, skor 0,1, atau diatas rata-rata kluster 0,00; dan (4) kualitas penelitian dan publikasi, peringkat 66, skor 0,9 atau di atas rata-rata kluster 0,23.
Mengapa demikian, karena data PDPT dan BAN PT yang digunakan dalam pemeringkatan perguruan tinggi belum mengolah data mutakhir yang dimiliki Universitas Tanjungpura, misalnya saat data tersebut diolah dan dianalisis, akreditasi institusi masih dalam proses atau belum ditetapkan oleh BAN PT sehingga peringkat akreditasi institusi B tidak dinilai, demikian juga data-data prestasi Universitas Tanjungpura lainnya.
Dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini, Universitas Tanjungpura  mengalami kemajuan yang sangat pesat, faktanya antara lain; program studi bertambah banyak sehingga memberi kesempatan sangat besar dan sangat luas kepada masyarakat Kalimantan Barat melanjutkan studinya di perguruan tinggi, jumlah masyarakat miskin dari daerah 3T memperoleh beasiswa dari tahun ke tahun meningkat, dosen melanjutkan studi baik di dalam maupun di luar negeri semakin banyak. Semangat mewujudkan Untan Mulia semakin tinggi.
Tentu saja prestasi yang telah dicapai oleh Universitas Tanjungpura pada saat ini tidak bisa dilepaskan dari usaha keras yang telah dilakukan sebelumnya. Demikian pula membandingkan prestasi dulu dan sekarang juga tidak tepat atau kesalahan berlogika (fallacy) karena instrumen yang digunakan dalam menilai atau pemeringkatan perguruan tinggi sudah jauh berbeda. Semangat, sense of belonging, sense of togetherness, sense of interdependence, and sense of responsibility sivitas akademika dalam mewujudkan Untan Mulia semakin tinggi pada saat ini.
Oleh karena itu, sivitas akademika Untan merespons positif keinginan pemerintah membangun perguruan tinggi didasarkan dari potret pemeringkatan perguruan tinggi yang objektif, transparan dan akuntabel, dengan harapan pihak pemerintah memfasilitasi upaya perbaikan dan percepatan peringkat, tidak menyerahkan sepenuhnya kepada perguruan tinggi.
Dalam waktu dekat, Insyaallah, Universitas Tanjupura akan melaksanakan lokakarya terkait klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi tersebut untuk mengetahui permasalahan yang ada dan menentukan langkah-langkah perbaikan demi kemajuan perguruan tinggi yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat ini (Penulis, Dosen FKIP Untan)

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019