Pementasan ”Bunga Penutup Abad” untuk Kenang 10 Tahun Meninggalnya Pram

Pementasan ”Bunga Penutup Abad” untuk Kenang 10 Tahun Meninggalnya Pram

  Senin, 29 Agustus 2016 09:30
Aktor Reza Rahardian yang berperan sebagai Minke (kiri) dengan Happy Salma yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh (kedua kiri) berpentas bersama dengan Lukman Sardi yang berperan sebagai Jean Marais (ketiga kanan) dan Aktris Chelsea Islan di GKJ. NDREAN KRISTIANTO/JAWA POS

Berita Terkait

Melakonkan Surat-Surat Perpisahan Minke dengan Annelies

Peringatan sepuluh tahun meninggalnya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer dirayakan dengan pementasan teater bertajuk Bunga Penutup Abad. Sejumlah artis memanggungkan lakon yang diadaptasi dari dua novel masterpiece Pram, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, itu. 

ANDRA NUR OKTAVIANI, Jakarta

Wajah Minke berubah suram saat membaca surat yang dikirimkan Panji Darman untuk mengabarkan kondisi Annelies, istri Minke. Begitu juga dengan wajah Nyai Ontosoroh, ibunda Annelies. Mereka tahu betul bahwa kesempatan untuk kembali bertemu dengan Annelies sangat kecil. Hanya sepucuk surat dari Panji Darman yang bisa mengobati kerinduan mereka terhadap sosok gadis indo itu.

Annelies, buah cinta Nyai Ontosoroh dan Herman Mallema, terpaksa meninggalkan ibu dan negeri yang dicintainya menuju Nederland akibat keputusan pengadilan putih Hindia-Belanda yang mengharuskan Annelies diasuh istri sah Herman Mallema di Nederland. Perpisahan penuh drama pun sempat mewarnai kepergian Annelies.

Surat demi surat membuka pintu nostalgia antara Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies. Mulai saat kali pertama Minke yang seorang pribumi berkenalan dengan Annelies yang merupakan gadis indo, kisah awal percikan cinta keduanya, hingga bagaimana perjuangan Nyai Ontosoroh mempertahankan putri kandungnya itu.

Di antara surat-surat itu, Minke mengalami beberapa kejadian yang memperlihatkan kebobrokan Eropa dan media Eropa tempatnya bekerja yang selalu dia agung-agungkan. Kejadian itu juga membuka mata Minke bahwa negeri yang dielu-elukannya itu tidak selalu benar. Minke yang selalu menulis dalam bahasa Belanda juga diberi masukan oleh Jean Marais untuk mulai mengenal bangsanya sendiri dan menulis dalam bahasa Melayu.

Cerita berakhir beberapa saat setelah Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda. Minke yang dilanda kesedihan kemudian meminta izin kepada Nyai Ontosoroh untuk pergi ke Batavia dan melanjutkan sekolah menjadi dokter. Ke Batavia, Minke membawa serta lukisan potret Annelies yang digambar Jean Marais. Minke menamakan lukisan tersebut: Bunga Penutup Abad.eater Bunga Penutup Abad merupakan karya adaptasi novel Pram –panggilan Pramoedya Ananta Toer–, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Dua novel tersebut merupakan bagian dari Tetralogi Pulau Buru yang mengisahkan pergolakan hidup pemuda pribumi bernama Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies, dan pelukis Jean Marais selama masa kolonial Belanda. 

Pelakon Happy Salma (sebagai Nyai Ontosoroh), Reza Rahadian (Minke), Chelsea Islan (Annelies), Lukman Sardi (Jean Marais), dan Sabia Arifin (May Marais) membawakan tema dua novel itu ke atas panggung Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 25–27 Agustus ini. Pementasan itu disutradarai Wawan Sofwan. 

Kendati sudah beberapa kali mengadaptasi karya Pram ke dalam bentuk teater, Wawan tidak menganggap pementasan Bunga Penutup Abad itu mudah. Justru, pementasan kali ini menawarkan tantangan yang lebih dari pementasan karya-karya Pram sebelumnya.

Sekitar dua tahun Wawan berusaha mengawinkan dua novel Pram itu. ”Susah-susah gampang,” ucap Wawan sebelum pertunjukan Jumat sore (26/8).

Upaya besar memang perlu diberikan Wawan untuk pementasan kali ini. Beban yang agak berat pun dirasakannya. Dia harus bisa keluar dari pertunjukan lakon Nyai Ontosoroh yang digarapnya pada 2007 serta Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh pada 2010 yang merupakan adaptasi dari Bumi Manusia. 

”Bumi Manusia kan sudah kebaca. Kalau baca itu lagi, nanti balik lagi ke situ,” ujarnya.

Wawan pun akhirnya memutuskan menarik satu buku lagi agar bisa memberikan napas baru pada pementasannya kali ini. Novel Anak Semua Bangsa yang merupakan kelanjutan Bumi Manusia dikaji Wawan. Di situ dia menemukan serangkaian surat yang ditulis Panji Darman kepada Minke dan Nyai Ontosoroh. Isinya menceritakan kondisi Annelies yang sedang dalam perjalanan ke Nederland.

”Surat-suratnya bagus banget. Akhirnya, cerita utamanya saya ambil dari surat-surat itu,” jelas pria kelahiran Ciamis, 17 Oktober 1965, itu.

Penemuan Wawan tersebut kemudian mengantarnya kembali ke Bumi Manusia. Bedanya, kali ini Wawan tidak menjadikan Nyai Ontosoroh sebagai central of attention. Kali ini pusat perhatian ke Annelies, anak perempuan Nyai Ontosoroh. Annelies dihadirkan sebagai flashback dari setiap surat yang berisi laporan dari Panji Darman itu.

”Saat terima surat kan jadi teringat masa lalu. Nah, cerita masa lalunya itu ada di Bumi Manusia. Sementara cerita utamanya dari surat yang ada di Anak Semua Bangsa,” ungkapnya.

Menemukan jalan cerita yang pas bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi Wawan. Setelah punya jalan cerita, Wawan juga sempat dibingungkan dalam memilih adegan mana yang akan dimasukkan untuk memperkuat jalan cerita. Menurut dia, banyak sekali adegan yang sebenarnya akan sangat bagus untuk dihadirkan. Namun, keterbatasan set membuatnya harus berpikir ulang.

Wawan menambahkan, deskripsi Pram di buku-bukunya biasanya loncat dari satu peristiwa ke peristiwa lain dengan begitu cepat. Seting lokasinya pun berubah secara cepat pula. Itulah yang agak sulit dilakukan dalam pementasan teater. 

”Ada yang dari indoor, pindah ke outdoor. Begitu juga sebaliknya. Jadi sangat menantang agar tidak kehilangan ruh dari deskripsi itu,” ujar Wawan.

Akhirnya, pilihan pun jatuh pada set ruang peristiwa indoor. Untuk peristiwa yang berlangsung di luar ruangan, Wawan memilih teknik narasi. Dia mengatakan, Pram cukup kuat soal narasi. Dia banyak sekali membuat narasi dalam buku-bukunya. Ini juga yang Wawan pertahankan dalam format teaternya. 

”Ini kan kekuatan Pram, sekaligus jembatan dari satu adegan ke adegan lain,” imbuhnya.

Adegan lain yang cukup mencuri perhatian adalah adegan berciuman Minke dan Annelies. Wawan cukup ngotot ingin menampilkan adegan tersebut di panggung karena dianggap penting sekali dalam cerita itu. Menurut Wawan, adegan tersebut dibutuhkan untuk memperlihatkan nilai moralitas dari Nyai Ontosoroh terkait keluarganya. ”Enggak ujuk-ujuk (tiba-tiba, Red) celepot aja nyium,” ucap Wawan, lantas tertawa.

Jauh sebelum adegan yang membuat shutter kamera fotografer tidak berhenti bekerja muncul, latar belakang Minke yang secara fisik pribumi tapi secara pergaulan cukup Eropa sudah dihadirkan. Beberapa kali Minke diceritakan sebagai siswa HBS (Hoogere Burger School). Dia pun berteman dengan orang Belanda, berbicara dalam bahasa Belanda, menulis dalam bahasa Belanda, dan bekerja untuk surat kabar Belanda.

Bagi Happy, Nyai Ontosoroh bukan tokoh baru. Sebelumnya, dia pernah berperan sebagai Nyai Ontosoroh dalam sebuah pertunjukan monolog. Dia juga sudah sangat terbiasa dengan teater. Namun, bagaimana dengan Reza dan Chelsea yang biasanya bermain film yang secara treatment jauh berbeda dengan teater? 

”Mereka sangat welcome. Mereka juga penggemar Pram dan membaca novel-novelnya. Langsung enak saja ketika ketemu,” ungkap Wawan.

Hanya, Wawan mengakui bahwa untuk bisa membawakan peran di teater, Reza dan Chelsea butuh energi lebih. Film dan theater basic-nya memang sama: akting. Tapi, ternyata itu saja tidak cukup. Mereka harus berlatih vokal, artikulasi, dan ekspresi yang lebih dari biasanya. 

”Akting di teater itu tetap realis. Tapi realis yang dilebihkan,” ucap alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu.

Berat? Bisa jadi. Sebab, memainkan teater harus sekali jadi. Tidak seperti film yang bisa di-take berulang-ulang. ”Menghafal naskah, blocking, timing dengan musik, adaptasi dengan set, dan adaptasi dengan pemain lain. Itu sulitnya,” cerita Reza.

Meski tidak mendapat porsi dialog dan monolog sebanyak Reza, Chelsea juga merasa tertantang. Pemeran Ilona dalam film Rudy Habibie itu sebetulnya sudah lama bergelut dengan teater. Namun, untuk teater dengan naskah dan dialog yang cukup panjang, itu adalah yang pertama baginya. 

”Apalagi, aku harus bernyanyi dan beradaptasi dengan lagu dan panggung. Harus atur blocking dan tempo. Ini sesuatu yang baru dan menantang,” ujarnya. (*/10/ari)

Berita Terkait