Pembangunan Jalur Paralel Jembatan Landak Belum Bisa Dipastikan

Pembangunan Jalur Paralel Jembatan Landak Belum Bisa Dipastikan

  Jumat, 7 Oktober 2016 09:30
UJI NYALI: Sekelompok anak-anak bersiap-siap melakukan uji nyali terjun ke Sungai Kapuas dari atas jembatan. Ditunggu beberapa saat oleh para “suporter” yang ada di geretak tepi sungai, ternyata mereka mengurungkan niatnya. MUJADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengungkapkan, proses pembangunan Jembatan Paralel Landak akan terus berlanjut. Namun belum bisa dipastikan pengerjaan dimulai tahun depan, sebab masih ada pertimbangan kondisi keuangan negara. 

Dia menjelaskan untuk detail engineering design (DED) sudah dibuat. Bahkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Nasional telah dianggarkan untuk tahap awal sebesar Rp50 miliar. 

“Mudah-mudahan tahun depan bisa mulai pengerjaan. Tapi tentu melihat kondisi keuangan negara, kalau bagus saya rasa pasti dimulai,” katanya saat ditemui di Rumah Dinas Wali Kota, Kamis (6/10).

Dari pembicaraan Konferensi Regional Kementerian Pekerjaan Umum (PU) beberapa waktu lalu, Sutarmidji mengatakan, jembatan pararel Landak akan dikerjakan dengan metode multiyears. Diperkirakan total anggaran yang akan dihabiskan sebesar Rp600 miliar. Semua dana bersumber dari pemerintah pusat. “Tapi apakah direalisasikan, kami belum tahu pasti karena pertimbangannya tentu kondisi keuangan negara, itu saja,” ujarnya. 

Beberapa waktu lalu, Kepada Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak, Ismail juga menjelaskan, dengan pembangunan multiyears, perkiraan jembatan tersebut bisa selesai dalam periode dua sampai tiga tahun. 

Dia berharap tidak ada lagi perubahan tahun pemulaian pembangunan, karena usulan ini sudah masuk dalam base line. Artinya semua persyaratan pembangunan sudah lengkap.

“Usulan ada dua. Base line dan stok. Kalau masuk dalam stok masih tergantung pada situasi, artinya kelengkapan masih kurang, misal pembebasan tanahnya belum lengkap. Tapi kalau sudah masuk base line, itu sudah lengkap semua,” paparnya.

Rencananya jembatan pararel Landak dibangun berdampingan dengan Jembatan Landak yang lama. Dalam studi kelayakan yang dilakukan oleh Bappeda Pontianak, ada tiga alternatif lokasi pembangunan. Di kiri dan kanan samping jembatan lama atau di tempat yang baru.

“Tapi ada pengarahan dari wali kota, ingin dibangun berdampingan untuk mengatasi kemacetan di sana,” ungkap Ismail.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Pontianak Herman Hofi Munawar berpendapat sebenarnya Kota Pontianak cukup terlambat dalam membangun. Dia pun membandingkan dengan beberapa daerah yang memiliki karakteristik wilayah sama dengan Pontianak. Semisal di Palembang, yang juga sama-sama dibelah dua sungai, lalu di Kalsel. 

“Tapi di sana punya jembatan yang cukup signifikan, sehingga tidak ada kemacetan yang dirasa cukup berat oleh masyarakat,” katanya. 

Berbeda dengan di Pontianak, lanjut dia sudah sekian dasawarsa tapi belum juga memiliki jembatan yang representatif. “Padahal kita tahu jembatan itu adalah urat nadi perekonomian. Bisa dibayangkan ketika jembatan tidak berfungsi baik, distribusi barang akan terhambat. Jika sudah terhambat, berarti akan berpengaruh pada harga di tingkat masyarakat,” tambahnya. 

Hal tersebut menurutnya menjadi dasar kenapa pembangunannya jembatan paralel ini harus disegerakan. “Memang pemkot tidak punya kewenangan, tergantung pada pemerintah pusat lewat pemprov, tapi tentu pembangunannya harus didorong. Jembatan ini bukan hanya kepentingan masyarakat kota saja, tapi seluruh masyarakat Kalbar, jadi perlu disegerakan betul,” pintanya.  

Dia juga berharap anggota legislatif asal Kalbar di DPR dapat ikut memperjuangkan. Agar ada percepatan-percepatan dalam penambahan jembatan tersebut. “Karena yang ada saat ini sudah memprihatinkan. Tidak hanya jembatan Landak, tapi juga jembatan Kapuas I, sangat dibutuhkan, kasihan masyarakat jika terlalu lama,” tandasnya.(bar)

Berita Terkait