Pembangunan Infrastruktur Marak, Arsitek “Berburu” Pasar

Pembangunan Infrastruktur Marak, Arsitek “Berburu” Pasar

  Selasa, 19 January 2016 08:24

Berita Terkait

Pemerintah menelurkan berbagai program pembangunan infrastruktur untuk beberapa tahun ke depan. Sementara swasta, walaupun agak mengendor tetap mengeluarkan investasi untuk gedung. Sektor properti masih menjanjikan. Konsultan, para arsitek dan ahli konstruksi punya banyak peluang. Namun diantara ke tiganya, arsitek masih mencari pasar.Aristono, Pontianak

MEMILIK perusahaan sendiri adalah bagian dari impian para arsitek dan konsultan konstruksi. Perusahaan konsultan arsitektur masih jarang terdengar di Kalimantan Barat. Jasa konsultan rancang bangun belum banyak dikenal. Namun belakangan, seiring maraknya pembangunan perumahan dan gedung, para arsitek mulai banyak dicari. Kendati demikian pasarnya belum ideal di Kalbar.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Kalbar, Ahmad Roffi mengatakan, masyarakat masih menganggap remeh profesi arsitek. Terbukti dengan sepinya para pelaku jasa arsitek berlabel profesional di Kalbar. “Di Kalbar ini hanya ada 8 orang saja yang benar-benar berkecimpung total di bidang arsitektur, baik eksterior maupun interior,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Menurutnya, pasar Kalbar saat ini belum terbentuk sempurna untuk jasa arsitektur. “Saya pikir paling cepat lima tahun lagi baru orang di Pontianak akan mencari-cari arsitek, seiring berkembangnya Pontianak menjadi metropolitan. Saat ini hanya kaum menengah ke atas, perusahaan, instansi pemerintah yang membutuhkan jasa arsitek. Karena masih minimnya peluang ini, tidak heran banyak sarjana arsitektur yang memilih menjadi PNS, konsultan proyek atau malah sektor yang jauh dari keahliannya,” ungkap dia.

Masyarakat masih memandang arsitek hanya sebagai tukang gambar rumah. Padahal pemilik perusahaan konsultan arsitek Tri Wastu di Jalan Karangan Pontianak ini menyebut tugas arsitek lebih jauh dari itu. Arsitek, kata dia, adalah profesi bersertifikat dan dianggap ahli di bidagnya. Tugasnya adalah mendampingi pemilik rumah atau gedung untuk merancang bangunan sebaik-baiknya.

Dia terlibat dalam segala perencanaan, merancang, dan mengawasi konstruksi bangunan. Perannya memandu keputusan yang memengaruhi aspek bangunan tersebut dalam sisi estetika, budaya, atau masalah sosial. Bahkan rencana anggaran dan biaya dari pembangunan juga dihitung oleh arsitek.

Hal serupa diungkapkan oleh Ketua Pusat Desain Universitas Tanjungpura, Emilia Khalsum. “Arsitek posisinya sama seperti pengacara di bidang hukum. Dia harus mendamping kliennya untuk membangun rumah yang nyaman. Dia bertanggungjawab penuh terhadap itu. Baik secara fungsi bangunan maupun keindahan, termasuk aspek lingkungannya,” kata dia.

Di luar negeri dan kota-kota besar di Indonesia, kata dia, arsitek adalah profesi yang sangat dihormati dan menjanjikan kesejahteraan. “Arsitek bisa mendapatkan penghasilan yang besar sesuai dengan bidangnya. Apalagi bila sudah memiliki nama dan reputasi, arsitek itu akan terus dicari. Bahkan arsitek yang tidak terkenal atau pemula menggarap pasar yang lebih rendah, seperti rumah pribadi dan perumahan,” sebut mantan ketua jurusan arsitektur Untan ini.

Masih rendahnya permintaan terhadap jasa arsitek di Kalbar, selain berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat, juga berkaitan dengan peraturan pemerintah yang belum berpihak ke profesi ini.

“Di banyak negara untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan, seseorang harus mengajukan desain lengkap dari seorang arsitek profesional. Sedangkan di kita kan memang sudah ada aturan seperti itu, tetapi arsiteknya kadang bukan profesional dan sekadar syarat.”

Namun seiring semakin modernnya masyarakat, Emilia percaya permintaan atas jasa arsitektur akan semakin meningkat. “Semakin tingginya permintaan untuk membangun rumah juga tingginya minat masyarkat untuk menggunakan jasa arsitek desain rumah untuk membangun rumah mereka, memberi peluang pasar tersendiri. Hal ini yang membuat jasa arsitek punya peluang,” pungkasnya. (**)

Berita Terkait