Pembalakan Hutan Kendawangan Digerebek

Pembalakan Hutan Kendawangan Digerebek

  Selasa, 22 December 2015 10:17
Foto dari Mapolres Ketapang

 
KETAPANG - Jajaran Polres Ketapang berhasil meringkus pembalak hutan di Kendawangan pada Jumat (18/12) sore. 15 orang digelandang ke Mapolres Ketapang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Sementara empat unit alat berat dan sekitar 400 kubik kayu yang telah dipotong diamankan sebagai barang bukti.

Kapolres Ketapang, AKBP Hady Poerwanto, mengatakan, penangkapan terhadap para pelaku ilegal loging ini karana adanya laporan dari masyarakat terkait aktifitas pembabatan hutan di Dusun Jelemuk Desa Kedondong Kecamatan Kendawangan."Penggerebekannya Jumat (18/12) sore," kata Hady, kemarin (21/12).

Penggerebekan dilakukan oleh sembilang anggota Polres dan Polsek Kendawangan yang dipimpin Iptu Damanik. Dari penggerebekan tersebut, polisi berhasil mengamankan 15 orang yang sedang berada di lokasi pembalakan. Selain itu, empat unit eksavator, tujuh mesin pemotong kayu serta sekitar 400 kubik kayu diamankan untuk dijadikan barang bukti.

"Untuk empat eksavator dan mesin pemotong diamankan di Mapolsek Kendawangan. Untuk kayu yang sudah dipotong itu ada sekitar sembilan tumpuk. Totalnya sekitar 400 kubik, sudah kita berikan police line di lokasi," jelasnya. Sedangkan 15 orang yang terdiri dari karyawan dan orang yang mengkoordinir di lapangan sudah dibawa ke Mapolres untuk pemeriksaan lebih lanjut. "Untuk saat ini masih dalam pengembangan. Kita minta keterangan dari 15 orang, termasuk orang yang mengkoordinir dan mengaku sebagai pemilik lahan yang dibabat tersebut," lanjut Hady.

Lebih lanjut Hady mengungkapkan, mereka mulai memasuki kawasan yang menjadi konsesi PT Hutan Ketapang Industri (HKI) tersebut sejak 2 Desember lalu. "Mereka ini bukan orang Ketapang, tapi orang Kalimantan Tengah. Ini juga bukan perusahaan, tapi perorangan. Mereka datang karena ada orang yang menunjukkan ke kawasan konsesi PT HKI itu. Itu yang sedang kita dalami," ungkapnya.
Kayu yang dibabat adalah jenis kayu Akasia. Pihaknya masih mendalami, apakah kayu-kayu tersebut akan dikirim keluar atau diolah sendiri.
"Yang sudah dibabat ada belasan hektare. Namun, untuk persisnya masih belum tau karena belum kita ukur. Yang jelas, di kawasan itu sudah dibangun pondok-pondok untuk penginapan dan camp pekerja," paparnya.
Jika para pembalak tersebut terbukti melakukan aktivitas ilegal loging, maka sesuai dengan UU RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun dan denda Rp5 miliar.
Kepala Dinas Kehutanan Ketapang, JP Setioharnowo melalui Kasi Pengamanan Hutan dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), M Junaidi Wiranta, mengatakan, ada di antara pelaku yang mengeluarkan Surat Keterangan Tanah (SKT). Tapi sepengetahuannya, dalam kawasan itu tidak boleh ada hak milik karena itu hutan negara hanya hak pengelolaannya PT HKI.

"Jika dilihat status itu hutan produksi artinya ada hak pengelolaan PT HKI. Tapi jangankan orang lain, PT KHI saja jika mau membawanya harus dilengkapi dokumen. Jadi dalam undang-undang kehutanan, mengangkut atau menerima titipan saja tak boleh," katanyaIa menambahkan persoalan ini sudah ditangani kepolisian. Biasanya kepolisian akan mengirim surat ke pihaknya meminta bantuan tenaga pengukuran dan sebagai saksi ahli. "Nanti kita dipanggil sampai ke proses pengadilan. Jadi posisi kita menunggu," ujarnya. (afi)