Pembakaran Lahan Kejahatan Luar Biasa

Pembakaran Lahan Kejahatan Luar Biasa

  Selasa, 19 April 2016 19:45
Haryadi/Pontianak Post

Berita Terkait

PONTIANAK--Upaya penangan kebakaran hutan dan lahan yang dilakukan oleh berbagai pihak lebih menitikberatkan pada tindakan-tindakan responsif ketimbang upaya pencegahan. Jikapun ada upaya pencegahan yang dilakukan investasi yang dialokasikan jauh lebih kecil ketimbang investasi untuk melakukan tindakan respon darurat. Oleh sebab itu tidak mengherankan bila kejadian kebakaran terus terulang dan terulang lagi sehingga menjadi agenda rutin.

Menurut Yesua Pellokila yang membidangi program UNDP REDD+, lemahnya penegakan hukum yang terjadi dalam kasus Karhutla membuat para pelakunya tetap melakukan hal tersebut berulang-ulang. Sehingga tidak ada efek jera yang menimbulkan ketakutan fisikologi bagi pelaku pembakaran ataupun perusahan perkebunan. “Masih banyak peraturan yang kurang jelas dan tumpang tindih,” ungkapnya saat menyampaikan materi diskusi di Hotel Aston, Selasa(19/4).

Masih menurutnya ada 300 kasus lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia. Diantaranya masuk kasus dalam Karhutla. Namun lemahnya penanganan kasus-kasus tersebut membuat penangannya gagal masuk ke persidangan. Yesua menyebutkan bahwa sedikitnya saksi ahli dalam hal lingkungan juga memperburuk kondisi tersebut. Dalam catatannya hanya ada dua orang saksi ahli yang cukup getol bersuara.

Penyebabnya cukup realiitis kenapa saksi ahli yang ada cukup minim? Alasannya adalah dalam persidangan perusahaan-perusahan besar yang memiliki modal tak terbatas. “Keselamatan dan ancaman menjadi masalah utama,” ungkap Yesua.

Ia pun menganalogikan kasus-kasus Karhutla seperti  kejahatan mafia dan sudah menjadi kejahatan luar biasa. Terangnya dalam workshop  bagi para jurnalis di Pontianak.(yadi)

Berita Terkait