Pembacanya Tak Hanya dari Indonesia tapi Juga Luar Negeri

Pembacanya Tak Hanya dari Indonesia tapi Juga Luar Negeri

  Rabu, 22 June 2016 09:30
KOMIK: Pasangan suami istri Romy Hernadi dan As-syifa S Arum menunjukkan buku komik karya mereka. REXAKHARSANDY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Pasangan suami istri Romy Hernadi dan Assyifa S Arum belum begitu dikenal di Pontianak. Padahal dari kedua tangan mereka, lebih dari seratus komik telah terbit. Pembacanya tak hanya di Indonesia, melainkan dari luar negeri pula.  

REXA KHARSANDY, Pontianak

Di balik rumah sederhana di dekat Taman Akcaya, Pontianak Selatan, Pontianak tinggallah sepasang komikus yang cukup berpengaruh di dunia perkomikan Indonesia. Mereka adalah pasangan suami istri Romy Hernadi dan Assyifa S Arum, pendiri studio sekaligus kursus menggambar Banana Bee Pontianak. 

Dinding rumah mereka terpajang berbagai sampul komik karya mereka. “Ada sekitar 100 judul lebih yang telah diterbitkan,” kata Romy Hernadi, pendiri Banana Bee di ruang kerjanya, Selasa (21/6).

Pasangan lulusan Desain Komunikasi Visual di Institut Teknologi Nasional Bandung  itu berbagi tugas dalam membuat komik. Sang istri, Assyifa S Arum, biasanya mengambil alih jalan cerita atau naskah, sedangkan Romy Hernadi menggambar komiknya. Untuk komik berwarna, sang suami merangkap menjadi colorist (pewarna) 

Beberapa komik yang telah mereka luncurkan, antara lain seri Ghost School Days, Princess Academy, Darko, Kemal Putri, Little Snippet, KKPK Next G, The Raid, Eye Candy, dan lain-lain. Dalam sebulan, mereka mampu menghasilkan hingga tiga komik. Karena itu, Romy berhasil menyabet penghargaan Komikus Terproduktif versi penerbit CAB dan Mizan. Romy pun beberapa kali mengisi seminar mengenai pembuatan komik, desain, serta ilustrasi di berbagai kampus Indonesia.

Komiknya yang berjudul The Raid merupakan adaptasi dari film The Raid. Romy bekerja sama dengan Rantau Film dalam pembuatan komik tersebut. Komik itu pun dapat ditemui di toko buku di kota-kota besar Indonesia. “Ada juga yang disebarkan ke luar negeri,” ujar Romy.

Selain membuat komik cetak, dia juga membuat komik online di situs dan aplikasi Line Webtoon. Di situs tersebut, dia membuat komik berjudul Banana Bee dan Catatan Perjalanan. Dan, Banana Bee pun kemudian diterbitkan ke dalam bentuk cetaknya.

Inspirasi dari komik-komik yang telah dibuatnya berasal dari hasil membaca dan menonton film. Menurut Assyifa, inspirasinya didapatkan dari buku anak-anak dan film animasi Jepang. Assyifa menambahkan, inspirasi naskah komiknya bersama suami berasal dari pengalaman pribadi. “Tapi, pengalaman pribadi yang sudah dibumbui,” kata Assyifa.

Alasan Romy terjun ke dunia komik bukan karena dukungan dari orang tua, melainkan sebaliknya. Larangan orang tuanya yang menganggap dunia komik tak menjamin hidupnya membuat dirinya termotivasi memperdalam dunia komik. “Bahkan, dulu saat masuk jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Teknologi Nasional Bandung pun sempat ditentang orang tua,” ujarnya.

Perkembangan komik dunia yang sudah sangat maju membuat banyak komikus bermunculan. Banyak komik yang terbit dan kemudian diadaptasi menjadi film dan serial televisi. Salah satu contohnya adalah adalah Flash Comic. Komik besutan DC Comic tersebut diadaptasi menjadi serial televisi dengan nama The Flash.

Selain di luar negeri, Indonesia pun mempunyai komik-komik yang turut meramaikan masa emas komik di Indonesia. Ada Gundala Putra Petir (1969) oleh Harya Suraminata, Si Buta dari Goa Hantu (1967) oleh Badra Mandrawata, dan Godam Manusia Besi (1969) oleh Widodo Nur Slamet. Adapun, beberapa di antara komik era 1960 hingga 1970-an tersebut sudah diadaptasi ke layar kaca televisi, misalnya Si Buta dari Goa Hantu.

Melihat perkembangan komik di Indonesia, Romy melihat Indonesia memiliki potensi yang besar di bidang komik. Perkembangan di Pontianak pun tak kalah bersaing. Di Pontianak muncul beberapa komikus yang berkarya melalui Webtoon Challenge dan membuat komik di komunitasnya. Salah satu karyanya adalah Warkop Kalbar: Wadah Karya Komik Pelajar yang diterbitkan Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat.

Selain menyalurkan hobi dan kreativitas, komik menjadi sarana Romy dan Assyifa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka mampu meraup belasan juta rupiah dalam sebulan. “Dari satu komik, kami bisa dapat tujuh hingga delapan digit angka,” tambah istri Romy tersebut.

Walaupun potensi yang besar yang dimilikinya, komikus masih mendapat perhatian yang kurang dari pemerintah. Harapan Romy adalah komikus semakin dihargai oleh masyarakat.  Akibat kurangnya apresiasi positif dari masyarakat dan pemerintah, menurut Romy, banyak komikus yang akhirnya lebih memilih berkarya di luar negeri dibanding di dalam negeri. (*)

Berita Terkait