Peluang Usaha Batik bagi Pelajar , Motif Khas Kalbar Pun Diminati

Peluang Usaha Batik bagi Pelajar , Motif Khas Kalbar Pun Diminati

  Jumat, 19 February 2016 07:55
BATIK KREATIF: Batik dengan motif lokal Kalbar hasil kreasi pelajar SMKN 3 Pontianak MARSITA RIANDINI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Setiap hari Jumat, tak hanya di instansi pemerintah saja, di berbagai kantor ataupun perusahaan banyak yang menerapkan aturan agar karyawannya berbatik. Ada yang memilih menggunakan batik khas Jawa, banyak pula yang merambah ke batik lokal, khas Kalbar. Ini pun menarik peluang usaha yang menjanjikan bila serius di kembangkan. Oleh : Marsita RiandiniREN berbusana batik dari hari ke hari semakin berkembang. Usaha menjual bahan, ataupun busana batik masih cukup menjanjikan. Terlebih batik khas Kalbar yang saat ini belum terlalu ramai “pemainnya”. Ini pula yang dikembangkan di SMKN 3 Pontianak.

Sejak tahun 2012, mereka sudah melatih anak didiknya untuk belajar membatik. Bahkan di tahun 2013 sudah ada batik yang dipamerkan. “Awalnya tertarik mengajarkan anak-anak membatik, kebetulan di tahun 2012 ada pengrajin batik yang melakukan penelitian kemari, lalu membagikan ilmunya kepada kami disini. Tahun pertama masih tahap belajar, baru tahun ke dua kami mulai mandiri dan menghasilkan batik sendiri,” jelas Wasilah Anim, Guru mata pelajaran SBK dan Akutansi yang mendampingi siswa membatik.

Mereka juga pernah berhasil melelang kain batik tulis senilai 4 juta rupiah dengan ukuran 2 meter pada sebuah acara yang berlangsung di Museum Kalbar. “Motifnya itu seorang lelaki dayak yang sedang menyumpit,” bebernya.

Jika dikembangkan, usaha ini cukup menjanjikan. Dia mengatakan ada salah satu alumni SMK N 3 Pontianak yang membuka usaha ini di Sintang. “Jika batik tulis khan cuma butuh canting, malam (cairan membatik), dan kain. Bisa untuk lingkungan keluarga, atau bisa pula bekerjasama dengan disperindag,” papar dia.

Tak sulit kata dia belajar membatik. Bahkan saat ini, anak didiknya sudah bisa menghasilkan batik cap, batik celup, dan batik tulis. “Hanya saja yang batik tulis itu khan menggunakan cantingan, jadi lebih lama. Tapi harganya pun lebih mahal. Karena tak sekedar menjual motif dan warna, tetapi juga proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu lama,” ujar dia.

Teknik untuk batik tulis bisa mengikuti delapan jurus. “Pertama kita sendokkan malam di canting, tundukkan canting biar stabil, lalu break atau diamkan sebentar. Setelah itu usapkan malam ke wajan jika ada cairan yang menetes. Baru tuliskan ke kiri dan kanan. Kalau sudah dingin malamnya jangan dilanjutkan harus dibuang,” kata dia.

Satu helai kain batik tulis dengan ukuran dua meter, rata-rata dapat selesai dikerjakan satu hingga dua minggu. “Ini karena anak-anak juga fokus belajar, sepulang sekolah baru membatik,” kata dia.

Berbeda halnya dengan batik cap. Proses pengerjaannya lebih sebentar tetapi membutuhkan modal yang cukup besar. “Dia harus ada cap yang sudah bermotif. Harus pesan ke Jawa. Kami sudah punya beberapa, seperti cap corak insang, lidah buaya bertahta, bunga berjejer, bunga daer, kantong semar, paku, mawar hitam, bambu, burung hitam, ini motif paku kapuas, dan bunga simpur,” ucapnya.

Sementara batik celup proses pengerjaannya jauh lebih mudah. Itu sebabnya harga jualnya pun juga lebih murah dari batik tulis dan batik cap. “Batik celup 150 sampai  200 ribu, batik cap itu 250 ribu hingga 300 ribu. Batik tulis bisa 300 hingga 500 ribu rupiah,” jelasnya.

Kesulitan awal terdapat pada bahan baku yang menurut Wasilah cukup mahal. “Karena kita belinya ke pengrajin, jadi harganya mahal. Tetapi kalau sudah punya link di Jawa dan bisa pesan langsung harganya bisa lebih murah. Pun anak-anak jadi bersemangat karena bisa merasakan omzet yang dihasilkan dari karya mereka,” ucapnya.

Bahan untuk membatik adalah bahan kain yang mengandung kapas. Seperti bahan santung, sutra dan lainnya. “Untung mengetahui ada unsur kapas atau tidaknya, bisa dengan cara dibakar. Jika dibakar abunya seperti abu rokok, abu racun nyamuk berarti dia mengandung kapas. Tetapi jika menggulung setelah dibakar bisa itu bahan sintetis atau ada campuran plastik,” tutur dia.

Teori membatik ini pun dimasukkan dalam mata pelajaran kewirausahaan dan SBK (seni budaya dan Keterampilan. Bahkan setiap angkatan diwajibkan membuat batik sesuai kelas masing-masing dan motif yang diinginkan. Setiap Sabtu akhir bulan, akan terlihat anak-anak SMK N 3 Pontianak berseragam batik hasil karya mereka. “Secara teknis tidak ada yang sulit. Buktinya di tahun ke empat anak-anak enjoy mengerjakannya,” terang dia.

Tak hanya baju untuk angkatan mereka saja, siswa di SMKN 3 Pontianak ini juga biasanya membuat baju untuk mereka magang, dan perpisahan. Soal pemasaran, lanjut dia tidak begitu sulit. Selain di sekolah, mereka juga kerap diikutsertakan dalam pameran.Dinas perdagangan juga memberikan fasilitas berupa alat membatik. “Banyak yang sudah mengenal batik kami ini. Bahkan pernah diikutsertakan saat pameran di Serawak, Malaysia. Kami tidak fokus pada satu motif, misalnya hanya corak insang saja, tetapi juga ke motif lain yang lebih bervariasi,” pungkasnya. (*)

 

Berita Terkait