Peluang Menambah Penghasilan

Peluang Menambah Penghasilan

  Rabu, 30 Agustus 2017 10:00

Berita Terkait

PERSONAL shopper jadi jasa titip beli yang sedang tren saat ini. Terlebih dalam proses merintis usahanya sendiri tak perlu membutuhkan modal yang besar. Personal shopper hanya perlu memiliki kemampuan teknologi, khususnya penggunaan sosial media yang baik. Tak luput pula kemampuan komunikasi yang baik agar dapat menarik minat pembeli.

Melihat jasa titip atau personal shopper yang semakin berkembang dan jadi peluang untuk menambah penghasilan, khususnya bagi kawula muda. Dr. Helma Malini, SE., MM., turut memberikan perhatian.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan ini mengaku kehadiran personal shopper sendiri sebenarnya sudah berlangsung lama. Awalnya, personal shopper banyak digunakan oleh orang yang nggak memiliki waktu sekadar untuk berbelanja, misalnya para selebriti baik tanah air maupun mancanegara. Sehingga, para personal shopper ini diwajibkan memiliki kemampuan dan pengetahuan fashion yang baik. “Bisa dikatakan personal shopper saat itu adalah sebuah profesi atau keahlian,” tuturnya.

Nggak heran nih, guys, jika di masa itu, personal shopper digaji setiap bulannya. Dan gajinya pun sangat besar. Namun, seiring perkembangan kini hanya bermodalkan gadget, seseorang sudah bisa menjadi seorang personal shopper. Konsep personal shopper pun tampak berbeda, lebih tepatnya menjadi medium. Arti kata medium di sini adalah dikarenakan personal shopper saat ini lebih pada mempertemukan barang yang diinginkan kepada pembelinya. Jadi, dianggap sedikit melenceng dibandingkan dengan konsep terdahulu.

“Dulu, selain harus memiliki pengetahuan yang baik, personal shopper turun langsung ke lapangan untuk mencarikan barang yang sesuai. Kemudian ia akan membelanjakan dan diantar kembali ke pembelinya,” ujar Helma. Kini, personal shopper lebih pada memfoto barang, menampilkannya di website atau sosial media. Jika ada yang tertarik, personal shopper akan membelikannya.

Dari proses membelikan inilah, personal shopper mendapatkan fee. Personal shopper juga bisa mendapatkan fee dengan menaikkan sedikit harga barang atau menambah fee barang tersebut. Misalnya harga barang sebesar Rp200ribu dengan fee sebesar Rp25ribu. Sehingga, total keseluruhan menjadi Rp 225ribu.

Media sosial yang digunakan personal shopper juga sudah banyak, mulai dari LINE, WhatsApp dan Instagram. Akan tetapi, platform yang lebih menjual adalah Instagram. Menurut Helma, Instagram dapat menggambarkan bentuk visual dari barang yang akan dijual. Ini yang membuat costumer tertarik untuk membeli. Intinya, konsep personal shopper saat ini lebih baik individu ke individu.

Selain fashion, barang lain juga tak luput dari mata personal shopper. Seperti halnya kosmetik hingga alat kesehatan. Untuk kosmetik, meski tak berbahaya karena customer sudah mengetahui barang yang diinginkan. Hanya tetap saja beresiko, misalnya ketidakcocokan jenis warna kosmetik pada kulit.

“Personal shopper masa kini itu nggak bertemu dengan pembeli. Bertemunya lewat dunia maya. Sulit untuk menyatukan apa yang diinginkan,” tambahnya. Ketika ada keluhan dan komplain, akan berdampak besar pada sisi ekonomi personal shopper itu sendiri. Terlebih jika timbul secara terus menerus. Bisa saja fee yang harusnya didapatkan personal shopper tak di-cover oleh customer.

Helma pun berpesan, sebelum terjun sebagai personal shopper tak ada salahnya untuk mempelajari apa saja yang mesti dipersiapkan, mulai dari awal hingga ketika mendapatkan keuntungan. Dengan begitu, kamu dapat menjalankan bisnis ini dengan baik tanpa kendala. (ghe)

Berita Terkait