Pelihara Babi Tak Berkeliaran, Ini Aturan Desa Bagan Asam, Sanggau

Pelihara Babi Tak Berkeliaran, Ini Aturan Desa Bagan Asam, Sanggau

  Minggu, 16 Oktober 2016 10:36
FOTO SUGENG/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Kebanyakan disejumlah tempat, hewan peliharaan seperti babi masih dilepasliarkan oleh pemiliknya. Hal ini justru tidak terlihat di Dusun Mentuak, Desa Bagan Asam, Kabupaten Sanggau saat saya mengunjungi daerah yang berbatasan langsung dengan Ketapang dan Kubu Raya ini. Seperti apa komitmen yang dibangun warga disana?Inilah informasinya.

SAAT jarum jam menunjukkan pukul 12.30 wib, saya sampai di Dusun Mentuak. Daerah paling hulu di Kecamatan Toba. Saya berjalan menyusuri jalan rapat beton yang di kiri dan kanannya berderet rapi rumah warga. Suasananya cukup sejuk meski siang itu cuaca cerah sekali.

Selama berjalan kaki, saya tidak melihat ada babi yang berkeliaran. Hanya beberapa hewan seperti anjing. Itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Bagi saya ini tidak lazim. Kebiasaan yang terlihat di sejumlah perkampungan, biasanya babi dilepas liar oleh pemiliknya.

Dusun ini mayoritas dihuni oleh suku dayak yang berdampingan dengan suku-suku lainnya. Disini juga ada sekira 17 Kepala keluarga (KK) yang beragama Islam. Selebihnya beragama Nasrani. Hal ini Nampak dari bangunan gereja dan mushola yang ada ditempat tersebut.

Sembari berjalan, saya menanyakan kepada Kepala Dusun, Pak Apin. Sambil menikmati perjalanan dia mengatakan bahwa dulunya memang kondisinya tidak seperti sekarang. Hewan peliharaan khususnya babi milik warga setempat dilepas liar. Tetapi sekarang tidak lagi.

Semenjak dirinya dipercaya menjadi kepala dusun, sejumlah perubahan dilakukannya bersama masyarakat setempat. Satu diantaranya adalah mengandangkan semua babi peliharaan. Ini dilakukan untuk menjaga kebersihan kampungnya tersebut.

“Dulu ya sama seperti dikebanyakan tempat. Tapi sekarang tidak lagi. Pelan-pelan saya ajak warga membicarakan hal ini dan sampai sekarang kamu tidak lihat lagi babi berkeliaran kan,” kata pria 56 tahun ini menjelaskan.

“Apa rahasianya pak,” ujar saya bertanya. “Tidak ada yang istimewa kok. Yang penting bagaimana membuat masyarakat sadar agar kampung ini tetap bersih dari kotoran-kotoran babi,” ungkapnya. Awalnya mungkin sedikit berat, tetapi karena masyarakatnya mau dan sadar akhirnya bisa terlaksana.

Pak Apin sendiri memelihara beberapa ekor babi. Dia sendiri memberi contoh agar masyarakat juga mau ikut memelihara babinya tetap di kandang. Komitmen ini yang coba dibangun oleh masyarakat disini. Jadi sebenarnya bukan karena dirinya mau menggurui masyarakat dalam memelihara babi. Tetapi lebih pada upaya menciptakan kampungnya tetap bersih.

Diakuinya, meski memelihara babi, dia juga kadang jijik jika melihat kotorannya berserakan di halaman rumah atau dijalan kampung. Apalagi disini banyak anak-anak. “Saya jujur saja ndak tahan dengan bau kotorannya. Makanya inisiatif ini dijalankan saja.

Saya kemudian diajak pak Apin untuk melihat langsung kandang-kandang babi milik warga setempat. Dari beberapa rumah yang saya kunjungi hewan babi dipelihara di kandangnya saja. Tidak dilepas liarkan lagi. Setiap hari, kandang-kandang ini dibersihkan untuk menghindari bau dari kotoran babi peliharaan.

Usai melihat langsung kandang-kandang babi milik warga, saya bersama pak Apin kemudian melanjutkan ngobrol disebuah rumah warga. Saya kembali bertanya pada pak Apin apakah resiko bagi warga yang babinya sengaja dilepaskan atau secara kebetulan lepas dari kandang.

Dengan tegas dia berkata “Kami bunuh,”. Membunuhnya dengan cara ditembak. Inilah resikonya. Jadi tidak ada toleransi kalau ada babi yang terlihat berkeliaran di kampong ini. Itu komitmen yang kami bangun disini.

Kesadaran warga disini menurut saya patut diacungi jempol. Tidak mudah menciptakan kondisi seperti disini. Kesadaran dan kemauan yang dibangun oleh warga memperlihatkan bagaimana kebersihan kampong ini dari kotoran hewan peliharaan khususnya babi.

Sebenarnya, kondisi ini yang pernah diharapkan oleh orang nomor satu di Kabupaten Sanggau, Paolus Hadi. Bupati terpilih tahun 2014 lalu ini juga sempat menyampaikan himbauannya kepada masyarakat agar mengandangkan hewan ternak seperti babi agar tidak berkeliaran.

Saya kira ini bentuk kesadaran yang luar biasa dan patut menjadi contoh daerah lain. Dengan begitu kebersihan akan tercipta dengan sendirinya. Termasuk juga menghindari kasus-kasus kecelakaan lalu lintas yang disebabkan hewan peliharaan yang berkeliaran di jalan raya. (sugeng rahadi) 

Berita Terkait