Pelaku Penembakan Pernah Gabung ISIS

Pelaku Penembakan Pernah Gabung ISIS

  Rabu, 4 January 2017 09:30
INSIDEN MAUT: Seorang pria meletakkan bunga di depan pintu masuk kelab malam Reina, kemarin. Polisi juga menyebarluaskan foto pelaku yang berlatar Taksim Square di pusat Kota Istanbul. REUTERS/MURAD SEZER

Berita Terkait

Mahir Gunakan Senjata, Masuk dari Syria

ISTANBUL – Polisi Turki masih terus memburu pelaku penembakan di kelab malam Reina pada Minggu dini hari (1/1). Dua foto pelaku yang diambil dari rekaman closed circuit television  (CCTV) dan video rekamannya sendiri disebarluaskan mulai kemarin (3/1). Beredar kabar bahwa pelaku adalah pria radikal yang pernah bergabung dengan ISIS di Syria.

Sejauh ini polisi mengamankan 12 orang yang diduga terlibat dalam insiden maut yang merenggut 39 nyawa tersebut. Empat di antaranya ditangkap di Kota Konya, ibu kota Provinsi Konya. Kantor berita Dogan melaporkan bahwa perempuan yang disebut-sebut sebagai istri pelaku juga diamankan. Sayang, identitas pelaku yang diyakini masuk Konya dari Syria itu belum diketahui. 

”Kami mendapatkan data sidik jari pelaku dan berharap identitasnya bisa segera diketahui bersama,” kata Wakil Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmus. Hasil investigasi menyebutkan bahwa pelaku bukanlah pemain baru. Dari gerak-gerik yang tertangkap kamera pengawas, pelaku terlihat mahir menggunakan senjata. Dia tidak ragu-ragu melancarkan aksi tunggalnya.  

Terpisah, Abdulkadir Selvi, kolumnis surat kabar Hurriyet, menyatakan bahwa pemerintah sebenarnya sudah mengantongi identitas pelaku. Hanya, pemerintah belum bersedia memublikasikannya. Konon, pelaku berasal dari salah satu negara di kawasan Asia Tengah. Kemarin pemerintah Kirgistan menindaklanjuti laporan tentang pelaku yang diduga berasal dari wilayahnya tersebut. Mereka siap bekerja sama dengan Turki.

”Pelaku terlihat sangat terlatih. Kabarnya, dia pernah ikut bertempur dengan ISIS di Syria dan menggunakan teknik penembakan yang sama dengan yang dipakai saat menghabisi para pengunjung kelab malam,” papar Selvi. Dia yakin, pelaku melewati proses seleksi yang ketat sebelum dipercaya melancarkan penembakan tersebut sendirian. 

Di antara 180 peluru yang diberondongkan ke arah para korban pada Minggu dini hari itu, hanya 28 peluru yang tidak mengenai sasaran. Selebihnya, semua peluru yang dimuntahkan dari sedikitnya empat magasin tersebut bersarang di tubuh para korban. Entah itu korban tewas maupun korban luka. ”Pelaku sangat piawai menembak dengan menyangga senapan di pinggul. Tidak seperti sniper,” lanjutnya. 

Fakta bahwa pelaku belum tertangkap sampai sekarang membuat pemerintah harus ekstra waspada. Apalagi, pelaku yang menyandang Kalashnikov itu masih berkeliaran sambil membawa senjata. ”Kini yang seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah adalah menangkap pelaku dan menetralisasikan jaringan radikal yang melindunginya di Turki. Cara itu paling efektif untuk mencegah teror susulan,” ungkapnya. 

Kemarin untuk kali pertama, polisi menyebarluaskan foto pelaku yang menampakkan wajahnya dengan jelas. Tidak seperti foto buram yang diambil dari rekaman kamera pengawas kelab malam. Foto pelaku tersebut diambil dari rekaman video pribadi pria berwajah Asia itu. Polisi menjelaskan bahwa video tersebut berlatar Taksim Square di pusat Kota Istanbul. Dalam rekaman itu, pelaku tersenyum ke arah kamera yang dipegang sendiri. 

Sementara itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan yang langsung menggelar rapat keamanan darurat dengan kabinetnya pada Senin (2/1) bertekad melanjutkan aksi militer Turki di Syria. ”Operasi militer Perisai Eufrat (Euphrates Shield, Red) akan berjalan sesuai rencana,” jelasnya. Dia tidak takut pada ancaman ISIS yang mengklaim penembakan di Reina sebagai aksi balasan terhadap Turki yang bergabung dengan koalisi antiteror. 

Sejak Agustus lalu, Turki mengirim pasukan ke perbatasan Syria untuk memerangi ISIS dan militan Kurdi yang kian agresif melancarkan serangan. Sejauh ini militer Turki fokus menggempur basis ISIS di sisi utara Kota Al-Bab. Kehadiran pasukan Turki di Syria itu membuat ISIS yang harus memerangi koalisi antiteror Amerika Serikat (AS) dan gempuran militer Syria serta Rusia kian terdesak. (AFP/Reuters/BBC/hep/c16/any)

Berita Terkait