Pelaku dan Korban Siswa SD

Pelaku dan Korban Siswa SD

  Selasa, 30 Agustus 2016 09:30
ilustrasi

Berita Terkait

KETAPANG - Polsek Nanga Tayap sedang menyelidiki kasus dugaan pencabulan yang dialami oleh dua siswi Sekolah Dasar, 18 Agustus lalu. Selain korban, dua pelaku yang diduga mencabuli juga masih berstatus murid SD.

 
Hal ini terjadi karena pelaku mengaku sering menonton film porno.
Kapolres Ketapang, AKBP Sunario melalui Kapolsek Nanga Tayap, Iptu Bambang, mengatakan, dugaan pencabulan ini terjadi pada 18 Agustus lalu. Lokasi kejadian di Kecamatan Nanga Tayap, tepatnya di hutan di sebrang sungai.
"Kejadiannya 18 Agustus. Baru diadukan oleh orangtua korban pada 22 Agustus. Sementara hasil visum baru keluar pada 24 Agustus lalu," kata Bambang ketika ditemui di sela-sela koordinasi dengam Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Ketapang, kemarin (29/8) sore.
Dia menjelaskan, peristiwa ini terjadi setelah jam belajar di sekolah dasar tersebut usai.

Korban, YW (12) dan U (11), serta satu teman perempuannya lagi bermain dengan teman laki-lakinya S (14) dan E (11).

Mereka berlima menaiki perahu kecil menyeberangi Sungai Pawan Hulu menuju hutan. Setelah sampai, mereka langsung turun dari perahu dan masuk ke hutan. Di dalam hutan, ternyata S dan E melakukan tindakan yang tidak di sangka. S tiba-tiba merangkul YW, dan E merangkul U. Sedangkan satu anak perempuan lagi berhasil melarikan diri dengan menuju tepian sungai. Di dalam hutan itulah, kedua anak itu diduga telah mencabuli YW dan U.
Kejadian itu pun terdengar oleh salah satu orangtua korban. Tidak terima anaknya diperlakukan demikian, kedua orangtua korban melaporkan kejadian itu ke Polsek. Namun, karena tidak disertakan dengan alat bukti, maka disarankan untuk divisum.

"Dari hasil visum memang ada bekas luka luar di bagian kemaluan kedua korban," jelasnya. Bambang mengungkapkan, kasus ini sendiri masih dalam status aduan dan belum ditingkatkan ke laporan. Namun, upaya hukum akan terus dilakukan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

"Makanya kita berkoordinasi dengan Unit PPA seperti apa kedepannya. Hasilnya, proses hukum akan tetap lanjut," jelasnya.
Setelah dilakukan pertemuan di Mapolsek Nanga Tayap, orangtua korban dan orangtua pelaku sepakat untuk tidak melanjutkan perkara ini. Selain sama-sama masih di bawah umur, para orangtua khawatir akan menambah trauma kepada korban jika kasus ini tetap dilanjutkan. Kedua belah pihak juga menyelesaikan secara kekeluargaan.
Sementara itu, Kanit PPA Polres Ketapang, Aiptu Nasran, mengatakan, kasus ini akan tetap diproses sesuai dengan undang-undang yang berlaku. "Kita akan tetap melakukan penyidikan. Pelakunya ini anak dan meskipun sudah damai, tapi sesuai dengan hukum yang berlaku akan kita proses sesuai Undang-Undang sistim peradilan anak," katanya.
Bagi pelaku yang berusia di bawah 12 tahun, maka wajib dilakukan diversi. Pihaknya akan melibatkan pihak-pihak terkait untuk hal itu. Sementara bagi pelaku yang berusia di atas 12 tahun, maka proses hukumnya akan tetap berlanjut. "Meskipun salah satu pelaku ini baru berusia 14 tahun dan masih kategori di bawah umur, namun sesuai undang-undang, proses hukumnya tetap berlanjut," paparnya.
Akan tetapi, apakah proses ini akan dilakukan di Polres atau di Tayap, pihaknya masih akan berkoordinasi. "Selaian kepada pelaku, perhatian yang serius juga harus dilakukan kepada korban. Karena korban di sini memerlukan pendampingan dan pendekatan yang lebih ekstra untuk memulihkan traumanya," ujar Nasran.
Ia berpesan kepada semua orangtua agar benar-benar mengawasi anak-anaknya dari pergaulan bebas. Pihaknya juga telah melakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya penyalahgunaan narkoba, miras dan seks bebas kepada pelajar hingga ke tingkat paling bawah. (afi)

Berita Terkait