Pekerja Seni Kreatif Muda Pontianak Gelar Pameran

Pekerja Seni Kreatif Muda Pontianak Gelar Pameran

  Minggu, 21 Agustus 2016 10:18
SENI KREATIF: Peserta pameran sedang melukis pada media jaket jeans pada pameran seni kreatif Cool Art, di Canopy Center, Selasa (16/8) lalu. Mereka berfokus pada seni kreatif yang menggunakan segala media untuk menuangkan ide mereka menjadi sebuah karya. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

​Sebuah pameran seni kreatif yang mengumpulkan para pekerja seni di Pontianak beberapa hari lalu ini, diharapkan dapat menjadi ajang berkumpul bagi para pekerja seni asli Pontianak. Selain itu, diharapkan M Reza Setiawan (26), salah satu penggagas pameran seni kreatif itu, acara tersebut dapat menjadi pemancing apresiasi dari masyarakat kepada pekerja seni di Kota Khatulistiwa.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

BEGITU masuk ke dalam ruangan berukuran hampir satu lapangan badminton itu, terlihat beberapa teman-teman dari komunitas seni, Komunitas Lipart, sedang melukis di atas jaket jeans, seorang lagi sedang melukis sketsa wajah realis. Di belakangnya di, dengan media dinding putih, berjejeran karya-karya gambar dari para peserta.

Di tengah ruangan juga ditemukan karya-karya yang juga dijual. Karya tersebut menggunakan berbagai media yang cukup unik seperti, talenan, tas, dan jaket. Juga tersedia berbagai contoh karya berupa kalender, cover buku, poster, dan masih banyak lagi. “Etalase ini untuk menunjukkan kepada masyarakat, karya-karya desainnya tidak hanya melulu kaus atau hanya gambar, tapi juga bisa di berbagai media,” kata Reza, panggilan karibnya saat berkeliling bersama Pontianak Post dalam ruang pameran, di Canopy Center, Selasa (16/8) lalu.

Menurutnya, pameran seni kreatif itu diselenggarakan dengan harapan dapat mengumpulkan para pekerja seni asal Pontianak. “Kami memancing para pekerja seni yang ada untuk berkarya,” kata M Reza Setyawan, salah satu penggagas acara tersebut. Baik pekerja seni itu sedang berada di Pontianak ataupun tidak. “Kami pun membuka open calling exhibition. Siapapun yang mau ikut, kami seleksi dan kami pajang karyanya,” katanya lagi.

Karya yang terlihat malam ketika Pontianak Post berkunjung pun berasal dari banyak karakter. Dari tipikal yang berbeda, tidak ada kemiripan dari karya-karya yang dipajang. Reza menjelaskan, sebelumnya para artis akan diseleksi. seleksinya bukan berarti satu bidang hanya satu artis, berapapun yang masuk, kami seleksi mana karya yang cocok untuk ditampilkan. Ternyata, dari beberapa yang masuk, karya-karyanya punya karakter yang berbeda.

Waktu dua hari dibutuhkan untuk persiapan dalam pameran seni kreatif itu dan mencari para artis yang dapat diakan bergabung. “Bagaimana caranya dari yang pesimis kami jadikan optimis,” katanya. Ia dan teman-teman lain pun mencoba berbagi di media sosial mereka masing-masing, dan ternyata membuahkan hasil. Banyak teman-teman yang ingin ikut. Bahkan dari luar kota seperti Singkawang, Jogja, dan Jakarta, terutama teman-teman yang aslinya dari Pontianak.

Demi memudahkan teman-teman yang berada di luar kota yang ingn bergabung dengan eksebisi itu, ia pun tidak mengambil iuran kepada mereka. Mereka cukup mengirim karyanya via digital, proses cetak dan bingkai dilakukan oleh teman-teman panitia yang ada di Pontianak, mereka juga yang mengumpulkan uang untuk membuat bingkai dan memajang karya karya. “Sehingga kami harap tidak ada istilah pilih kasih dalam penyampaian karya,” jelasnya.

Sebagian besar, para panitianya ialah anggota Komunitas Lipart. Bukan untuk mengajak mereka bergabung dengan komunitas itu, tetapi karena saat itu semangat mereka lah yang memulai semuanya. Menurut Reza, ada satu masalah yang sering menjadi keluhan para pekerja seni di Pontianak dewasa ini. Warga Pontianak, utamanya anak muda yang membutuhkan jasa desain atau gambar, mereka cenderung mencari mencari seorang desainer hingga ke luar kota.

Pameran seni kreatif ini ingin membuka mata masyarakat yang hadir pada eksebisi itu, bahwa para pekerja seni juga punya karya, bahkan hingga dipakai di luar kota. Mereka tidak meliha, sesungguhnya para desainer di Kota Pontianak memiliki potensi.

Maka dari itu, dipanggillah teman-teman yang selama ini tidak pernah diketahui keberadaannya, tidak pernah diketahui bentuk karyanya, coba dipanggil supaya ketika orang-orang datang ke eksebisi, mereka bisa segera merekam apa yang mereka lihat itu. Pengunjung dapat merekam bahwa ada banyak pekerja seni berbakat di Pontianak.

Selama tujuh hari membuka eksebisi tersebut, menurutnya apresiasi dari masyarakat khususnya awam terbilang cukup baik. Bahkan setelah melihat karya-karya di sini, ada beberapa pihak yang mengajak kolaborasi pada even berikutnya. Ada juga yang mengajak kolaborasi kustomisasi kaus atau jaket yang diwarnai.

Satu yang paling menarik ialah tawaran untuk kolaborasi dalam even camp music di sebuah pulau yang akan diadakan 26 – 27 Agustus mendatang. “Sebenarnya semangat kawan-kawan ini membuahkan hasil walaupun istilahnya ini bersifat dadakan. Tetapi apresiasi terlihat dari kawan-kawan lain yang datang berkunjung atau dari masyarakat awam,” jelasnya.

“Maksud utamanya lebih kepada membawa karya teman-teman dari luar kota,” kata Untung Saputra (26), salah satu penggagas eksebisi malam itu. Dengan kata lain, dirinya dan panitia lain akan mengundang teman-teman pekerja seni lain yang tidak bisa hadir agar karyanya bisa dipajang di acara tersebut.

Dalam acara tersebut, bergabung 19 para pekerja seni dari lokal, dari Kota Pontianak ataupun teman-teman yang saat ini sedang berada di luar Pontianak. Pameran berlangsung sejak 10 Agustus hingga puncaknya pada 16 Agustus. Bagaimana caranya, kata Untung, agar mereka bisa mengumpulkan karyanya dan dipamerkan dalam acara tersebut.

Sampai hari terakhir pameran, ia merasa sambutan dari masyarakat awam termasuk baik. “Apresiasi dari pengunjung juga sangat positif,” katanya. Bahkan seperti dikatakan Reza sebelumnya, ada banyak tawaran baru yang datang untuk mengadakan pameran lain yang jauh lebih besar dari hari itu. Baik pameran serupa ataupun dari bentuk yang lain, dari seni yang lain.

Dari segi art market, menurutnya para pengunjung yang memang didominasi anak muda sudah mengerti bagaimana sebuah karya diukur nilai dan harganya sehingga karya tersebut tidak dikira terlalu mahal. Ia berharap, karya-karya mereka memiliki pasar sendiri, terutama dalam seni kreatif.

“Semua karya kami dibuat dari daur ulang dan semuanya rata-rata buatan tangan langsung,” katanya. “Lebih jauh lagi, semoga ke depan animo masyarakat bisa lebih tinggi, dalam mengapresiasi karya kawan-kawan sesama pekerja seni di Pontianak,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait