Pekan Milik Para Sosis

Pekan Milik Para Sosis

  Selasa, 16 Agustus 2016 09:30
WORLD PREMIERE Salah satu pemeran film Sausage Party, Salma Hayek, hadir dalam peluncuran perdana film tersebut di Westwood, California, 9 Agustus lalu.

Berita Terkait

Suicide Party Drop 67 Persen

LOS ANGELES – Suicide Squad memang masih menduduki takhta sebagai film berpendapatan tertinggi di seluruh dunia. Pada pekan kedua penayangan, Deadshot dan Harley Quinn sudah membantu Warner Bros. mengumpulkan pendapatan USD 465,4 juta atau setara Rp6,09 triliun.

Namun, mereka tidak bisa terlalu happy dengan hasil tersebut. Sebab, sekitar tiga perempat dari angka itu diperoleh pada opening week. Artinya, pada pekan kedua penayangan, angkanya jeblok habis-habisan. Di AS, Suicide Squad hanya mengumpulkan tambahan pendapatan USD 43,8 juta atau setara Rp573,2 miliar. Di bioskop non-AS, pendapatannya menembus USD 58,7 juta atau sekitar Rp768,2 miliar. Penurunannya dari pekan pertama mencapai 67 persen!

Nah, untuk urusan box office mingguan, yang sedang berpesta adalah Sausage Party. Film animasi besutan Sony Pictures Entertainment dan Annapurna Pictures tersebut meraih pendapatan USD 33,6 juta atau Rp439,8 miliar. Padahal, film yang ditulis (dan diisi suara) oleh Seth Rogen itu diramal hanya mencatat USD 15 juta (setara Rp196 miliar) pada akhir pekan pembukaannya.

Kesuksesan film tersebut terbilang mencengangkan. Sebab, Sausage Party merupakan film animasi yang berlabel R-rated alias khusus dewasa. Bujet penggarapannya juga cekak, hanya USD 19 juta (setara Rp248,7 miliar). Selain sukses di urusan pendapatan, film itu dapat sambutan baik dari kritikus.

Hingga kemarin (15/8), film yang juga dibintangi Kristen Wiig, Salma Hayek, dan Jonah Hill tersebut memperoleh rating 7,3 dari IMDb dan 83 persen dari Rotten Tomatoes. Sausage Party juga menuai pujian karena mampu memasukkan unsur dewasa dan kepercayaan dalam filmnya.

Chief Distributor Sony Pictures Rory Bruer menjelaskan, timnya meluangkan dana lebih buat promosi di platform digital. ’’Normalnya, studio cuma mematok biaya promosi digital 12 persen. Buat film ini, kami lipat gandakan,’’ kata Bruer sebagaimana dikutip Variety. Materi promosi itu mereka tebar dengan agresif di Snapchat, YouTube, dan Twitter.

Analis media senior Comscore Paul Dergarabedian menyatakan, pemasaran lewat media sosial terbilang tepat buat film yang menarget pasar anak muda dan dewasa. ’’Mereka lebih aktif di media sosial. Lagi pula, kontennya tidak mungkin disensor di platform itu. Beda dengan di TV atau billboard,’’ jelasnya.

Maklum, meski menggunakan karakter-karakter lucu, Sausage Party menampilkan banyak kata umpatan dan humor dewasa. Penggambarannya pun horor dan cenderung gory. Film itu mengisahkan betapa mengerikannya hidup para bahan makanan. Mereka dikupas, dipanggang, direbus, dan dimakan hidup-hidup. Serem kan.

Tetapi, Bruer menilai konsep yang diusung Rogen segar dan berani. ’’Audiens ingin sesuatu yang beda dan kreatif. Beruntung, kami mengeksekusinya dengan baik,’’ ujarnya.

Dengan hasil di luar ekspektasi tersebut, Rogen bakal merilis film serupa. ’’Kami punya ide animasi R-rated lain. Salah satunya, sekuel Sausage Party. Saya harap film ini sukses supaya kami bisa bikin animasi serupa lainnya,’’ tuturnya.

Aktor yang juga dikenal sebagai komedian itu berharap mampu mewujudkan ide tersebut dalam waktu dekat. Maklum, film bergenre animasi untuk pasar dewasa lumayan jarang.

Sebelum Sausage Party, animasi terakhir rated-R yang dirilis adalah South Park: Bigger, Longer & Uncut pada Juni 1999. Film yang diadaptasi dari serial TV Comedy Central itu berhasil mengumpulkan USD 83,1 juta (setara Rp1,088 triliun). Bujetnya minimalis, yakni USD 21 juta atau Rp274,8 juta. (LA Times/Screen Crush/Variety/fam/c14/na)

Berita Terkait