Pejuang yang Masih Hidup juga Perlu Dihargai

Pejuang yang Masih Hidup juga Perlu Dihargai

  Jumat, 19 Agustus 2016 09:30
BERKUMPUL: Warga berkumpul berdoa bersama jelang 17 Agustus di Panyugu, Desa Parit, Kecamatan Manyuke, Kabupaten Landak. IST

Berita Terkait

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawan. Bukan hanya saja kepada mereka yang telah gugur. Pejuang yang masih hidup pun perlu dihargai,” kata RS Bandy Soesanto, seorang veteran perebut kemerdekaan. 

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

KALIMAT singkat penuh makna itu keluar dari mulut yang ditutupi kumis dan jenggot putih seorang RS Bandy Soesanto, seorang pejuang yang ikut merebut kemerdekaan. Kemerdekaan yang dikatakannya harus selalu dimaknai setiap peringatannya. Memaknai bukan hanya dengan menikmati, tetapi dengan mengenang semua jasa pahlawan yang gugur, juga menghormati mereka yang masih hidup. Bukan melupakan hingga menelantarkan mereka.

Ia mengajak generasi penerus untuk mengenang para pejuang. “Para pejuang yang dahulu berjuang hingga tumbuh yang dinamakan 17 Agustus 1945,” katanya. 

Hari kemerdekaan ini sudah bisa dinikmati dengan sebaik-baiknya, bagaimana para pejuang juga mesti mendapatkan bagian untuk menikmati kemerdekaan itu.

“Jangan lupakan Pancasila, jangan lupakan UUD 1945, jangan lupakan Sumpah pemuda, jangan lupakan itu,” katanya. 

Merdeka bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan beberapa pihak tapi itu untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Kalimat itu beberapa kali diucapkannya kepada Pontianak Post, saat ditemui usai upacara 17 Agustus di Kantor Gubernur kalimantan Barat, Rabu (17/8) siang.

Hari itu, Bandy menjadi salah seorang dari puluhan veteran yang hadir dalam upacara tersebut. Ia datang bersama istri dan seorang cucunya. Penampilan yang cukup mencolok dari yang lain yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Dari kalangan wartawan dan para tamu undangan lainnya. Meski usianya sudah lebih dari 89 tahun, aroma tegas masih terasa saat dia berbicara. 

Beberapa kali nada bicaranya meninggi kala mengingat dan menceritakan perjuangannya. Pria ini ialah salah seorang anggota Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI).

Bersama satu regu pasukan, lima tahun dihabiskan di hutan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, Jawa Tengah. “Saya berasal dari regu Dipenogoro,” kata pria sepuh berpangkat terakhir sersan mayor itu. 

Sebagai bukti perjuangannya, tiga tanda penghargaan disematkan di dada kirinya. Penghargaan tersebut yakni bintang gerilya dan dua penghargaan bintang kemerdekaan.

Di masa tuanya, ia kini hanya berharap pada bantuan pemerintah, atas jasa berharga yang menurutnya tak perlulah diperhitungkan. Akan tetapi, selayaknya ia berharap, ia mendapatkan janji-janji pemerintah kepada veteran yang menurut dia akan diberikan. “Bantuan perumahan veteran, belum juga diberikan, hanya wacana,” katanya.

Sangat kental diingatannya, setelah 20 tahun menempati Gedung Juang, Jalan Ahmad Yani, ia dipindah paksa atau digusur seperti yang dikatakannya pada 2010. Penggusuran itu harus terjadi karena Gedung Juang diubah menjadi Gedung Kejati Kalbar. 

“Setelah kami diusir, kami tidak mendapatkan apa-apa. Sepeser pun tidak. Kami sudah merawat gedung juang, tapi kami malah diusir seperti itu,” katanya dengan nada tinggi. Kerutan di wajahnya tiba-tiba mengencang saat menyelesaikan kata terahir kalimat itu.

Kini, ia menghabiskan masa tua di rumah sederhananya di Gang Nirbaya, Pontianak Selatan. Bersama ketujuh cucunya, ia hanya bisa mengenang bagaimana kemerdekaan bisa direbut dengan susah payah. Hidup yang lebih mudah ketimbang sekarang. Perjuangannya berubah menjadi mempertahankan ekonomi keluarga. 

Selama ini pemerintah perhatiannya sangat kecil sekali terhadap para veteran, kata Bandy kesal. “Bukannya saya ingin diperhitungkan, tetapi saya veteran A, yang berjuang di jawa,” jelasnya. 

Janji pemerintah hanya sekadar janji. Beberapa kali mendapatkan kabar akan mendapatkan rumah dari pemerintah, berupa perumahan veteran, tetapi hal itu tidak kunjung dirasakannya.

Sampai saat ini, ia pun hanya bisa pasrah kepada pemerintah. Pasrah kepada nasibnya sebagai pejuang dan nasib Indonesia. “Indonesia mau dibawa kemana, terserah,” katanya. Asalkan, NKRI harus  dibawa ke sesuatu yang lebih baik. “Demi Rakyat,” katanya lagi.

Bagaimana peran penerus untuk melanjutkan semangat 17 agustus 1945. “Itu jangan sampai hilang,” cetusnya. “Demi Rakyat ini bukannya orang yang duduk di DPR dan sebagainya. Tetapi rakyat Indonesia,” katanya. 

Jangan sampai kembali ke zaman penjajahan tetapi dengan cara berbeda. Rakyat menurutnya harus diberikan bagaimana mestinya rakyat. “Sejahterakanlah,”  pungkasnya. (*)

Berita Terkait