Pejabat Dilarang Merokok

Pejabat Dilarang Merokok

Senin, 28 March 2016 09:55   1

BAPAK Sutarmidji selaku Wali Kota Pontianak akan mencopot jabatan kepala dinas (SKPD) dan camat yang merokok. Beliau berpesan, “Kalau ada kepala SKPD atau camat yang masih merokok beritahu saya. Saya pastikan langsung saya ganti”. Ia juga akan memutus bantuan bagi keluarga penerima bantuan cadangan pangan yang merokok. Kalau masih saja merokok, pendidikan anaknya yang selama ini gratis, kita suruh bayar”. Asumsi beliau sangat sederhana, aktivitas merokok mempengaruhi kinerja, mampu membeli rokok berarti mampu membeli beras, dan lebih jauh ingin melindungi masyarakat khususnya anak dari bahaya asap rokok. 

Dr. Kartono Muhammad mengutip hasil penelitian Profesor Laura Anderko dari Georgetown University Amerika Serikat tahun 2010 menyimpulkan bahwa “anak-anak yang terpapar asap rokok, langsung atau tidak langsung sejak dalam kandungan tiga kali lebih besar kemungkinannya mengalami kesulitan belajar”, dikutip dari Kompas, 23 September 2015.

Kehadiran rokok ini sangat dilematik. Di satu pihak, perusahaan rokok telah memberikan kontribusi atau sumbangan bagi pendapatan negara, di pihak lain rokok telah mengorbankan banyak nyawa, dan banyak kerugian lainnya.  

Seorang petinggi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di masa lalu dikenal perokok berat, namun beliau berhenti merokok setelah diketahui kematian istrinya disebabkan racun rokok yang diisap suaminya. 

Imaduddin Abdurrahim dalam ceramahnya secara tegas dan keras menyatakan bahwa, para perokok itu tidak mendapat hidayah dari Allah SWT, mereka mengetahui rokok itu tidak bermanfaat, menyebabkan penyakit dan hidup menjadi tidak efisien, tetapi tetap saja mereka merokok. Jadi kehadiran rokok lebih banyak membawa mudharat dari pada memberi manfaat.

Mengapa pejabat menjadi target utama terhadap larangan merokok tersebut.  Semua sependapat bahwa pejabat tersebut adalah pemimpin publik yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat yang dipimpinnya, terlebih lagi budaya masyarakat kita paternalistik dimana perilaku rakyat adalah perilaku pemimpinnya, semoga melalui mereka virus anti rokok tertular kepada masyarakat. Sebaliknya, jika pemimpin saja merokok tentu saja sulit mencegah rakyat atau masyarakatnya untuk tidak merokok. Alasan lain, masih banyak pejabat publik dari menteri hingga camat, kaum cerdik pandai, bahkan khiai pengasuh pondok pesantren pecandu rokok.  

Penulis secara pribadi sangat mengspresiasi sikap tegas dan berani bapak Sutarmidji selaku seorang pemimpin terhadap larangan merokok karena selama ini banyak pihak hipokrit atau munafik dalam mensikapi larangan merokok ini, seperti terlihat pada iklan rokok, baik cetak maupun elektronik, kejantanan atau maskulin seseorang karena ia mengisap sebatang rokok, tetapi dibawah iklan tersebut ada larangan merokok karena berbahaya bagi kesehatan, bahkan ada kewajiban bagi perusahaan rokok menginformasikan korban akibat menghisap rokok. Iklan tersebut mempertontonkan kepada rakyat bahwa kita bangun negeri ini dari hasil membohongi dan membodohi rakyat kita sendiri.

Sesungguhnya, banyak pecandu rokok ingin berhenti merokok, namun mengalami kesulitan. Pauline Wallin (2001) dalam bukunya “Taming Your Inner Brats” menceritakan pengalaman seorang mahasiswa yang kecanduan dan sulit berhenti dari merokok padahal ia telah bersusah payah untuk berhenti merokok, mereka menolak digolongkan sebagai kelompok irrasional, 10.000 alasan untuk berhenti dan tidak ada alasan yang logis untuk terus merokok, namun sulit sekali menghentikan kebiasaan buruk ini. 

Para psikolog justru menyatakan hal sebaliknya bahwa menghentikan kebiasaan buruk seperti kebiasaan merokok adalah sesuatu hal yang mudah.

Mereka berkumpul di San Fransicso University membicarakan atau menjawab pertanyaan, “Mengapa Merubah Kebiasaan Buruk itu Sulit?”. Setelah mengkaji ribuan buku dan hasil penelitian tentang perubahan perilaku, disimpulkan bahwa merubah kebiasaan buruk ternyata sangat mudah selama mengikuti tiga dimensi berikut ini; (1) adanya komitmen atau niat dari diri seseorang yang ingin berubah atau meninggalkan kebiasaan buruk itu; (2) komitmen dan niat itu tidak cukup, melainkan harus diikuti adanya modifikasi lingkungan, baik lingkungan fisik mupun lingkungan sosial, sering kali ditemukan mereka yang ingin meninggalkan kebiasaan buruknya, namun lalai atau lupa memodifikasi lingkungannya sehingga mengalami kesulitan meninggalkan kebiasaan buruknya itu, dan bahkan tidak jarang mereka yang telah menjadi baik dengan mudah kembali kambuh kepada kebiasaan buruknya. Misalnya, jika kita ingin menghentikan kebiasaan merokok, maka semestinya tidak disediakan fasilitas atau kawasan untuk berkumpulnya para perokok, menciptakan kawasan merokok hanya untuk menghindarkan korban perokok pasif, dan siperokok tidak perlu membeli asbak rokok yang bagus dan korek api yang canggih. Jika perlu setiap membeli sebungkus rokok. Satu, dua atau lebih batang rokok yang sudah dibelinya itu dibuang, dimusnahkan atau menggantinya dengan mengisap permen karena perubahan perilaku memerlukan pengekangan aktif; dan (3) perubahan kebiasaan buruk memerlukan monitoring dan evaluasi, artinya merubah kebiasaan buruk seperti kebiasaan merokok harus direncanakan dengan baik dan jelas targetnya, sehingga memudahkan untuk memonitor dan mengevaluasinya sejauhmana perubahan kebiasaan buruk itu berkurang hingga berhenti. 

Selamat kepada bapak Sutarmidji selaku Wali Kota Pontianak yang memiliki keberanian sekalipun tidak populer demi kesehatan, kehormatan dan kebaikan masyarakatnya semoga kebijakan tersebut mendapat dukungan seluruh masyarakat, khususnya di Kota Pontinak dan diikuti oleh pemimpin lainnya.

Contoh sikap tegas seorang pemimpin dilakukan oleh presiden China sekarang ini, yakni larangan menyisakan makanan di meja makan, apabila diketahui ada pegawai negeri menyisakan makanan, maka mereka akan dipecat secara tidak hormat dari pegawai negeri tersebut tidak akan diberi akses untuk kembali menjadi pegawai negeri di negerinya sendiri. Peraturan presiden tersebut diikuti oleh seluruh rakyat China dan berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi bangsanya. Selama suatu kebijakan itu benar dan dijalankan dengan cara yang baik, insya Allah akan memperoleh dukungan masyarakat. (**). (Penulis, Dosen FKIP Untan)

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019