Peduli Lingkungan Tak Hanya Sekedar Hutan dan Satwa, Tetapi Nasib Masyarakat Juga Penting

Peduli Lingkungan Tak Hanya Sekedar Hutan dan Satwa, Tetapi Nasib Masyarakat Juga Penting

  Kamis, 17 March 2016 13:56   582

GAUNG tentang perlunya peduli lingkungan tidak hanya sekedar hutan dan satwa, mungkin kata itu yang cocok saat ini. Mengingat, nasib masyarakat juga penting untuk diperhatikan atau diperdulikan saat ini.

Peduli sudah semestinya untuk dilakukan terhadap keberadaan hutan dan satwa. Semakin seringnya kejadian yang menghampiri seperti banjir, tanah longsor dan beberapa kejadian akibat dari semakin berkurangnya jumlah hutan dan satwa menjadi tanda nyata keprihatinan semua secara bersama pula dan dirasakan secara langsung pula oleh masyarakat (dampaknya). Mengapa demikian?.

Cuaca tidak menentu, sulit diprediksi. Yang terjadi, ketika hujan turun daya tampung air atau daya serap air tidak lagi bisa diserap oleh banyak pohon (hutan). Apa lagi yang terjadi  di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan beberapa tempat lainnya seperti Sumatera dan Kalimantan serta beberapa tempat lainnya pun demikian adannya. Tentu hal ini sedikit banyak erat kaitannya dengan keberadaan lingkungan sekitar. Keberadaan hutan, perilaku peduli sampah yang masih minim menjadi realita nyata kenapa banjir sering hadir di tengah-tengah masyarakat.

Dari seringnya terjadi bencana tersebut, masyarakat kebanyakan yang menjadi dampak (menerima dampak) secara langsung. Memperhatikan dan peduli terhadap nasib masyarakat juga penting untuk dilakukan.

Apa yang bisa dilakukan untuk memperhatikan atau masyarakat?. Untuk peduli masyarakat jika beberapa dampak tersebut terjadi, misalkan jika banjir terjadi. Beberapa lembaga atau organisasi selalu siaga atau siap untuk bencana ini. Tetapi sejatinya peduli terhadap masyarakatlah paling utama dan semestinya harus dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah tata kelola lingkungan yang bijaksana. Tata kelola lingkungan tersebut mengacu kepada tata aturan menyangkut tidak lagi harus mengeluarkan ijin baru untuk perluasan area pertanian, pembangunan, pertambangan dan pertanian berskala besar. Sejatinya ini sudah banyak yang mengetahui namun kerap kali terulang. Atau dengan kata lain tidak sedikit yang mengabaikan tata aturan yang ada pula. Berkaca pada kejadian-kejadian tersebut, hutan dan beberapa keragaman hayati termasuk satwa yang mendiami wilayah hutan kian terhimpit.

Tidak jarang pula masyarakat di sekitar hutan menjadi korban dari sebab akibat tersebut. Contoh yang paling nyata ketika banjir, masyarakat cenderung sulit untuk melakukan rutinitas aktivitas. Apapun itu, rutinitas aktivitas masyarakat seperti bekerja di luar rumah dan anak-anak sekolah sudah pasti terhambat. Demikian juga halnya yang terjadi pada kegiatan lainnya ekonomi masyarakat tersendat, arus keluar masuknya kebutuhan bahan pokok tidak bisa mudah disalurkan, demikian pula bantuan bagi masyarakat tidak semudahnya disalurkan karena terhambat putusnya sarana transportasi seperti jembatan dan jangkauan wilayah yang cukup jauh.

Bila beberapa sebab dan akibat tersebut terjadi yang mengalami langsung tidak lain dan tidak bukan adalah masyarakat. Akan tetapi, apa mau dikata. Beberapa bencana sudah terlanjur terjadi dan terus berulang. Beberapa program untuk peduli lingkungan dan peduli satwa telah banyak pihak laksanakan. Demikian juga sejatinya terhadap masyarakat. Namun terkadang, peduli  tersebut hanya ada ketika masyarakat didera bencana. Selepas itu, masyarakat cenderung dilupakan kembali. Beberapa pemegang kebijakan dan pihak-pihak pengusaha (para pemodal) acapkali lupa dengan jerit tangis akar rumput yang tidak lain masyarakat kecil di sekitar area bisnis para pembesar. Area-area para pebisnis tersebut menjadi realita nyata yang membukakan mata ketika bencana itu ada dan terus menerpa.

Masyarakat di sekitar hutan, di sekitar area para pebisnis (area pertambangan dan perkebunan) nasib mereka terabaikan. Beberapa diantaranya tidak sedikit yang hanya gigit jari dari adanya investasi. Mengeluh, mengaduh tetapi hingga luluh layu namun hanya sekedar kabar tak jarang hanya sebatas angin lalu. Air bersih yang berasal sungai telah bercampur lumpur ataupun bahan kimia yang menakutkan dari sisa-sisa pembuangan dan pembasmi hama.

Langkah peduli AMDAL oleh kebanyakan pemegang investasi (tambang dan perkebunan) berjalan tetapi tidak berirama. Ketika musim kemarau tiba tidak jarang area wilayah (ter/di) bakar sengaja atau juga tidak sengaja, tetapi itu terjadi ketika asap beberapa waktu lalu mendera yang tidak sedikit pula melumpuhkan sebagian besar sendi-sendi aktivitas masyarakat. Sedihnya, lagi-lagi masyarakat yang (ter/di) tuduh sebagai biang sebab akibat. Tetapi gambaran jelas terlihat ketika fakta dan realita bicara ketika para pemberi kabar menemukan langsung di tempat kejadian. Ada lahan-lahan yang setelah (ter/di) bakar muncul tanaman-tanaman baru yang tersusun rapi.

Regulasi dan tata kelola dianggap masih kurang untuk mengatasi persoalan-persoalaan yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak. Yang teramat parah, ketika pembelaan oleh onum hakim menyatakan hutan boleh ditebang karena hutan akan dapat tumbuh lagi. Hal itu terjadi, sudah pasti demi membela investasi. Perlu diingat, hutan yang tumbuh memerlukan berpuluh-puluh tahun hingga ratusan tahun. Jika hutan di tebang, beberapa spesies di sekitar hutan tersebut sudah hampir pasti dalam ancaman nyata.

Tidak untuk mengatasnamakan rakyat, tapi kita dan mungkin kebanyakan masyarakat adalah masyarakat penting untuk diperdulikan dan diperhatikan secara nyata (dibantu). Tidak juga anti investasi pertambangan dan perkebunan. Namun, terkadang tata cara dan tata kelola cenderung diabaikan sehingga masyarakat tidak sedikit pula mengadu tentang apa yang terjadi disekitar mereka. tidak pula untuk saling menyalahkan, tetapi sejatinya diperlukan langkah untuk hal ini. Jika peduli lingkungan, peduli satwa maka sudah seharusnya pula nasib masyarakat banyak juga perlu dan sangat penting untuk diperhatikan. Semoga saja...  

By : Petrus Kanisius ‘Pit’- Yayasan Palung

Petrus Kanisius

Suka berbagi informasi tentang fakta dan realita lingkungan dan satwa