Peduli Anak Berkebutuhan Khusus

Peduli Anak Berkebutuhan Khusus

  Rabu, 17 February 2016 08:22   1

Oleh : Cau Kim Jiu, SKM. M. Kep.  TIDAK banyak masyarakat kita mengenal dan bisa memperlakukan anak berkebutuhan khusus dengan baik. Tulisan ini mencoba menjelaskan bagaimana sebaiknya mengenal dan memperlakukan anak berkebutuhan khusus di lingkungan keluarga maupun di masyarakat.

Setiap orang tua menginginkan anak yang dilahirkan dalam keadaan normal, namun kenyataanya  tidak semua  yang diharapkan dapat terwujud. Berbagai kelainan dapat terjadi pada anak mulai dari ketidaksempurnaan fisik, sampai pada tahap gangguan tumbuh kembang anak.Saat dilahirkan anak tampak seperti normal namun seiring waktu muncul berbagai masalah seperti belum bisa bicara, anak cenderung hiperaktif, gangguan perilaku, asyik dengan lingkunganya sendiri, dan sebagainya. Butuh waktu bagi orang tua untuk menerima dan mengerti kondisi pada anak.

Berbagai respon psikologis orang tua akan muncul mulai dari penolakan, perasaan marah, sedih, saling menyalahkan bahkan  depresi mungkin saja terjadi. Respon psikologis yang di alami oleh orang tua merupakan suatu hal yang wajar karena mereka perlu waktu untuk beradaptasi secara fisik dan psikologis untuk menerima kehadiran anak berkebutuhan khusus. 

Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus menjadi sarana belajar dan tantangan  bagi orang tua. Orang tua belajar untuk lebih sabar dalam menangani dan mengasuh anak karena orang tua di tuntut untuk mampu memahami, mengenal, menggali, mengarahkan  dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak.

Setiap anak berkebutuhan khusus adalah unik, mereka memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lainnya dan memiliki kemampuan yang sangat baik di beberapa bidang seperti bermain musik, menggambar, komputer, dan sekitar 40% mempunyai kemampuan intelektual di atas rata-rata sehingga beberapa anak mampu menyelesaikan pendidikan sampai pada jenjang perguruan tinggi, untuk itu orang tua dituntut untuk mampu mengenal dan menggali setiap potensi yang dimiliki anak serta berusaha untuk mengatasi berbagai kekurangan dan keterbatasan pada anak dengan menjalani berbagai terapi.

Orang tua yang belum memahami kondisi anak dan belum bisa menerima kehadiran anak dengan berkebutuhan khusus tentu akan menjadi suatu masalah yang akan berdampak pada kualitas hidup anak. Adanya perasaan malu memiliki anak berkebutuhan khusus, stigma masyarakat yang kurang baik jika keluarga memiliki anak dengan berkebutuhan khusus menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga dalam membesarkan anak.

Orang tua seharusnya tidak perlu malu dengan kondisi anak, sebaliknya peran orang tua, kasih sayang dan perhatian dari orang tua dan anggota keluarga lainnya  sangat penting terhadap kualitas hidup anak kedepanya.

Orang tua  harus mampu  mengajarkan anak berkebutuhan khusus untuk mandiri sesuai dengan kemampuan anak terutama dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari seperti pemenuhan kebutuhan dasar, kebersihan diri (personal hygiene), memenuhi hak anak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, hak untuk hidup, hak mendapatkan perlakuan yang sama dengan saudara lainya serta  hak untuk berkembang.

Selain itu orang tua juga berkewajiban untuk mendampingi anak dengan meluangkan waktu bersama anak, mengawasi pola serta tingkah laku anak, serta memberikan pola asuh yang tepat bagi anak berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus harus diberi ruang dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakat dan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga mereka mampu mengembangkan kreatifitas, sadar dan peduli  akan lingkungan luar. Namun kenyataanya masih terdapatkan beberapa diskriminasi  baik dari keluarga, maupun masyarakat. Diskriminasi akibat keterbatasan dan ketidakmampuan (discrimination base on disability) yang mereka alami dan diskriminasi sosial.

Beberapa contoh diskriminasi yang masih dialami seperti dibatasi dari kehidupan sosial, bullying,  dikucilkan oleh kelompok sebaya, ditelantarkan oleh kedua orang tua bahkan ada yang menjadi korban kekerasan. Kondisi ini jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia. Setiap anak memiliki hak dan kesempatan yang sama, hak untuk hidup, berkembang dan berpartisipasi dalam pembangunan.

Kedepannya diharapkan orang tua selaku orang yang paling dekat secara fisik dan psikologis dapat memberikan perhatian khusus, dukungan, kasih sayang, mampu mengarahkan anak untuk mendapatkan pendidikan yang tepat, dan menerima anak dengan segala kelebihan dan kekuranganya.

Orang tua harus sadar bahwa anak merupakan suatu amanah yang di berikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan orang tua harus mampu menjalankan amanah tersebut dengan menjalankan peran dan fungsinya secara baik sebagai orang tua. Jika orang tua saja menolak kehadiran anak hanya karena ada suatu keterbatasan bagaimana anak akan dapat tumbuh dan berkembang secara baik, bagaimana anak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki, untuk itu orang tua harusnya sadar bahwa di balik kekurangan anak pasti ada kelebihan yang dimiliki dan menjadi tugas orang tua untuk menggali potensi yang ada pada anak dengan dukungan dari berbagai pihak dan masyarakat tentunya.

Masyarakat harus semakin peduli dan sadar bahwa anak berkebutuhan khusus ada disekitar kita dan mereka memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Masyarakat harus dapat menerima kehadiran mereka dengan segala keunikanya, kemampuannya, kelebihan dan keterbatasanya.

Selanjutnya diharapkan tersedianya pelayanan publik yang lebih baik lagi dengan peningkatan sarana dan prasarana, adanya pengembangan serta kombinasi  kurikulum pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan akademik saja namun juga pada pengembangan ketrampilan anak, dan tersedianya beasiswa bagi yang kurang mampu dan berprestasi. Sehingga anak dan orang tua merasa dihargai dan tidak dikucilkan serta keberadaan mereka diterima oleh masyarakat. (Penulis Staf Pengajar Bidang Keperawatan Komunitas STIK Muhammadiyah Pontianak, kini sedang S3 Keperawatan di Khon Kaen University Thailand)