Pedagang Minta Relokasi Usai Puasa

Pedagang Minta Relokasi Usai Puasa

  Rabu, 11 May 2016 09:30
Haryadi

Berita Terkait

PONTIANAK – Keputusan Pemerintah Kota Pontianak tentang relokasi ratusan pedagang Jalan Asahan di wilayah Pasar Tengah belum mendapatkan hasil yang memuaskan bagi pedagang. Meski Pemerintah Kota Pontianak telah memberi alternatif dengan memindahkan pedagang di kawasan Barito masih terdapat keluhan. 

Mereka meminta relokasi ditunda hingga akhir puasa. Tak bersolusi, Selasa (10/5) puluhan pedagang Jalan Asahan mengadu ke DPRD Kota Pontianak untuk dicarikan jalan tengah.

Perwakilan pedagang Jalan Asahan, Syarif Abdurahman Alkadri mengatakan, kedatangan puluhan pedagang ke gedung wakil rakyat untuk menyampaikan keluhan relokasi ratusan pedagang akibat pembangunan Pasar Tengah. Sebelum ke dewan, dua hari sebelumnya dipanggil Kadisperindagkop Pontianak. 

“Di pertemuan itu, keputusan wali Kota yang disampaikan melalui Disperindagkop menyatakan bahwa pedagang (kami) tidak bisa bertahan di situ dan mesti pindah ke Barito,” ungkapnya kepada Pontianak Post, usai bertemu wakil rakyat.

Hasil pertemuan dengan Disperindagkop langsung disampaikan ke pedagang lain. Setelah disampaikan, pedagang di Jalan Asahan masih berharap wali kota bisa memberi waktu satu bulan untuk menetap di lokasi itu. 

“Sebentar lagi bulan puasa, jika diizinkan kami ingin menetap selama puasa. Ini keluhan teman-teman pedagang di sini, makanya kami datang ke dewan mencari solusi,” katanya.

Kedatangan ke dewan tindakan spontan dari pedagang Asahan. Tak mungkin dihalangi. Semua aspirasi juga telah disampaikan dengan Ketua DPRD Kota Pontianak. Jika ditotalkan, jumlah pedagang Asahan ada 106 orang. Rerata dagangannya pakaian, sepatu dan sandal. “Saya pribadi berdagang pakaian,” ucapnya.

Relokasi pedagang Asahan karena nanti pada jalur itu digunakan sebagai akses masuk material pembangunan. Sehingga keberadaan pedagang dapat menghambat jalur keluar masuk kendaraan. “Kami berharap ini bisa ditunda sampai akhir puasa. Setelah itu kami siap dipindahkan ke mana saja,” terangnya.

Kuatnya pedagang Asahan bertahan karena banyak pedagang yang telah meminjam modal untuk memasukkan barang baru jelang puasa. Mendengar kabar dipindahkan tentu kaget, karena untuk masukkan barang baru, sebagian pedagang bela-belakan mencari utangan bahkan menggadaikan sertifikat rumah. 

“Jika kami dipindah tentu berpengaruh pada pendapatan. Jika di Barito, tentu orang lebih memilih ke Pasar Sudirman atau KP (Khatulistiwa Plaza)! Kami hanya minta waktu satu bulan saja,” ungkapnya.

Di tempat sama, Anggota DPRD Kota Pontianak Agus Sutisno mendesak Disperindagkop dan UKM Pontianak menyelesaikan persoalan ini. “Ini akibatnya! Jika tidak pernah berkoordinasi dengan DPRD. Selama ini relokasi pihak terkait tak pernah koordinasi dengan kami,” ucapnya.   

Harusnya, lanjut politisi dari partai Golkar itu, Disperdindagkop dapat mengutamakan kepentingan masyarakat. Dalam pertemuan dengan para pedagang, mereka ingin pemindahan dilakukan usai puasa, setelah itu terserah pemerintah mau memindahkan ke mana pedagang Asahan siap. “Kepentingan mayarakat mesti didahulukan. Mereka di sana mencari nafkah,” tegasnya.

Instruksi Ketua DPRD Korta Pontianak, Satarudin meminta Komisi C bertemu dengan Kadisperindagkop untuk mencari solusi terbaik, dan melakukan kajian yang disampaikan ke pedagang Asahan itu.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Pontianak Haryadi S Triwibowo mengungkapkan, sebagian besar pedagang di wilayah Pasar Tengah telah kooperatif pindah ke lokasi berjualan sementara. Termasuk 105 pedagang kaki lima di Jalan Asahan yang akan direlokasi ke Jalan Barito dan Kapuas Indah.

“Mereka (PKL di Jalan Asahan) sebagian besar siap untuk pindah, hanya sebagian kecil saja yang menolak sekitar 20 persen,” katanya saat dihubungi Pontianak Post, Selasa (10/5).

Bagi yang belum mau pindah tetap akan diberikan surat peringatan dan harus pindah. Karena sepanjang Jalan Asahan merupakan akses utama pengerjaan proyek penataan tujuh blok di Pasar Tengah. “Ini arus utama pengerjaan proyek, jadi tak bisa ditawar-tawar lagi,” ucapnya. 

Hal ini juga dilakukan demi menjaga keselamatan para pedagang dan pengunjung. Jika proyek sudah bejalan, tetapi masih ada pedagang tentu akan sangat beresiko. Semua dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) proyek pembangunan. 

“Di situ akan dilalui truk-truk besar yang mengangkut material, pekerja lalu-lalang pasti bahaya, jika terjadi kecelakaan siapa yang akan bertangggung jawab,” tegasnya. 

Bahkan ruko-ruko di sepanjang Jalan Asahan harus akan dipagari menggunakan seng, sehingga terhindar dari debu atau limbah pembangunan. Semua sudah dikaji, agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas saat pengerjaan proyek yang berlangsung 24 jam.

Di depan Jalan Asahan juga nantinya dipasang plang imbauan untuk tidak dilalui masyarakat. “Kalau PKL masih berdagang di sana juga percuma, siapa yang mau belanja akses jalan juga ditutup untuk masyarakat,” jelasnya.

Terkait ihwal ini, Haryadi mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi sejak jauh-jauh hari, karena pindah menjadi satu-satunya jalan terbaik. Untuk itu sudah disiapkan beberapa titik lokasi pindah sementara yang tak jauh dari lokasi sebelumnya. “Ini juga proyeknya tidak lama, hanya enam bulan, setelah itu pedagang bisa menempati lokasi yang baru,” jelasnya. (iza/bar) 

Berita Terkait