Pedagang Kerap Terima Upal

Pedagang Kerap Terima Upal

  Jumat, 20 Oktober 2017 10:00
PALSU: Seorang pedagang menunjukkan perbedaan uang palsu pecahan Rp50 ribu (atas) dengan uang asli (bawah). Uang palsu itu ia dapatkan dari seorang pembeli. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Berita Terkait

1.435 Lembar Uang Palsu Ditemukan di Kalbar

PONTIANAK - Peredaran uang palsu (upal) di Kalimantan Barat ternyata cukup banyak. Berdasarkan data Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kalbar, sejak Januari hingga pertengahan tahun 2017 telah ditemukan sebanyak 1.435 lembar uang palsu di provinsi ini.  Ini menempatkan Kalbar pada peringkat ketiga terbesar peredaran uang palsu di Indonesia.

Baru-baru ini, Bareskrim Polri membongkar kasus pemalsuan uang dengan nilai miliaran rupiah. Sindikat pemalsu uang yang berlokasi di Madura, Jawa Timur itu, ternyata mengedarkan uang palsu ke enam provinsi. Salah satunya Kalimantan Barat. 

Kepala Bidang Humas Polda AKBP Nanang Purnomo mengakui, uang palsu banyak beredar di wilayah Kalimantan Barat. “Ini (peredaran uang palsu) sangat meresahkan masyarakat,” kata Nanang pada Pontianak Post, Kamis (19/10). 

Penemuan uang palsu didominasi di Kota Pontianak dengan total 1.280 lembar. Setelah itu baru disusul oleh Kota Singkawang sebanyak 91 lembar dan baru Kabupaten Kubu Raya sebanyak 64 lembar. Kategori jenis uang kertas yang dipalsukan didominasi oleh uang kertas dengan nominal Rp50 ribu dan Rp100 ribu. 

"Kita harus waspada, karena saat ini banyak beredar uang palsu. Untuk itu saya mengimbau masyarakat jika menemukan uang palsu, segera laporkan. Selain itu juga terus berkoordinasi dengan perbankan," katanya.

Penemuan uang palsu ini diakui para pedagang di sejumlah pasar tradisional di Pontianak. Uang palsu itu diterima dari para pembeli. Salah satunya disampaikan Heri, pedagang sayur di Pasar Flamboyan. Heri bercerita, dua minggu lalu ia mendapatkan uang palsu dengan nominal Rp100 ribu dari seorang pembeli. Ia baru menyadari menerima uang palsu itu saat menghitung uang yang ia peroleh dari hasil berjualan. “Pas saya cek ternyata palsu,” ucapnya.

Lain lagi dengan Adi. Pedagang ayam potong ini mengaku pernah menerima uang palsu dengan pecahan Rp20 ribu, Rp50 ribu, dan Rp100 ribu. Menurut Adi, tidak hanya dirinya, pedagang lain juga kerap menerima uang palsu. “Kalau ditanya, ya lumayan sering dapat uang palsu, pedagang lainnya juga ada yang dapat,” terangnya. 

Pedagang lainnya adalah Sutiyah. Pedagang daging ini mengaku mendapatkan uang palsu sebanyak dua hingga empat lembar dalam satu minggu ini. Uang palsu ini diedarkan pelaku saat Sutiyah sedang melayani banyak pembeli. “Seringnya pas lagi ramai-ramainya pembeli, uang palsunya diselipkan-selipkan di antara uang asli,” terangnya, Kamis (19/10).

Kondisi pembeli yang ramai ini, diakuinya kadang merasa sulit untuk melakukan pengecekan setiap lembar uang yang diberikan pembeli. Pembeli yang ramai ini biasanya terjadi pada hari Sabtu dan Minggu. 

Sutiyah mengatakan uang yang diduga palsu itu, semakin banyak beredar sejak bulan Ramadan lalu. Sutiyah berharap polisi menindaklanjuti banyaknya peredaran uang palsu ini. Apalagi jika yang mendapatkan uang tersebut adalah pedagang kecil, tentu akan menderita kerugian. “Harapan kami pelaku-pelaku ini ditangkap, karena buat pedagang rugi,” katanya.

Sebelumnya,  seorang pedagang kaki lima bernama Abdul juga mendapatkan uang palsu dari seorang pembeli. Saat itu, pertengahan bulan Agustus 2017 sekitar pukul 03.00 dini hari. Abdul  didatangi oleh dua orang laki-laki mengendarai sepeda motor. Laki-laki tersebut membelanjakan uang kertas pecahan Rp50 ribuan untuk membeli sebungkus rokok. 

Oleh Abdul, karena harga rokok sebesar Rp20 ribu, maka ia pun mengembalikan sisanya sebesar Rp30 ribu. Awalnya ia tidak curiga. Uang kertas pecahan Rp50 ribu yang ia terima dari pembeli itu langsung ia simpan di tempat penyimpanan uang. Dia baru menyadari bahwa uang tersebut palsu pada pagi harinya saat akan membelanjakan kembali. Ternyata uang kertas pecahan Rp50 ribu itu palsu. 

"Waktu malam memang tidak kelihatan. Sepintas kalau dilihat dari fisiknya tidak ada yang aneh. Tapi pagi harinya saat mau belanja, baru ketahuan. Ternyata uangnya palsu," kata Abdul.

Diakui Abdul, sebelumnya ia juga pernah mendapatkan kasus yang sama. "Dulu, beberapa bulan yang lalu juga sama. Uang palsu juga. Dia (pelaku) membelanjakan rokok," katanya.

Menurut Abdul, pelaku selalu melakukan aktivitas transaksi pada malam atau dini hari. "Kalau malam kan memang sulit dikenali bang. Apalagi kami tidak ada alat untuk mendeteksi, apakah itu palsu atau tidak. Dan anehnya, uang yang dipalsukan ini uang baru," paparnya. 

Peredaran uang palsu juga ditemukan di Sanggau. Kepolisian Resor (Polres) Sanggau mengungkap keberadaan uang palsu di Kecamatan Parindu. Kasat Reskrim Polres Sanggau, AKP Muhammad Aminuddin S.Ik membenarkan temuan tersebut. Kasusnya sedang dalam penanganan Polsek Parindu. Masih ada sejumlah hal yang mesti diselidiki secara lebih mendalam. "Iya benar. Kasusnya masih dalam pengembangan pihak kepolisian. Barang bukti upal sudah disita polisi," ungkapnya Kamis (19/10).

Menurutnya, pada Rabu (18/10) telah ditangkap seorang pria berinisial DH (29) berdasarkan aduan dari masyarakat yang menginformasikan adanya peredaran uang palsu pecahan Rp50 ribu di Parindu. "Pelaku ditangkap beserta barang bukti satu lembar uang palsu Rp50 ribu," katanya.

Uji Laboratorium

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Dwi Suslamanto mengatakan, uang yang diduga palsu itu harus mendapatkan pengecekan langsung oleh Bank Indonesia. “Yang bisa bilang uang palsu itu adalah BI setelah dilakukan uji laboratorium,” ungkapnya.

Dwi menjelaskan, untuk melakukan pengecekan, uang tersebut diajukan oleh bank, dan kemudian pihak bank yang akan menyerahkannya kepada BI. Setelah dilakukan uji laboratorium, BI akan menginfokannya ke pihak bank tentang keaslian uang tersebut.

“Jika asli, BI akan mengembalikan uang tersebut ke bank untuk dikembalikan ke nasabahnya, jika palsu BI akan menginformasikannya kepada pihak bank, namun uang palsu tersebut tidak akan dikembalikan,” jelasnya.

“Uang palsu tersebut akan diserahkan ke kepolisian untuk penyidikan lebih lanjut,” tambahnya. (arf)

Berita Terkait