Pecel Lele Lamongan

Pecel Lele Lamongan

  Kamis, 9 November 2017 09:57   91

Oleh: FERRY YASIN

SIAPA tak kenal pecel lele Lamongan? Hampir setiap kita tahu dan pernah mengecap kudapan yang  merakyat ini, yang berasal dari sebuah kabupaten yang (awalnya) kurang populer di Jawa Timur. Terdiri atas nasi dan ikan lele yang digoreng plus lalapan yang biasanya terdiri atas mentimun, daun kemangi dan kol yang diiris-iris, ditambah dengan sambal khas rasa manis yang kadang dicampur dengan kacang tanah atau kacang mete atau kemiri yang disangrai, menyebabkan makanan yang sederhana ini menggugah selera banyak orang. Baik tua maupun muda, termasuk anak-anak tidak ketinggalan.

Tetapi sadarkah kita, dibalik makanan yang laris manis bak kacang goreng ini memiliki riwayat historis yang panjang dan multi dimensi perspektif sosialnya. Kisah ini tidak terlepas dari kondisi geografis dan topografi tanah leluhur para migran ini berada. Kabupaten Lamongan berjarak kurang lebih 50 km sebelah barat  Surabaya di Jawa Timur. Daerah pesisirnya merupakan pegunungan yang merupakan kelanjutan dari pegunungan kapur Kendeng Utara di Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang dan di Jawa Timur Kabupaten Tuban. Sisanya merupakan dataran rendah yang kebanyakan merupakan cekungan. Sehingga muncullah istilah di kalangan warga setempat  “Rendeng Ora Iso Ndodok, Ketigo Ora Iso Cewok” –pada musim penghujan banjir, sampai-sampai berjongkok saja tidak bisa, dan pada musim kemarau tidak bisa cebok, karena air sangat langka.

Merantau adalah pilihan terakhir apabila tanah kelahiran tidak bisa memberi penghidupan yang cukup. Sebagaimana pula masyarakat di Pulau Madura merantau karena lahan yang relatif tandus dan kering, masyarakat atau pemuda Lamongan juga meninggalkan kampung halamannya untuk penghidupan yang lebih baik. Jadi istilah “Mangan Ora Mangan Sing Penting Ngumpul”—makan atau tidak yang penting ngumpul tidak berlaku pada komunitas ini dan Orang Jawa pada umumnya. 

Berbeda dengan konsep merantaunya pemuda Minang, yang  bertumpu nampak seperti sebuah kewajiban. Setelah mulai beranjak dewasa, adalah keharusan bagi pemuda di Sumatera Barat untuk meninggalkan kampung halamannya merantau demi sebuah tradisi dan adat. Akan sangat risih berada di kampung halaman meski sejauh mata memandang wilayah itu subur karena tanah vulkanik, padahal merantau adalah sebuah kebanggaan, sampai akhirnya mereka memutuskan pulang setelah berhasil. 

Awalnya orang Lamongan banyak  hijrah ke Surabaya dengan berdagang berbagai makanan seperti nasi goreng, tahu campur dan soto Lamongan. Kemudian pada tahun 1950-1960-an mulai membanjiri Jakarta dengan soto Lamongannya dan pada sekitar tahun 1970-an mulai merambah ke berbagai wilayah, dengan trade mark-ya sendiri pecel lele Lamongan. Tidak ada kota di negeri ini, yang tidak ada pecel lele Lamongannya. Dari Aceh di ujung barat sampai Biak di ujung timur, dari Pontianak di hilir sampai Putusibau di hulu, aroma lele digoreng menjadi sebuah keniscayaan. Yang menarik dari pecel lele Lamongan ini  adalah makanan ini khas kaki lima tetapi bisa juga menggaet kalangan kelas menengah dan juga atas. 

Meski satu dengan yang lainnya tak memiliki hubungan dagang, warung makan pecel lele Lamongan memiliki kesamaan. Selalu mengokupasi setiap lahan kosong di tempat keramaian, di depan toko dan ruko, di pintu masuk perumahan, di pasar-pasar, di perempatan jalan, di terminal, di alun-alun kota. Perangkat terdiri dari sebuah tenda yang besar dan luas, lampu yang terang benderang, dengan hamparan meja yang cukup panjang dan beberapa kursi mengelilinginya. Spanduk yang hampir sama menghiasi tenda itu, biasanya bergambar ikan lele itu sendiri, atau apabila ada menu tambahan ada pula gambar bebek, ayam, burung dara atau seafood. Dan tak pernah penjualnya seorang diri, biasanya terdiri atas dua pemuda atau lebih, yang masing-masing memiliki job-nya sendiri. Waktu berjualannya pun tertentu, biasanya mulai menjelang sore hingga tengah malam.

Jelas, fenomena pecel lele Lamongan ini adalah proses penyeragaman selera untuk seluruh masyarakat Indonesia. Pecel lele bisa diterima oleh seluruh masyarakat, selain ini merupakan makanan yang egalitarian, murah meriah, sumber daya ikan lelenya bisa didapatkan di seluruh wilayah Indonesia, yang pada gilirannya menghidupkan ekonomi masyarakat dengan budi daya lele, tetapi juga kekuatan makanan ini terletak di sambalnya yang tak begitu pedas tapi manis, hingga jadi perbincangan setiap orang. Rumah makan Padang telah melakukan hal yang sama terlebih dahulu. Selera masakan Padang—terutama rendangnya—telah mengindonesia, bahkan telah go international seiring dengan merantaunya orang-orang Padang ke seluruh dunia.

Pasti manajemen gotong royong yang berlaku di dalam aktivitas penjualan pecel lele Lamongan ini. Tidak seperti Kentucky Fried Chicken yang diketemukan oleh Kolonel Sanders, yang berhasil mengglobalisasi rasa ayam goreng tepung dengan standar yang sama, dan membuka cabang di seluruh dunia dengan sistem franchise (waralaba) dengan manajeman rasional dan terukur, pecel lele Lamongan, mungkin bisa dikatakan manajemennya kampungan, tetapi siapa sangka mereka merupakan motor penggerak ekonomi bagi daerahnya, terbukti dari rumah-rumah mereka di kampung halaman besar dan megah dan desa menjadi relatif makmur.

Berbicara tentang pecel lele Lamongan adalah kekuatan makanan tradisional kita yang telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Diharapkan ia juga bisa mendunia seperti makanan Padang dan nasi goreng. Sebagaimana setiap makanan tradisional memiliki kisah dan daya tariknya sendiri, demikian juga dengan pecel lele. Yang sejauh ini orang hanya tahu kelezatannya saja dan bukan kisahnya, terlebih kota asal makanan tersebut. Yogyakarta terkenal dan banyak orang telah menginjakkan kaki disana, tetapi tidak semua orang telah merasakan gudeg-nya. Lamongan terkenal, tetapi jarang orang berniat datang kesana, meski hampir semua orang telah melahapi pecel lelenya.

*) Penulis: Pengajar di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kab. Kubu Raya