Pay, Metamorfosis, dan Sepok Tige

Pay, Metamorfosis, dan Sepok Tige

  Minggu, 31 July 2016 10:54   488

Oleh: Khairul Fuad

DALAM kesempatan diwawancari oleh sebuah rubrik tetap surat kabar terdepan Kalbar, Hers, foto Pay panggilan akrab Pay Jarot Sujarwo (PJS) tampak berbeda dari sebelumnya. Kupluk, penutup kepala saat salat, menjadi pembeda jelas dari tampilan-tampilan sebelumnya (Pontianak Post 17/05/2016). Meskipun tampilan tidak menjadi jaminan, PJS telah menunjukkan arah pemikiran yang mungkin bisa disebut berbeda sama sekali dengan sebelummya sekalipun melalui tampilan.

Perubahan tampilan dan pemikiran PJS, yang kerap diistilahkan hijrah, sempat menjadi perbincangan dalam kontekstual Kalimantan Barat. Mengingat perjalanan imajinasi-kreatifnya telah mewarnai kesastraan Kalimantan Barat sehingga publik Kalbar menunggu-nunggu apa yang dilakukannya. Setelah melempar isu ke-sepok-an, PJS kebanjiran sorotan bak artis yang naik daun, termasuk sorotan yang dibuatnya sendiri melalui medsos yang sempat ditinggalkan. 

Peluncuran (launching) Sepok Tige pada 19 Juni 2016 lalu di kafe Canopy Center bilangan Purnama dua Pontianak, menjadi jaminan sorotan pasang mata. Beberapa kalangan publik berkumpul mengikuti acara tersebut, yang terbilang sukses karena sepak-terjangnya selama ini dan gencarnya publikasi sebelum acara. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan sebuah karya didukung oleh anasir yang terkait, lebih-lebih di era teknologi informasi.

Sepok Tige merupakan rangkaian (sequel) karya-karya sebelumnya yang menyedot animo publik Kalimantan Barat. Karya paling mutakhir ini masih berkisah perjalanan (travelling) PJS di benua biru, tepatnya di negeri matador sekaligus terkenal pertandingan sepak bola el-classico antardua klub bebuyutan. Di negeri matador itu, Spanyol, PJS kali ini tidak sekadar berbagi pengalaman saja, tetapi mengungkapkan situs kesejarahan selama perjalanannya.

Pengungkapan situs sejarah menjadi bagian penting dari perjalanan kreatif PJS selama ini sekaligus pintu gerbang proses metamorfosis dari karya-karya sebelumnya. Proses semacam ini galib dialami oleh orang-orang yang bergelut di bidang kepenulisan. Misalnya, Odhy’s pernah mengalami proses yang sama, bermetamorfosis dalam berkarya dari sastra ngepop ke sastra sufistik. Pemikiran dan pengalaman dengan segala pengaruhnya memantik sebuah metamorfosis. 

Sepok Tige bisa dipastikan tidak muncul sendirian, sangat terkait dengan anasir lain yang bersifat ekstrinsik. Selain bagian dari rangkaian karya sebelumnya yang bersifat intrinsik, pemikiran dan pengalaman PJS memberi pengaruh kuat kemunculan Sepok Tige yang bersifat ekstrinsik. Sejarah kejayaan Islam di benua biru, Spanyol, yang mengharu-biru merupakan pergumulan pemikiran dan pengalamannya dalam merawat dan meruwat imajinasi-kreatif.

Situs-situs kejayaan Islam di Spanyol diungkapkan oleh PJS di dalam Sepok Tige dari kisah perjalanannya di sana. Dimaklumi bahwa Islam pernah memberikan kontribusi berarti di wilayah benua biru dengan peninggalan situs-situsnya sebagai bukti kejayaannya dalam konteks sejarah global. Selain itu, berbagai cabang ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh ilmuwan muslimin selama kejayaan menjadi bagian melekat dari kontribusi tersebut di benua tersebut.

Oleh karena itu, menurut Nurcholis Majid, intelektual muslim, Barat harus berterima kasih kepada Islam atas kontribusi di berbagai aspek sehingga seperti sekarang ini. Wujud terima kasih itu yang diupayakan oleh PJS melalui sepak-terjang tokoh sejarah  muslimin yang bergelut di aspek politik dan ilmu pengetahuan di benua biru, seperti Ibnu Batutah, Thariq bin Ziyad, al-Khawarizmi, dan al-Kindy.

Sebagai prasasti metamorfosis, PJS memberikan warna lain dalam Sepok Tige melalui kritik sejarah sebagai wujud terima kasih yang mungkin belum pernah diwujudkan. Sejurus internalisasi pemikiran dan pengalamannya terdapat konteks sejarah yang diputarbalikkan dari pemahamannya selama ini. Secara implisit menurutnya, Barat selama ini tidak legowo mengucapkan terima kasih kepada Islam atas kontribusinya dalam sejarah.

PJS dengan karya mutakhirnya, Sepok Tige, telah tampil beda dari karya-karyanya selama ini dengan ungkapan sejarah di atas intrik sejarah mapan yang dianggapnya tidak berkesesuaian. Konteks sejarah memang sarat dengan kepentingan, termasuk intrik-intrik demi tujuan tertentu. Sepok Tige seperti antitesa atas intrik sejarah tersebut dan terhadap perjalanannya selama ini yang sekadar perjalanan sekaligus prasasti metamorfosis PJS ke ranah baru.

*) Peneliti sastra Balai Bahasa Kalbar