Pawai Tatung Masih Memikat Pengunjung Cap Go Meh Kota Singkawang

Pawai Tatung Masih Memikat Pengunjung Cap Go Meh Kota Singkawang

  Selasa, 2 February 2016 13:33
ATRAKSI: Seorang Tatung unjuk kebolehan di depan panggung kehormatan pada Perayaan Cap Go Meh tahun 2015 lalu di Kota Singkawang. FAHROZI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Menyambut Perayaan Cap Go Meh, hari ke lima belas Tahun Baru Imlek, Kota Singkawang terus berbenah. Atraksi budaya, Pawai Tatung, terus dimatangkan. Tahun ini bakal ada sesuatu yang baru untuk disuguhkan kepada wisatawan lokal dan mancanegara.

FAHROZI,  Singkawang

SINGKAWANG telah menobatkan dirinya sebagai kota tujuan wisata. Harus diakui kota ini memiliki daya tarik, mulai dari wisata alam, kuliner, budaya hingga keragaman masyarakatnya. Kota dengan jumlah penduduk sekitar 192.844 jiwa (2014), berbagai suku mulai dari Melayu, Tionghoa, Dayak, Madura, Jawa, Sunda, Batak serta lainnya hidup berdampingan di Bumi Bertuah Gayung Bersambut ini.

Keberagaman latar belakang suku yang ada, menjadikan kota ini kaya akan budaya. Masing-masing suku, memiliki adat dan kebudayaan yang kemudian dikemas menjadi sebuah even wisata. Diantaranya adalah ritual budaya warga Tionghoa.

Pergantian tahun baru China menjadi moment spesial. Hari ke lima belas akan ada pawai tatung atau orang yang mendapatkan izin dari dewa ditandai dengan masuknya roh ke badan yang bersangkutan. Kemudian diarak keliling kota sesuai rute yang telah ditentukan. Tatung merupakan sebuah proses raga seseorang dikuasai roh.

Seperti pernah disampaikan Wijaya Kurniawan, tokoh masyarakat, siapa yang bisa menjadi tatung, adalah orang-orang  yang raganya menjadi “pilihan”. Tidak sembarang orang bisa menjadi Tatung. Namun dalam perkembangannya, hal tersebut dilakukan melalui proses “diisi roh” oleh orang yang memiliki keahlian.

Kenapa ada Tatung? Berawal dari ratusan tahun lalu diperkirakan

pada 1712, dengan kedatangan warga Tionghoa ke Singkawang,

untuk bekerja jadi buruh tambang.

Dalam perkembangannya, terjadi wabah penyakit yang sangat ganas hingga menyebabkan beberapa warga meninggal. Kemudian adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan, datanglah “utusan” ke tempat tersebut.

Datangnya “utusan” ini, dengan cara tubuh manusia yang dirasuki roh, yang kemudian melakukan pencegahan dan membuang wabah penyakit. Apa yang dilakukannya berhasil, wabah penyakit hilang. Sejak kejadian itulah atau tepatnya di tanggal 15 bulan Imlek menjadi hari peringatan hubungan Tuhan dan manusia.

Tatung yang sampai sekarang ini ada (berdasarkan sejarahnya) adalah budaya lokal yang lahir di Singkawang, dengan mengandung nilai-nilai ritual, dimana ada amalannya, doa-doanya. Ada sisi keagamaan yang melingkupi budaya lokal tersebut, lantaran ada ritual-ritual yang harus dilakukan, dalam kegiatan Tatung, ada satu energi yang memasuki raga sehingga manusia tersebut memiliki kekuatan lebih untuk melakukan pembersihan kota dari segala hal negatif.

Pawai Tatung sempat terhenti saat masa Orde Baru (Orba). Namun hidup kembali ketika masa reformasi, dimana Presiden Gusdur kala itu merubahnya.

Lambat laun, dengan dipoles sedemikian rupa, dan sangat terkait dengan dunia kepariwisataan, menjadi nilai jual Kota Singkawang, yang bisa dinikmati seluruh bangsa di dunia karena sudah menjadi andalan wisata Kalbar ataupun Indonesia.

Lantas apakah orang yang menjadi tatung memiliki keahlian mengobati

Penyakit? Dikatakan Rudi, salah satu Tatung yang tinggal di Pulau Natuna, hanya orang yang dipilih mendapatkan kebisaan seperti itu. “Kita tidak mempelajari secara khusus agar bisa membantu orang yang sedang sakit, tapi kalaupun sudah dipilih walaupun tidak kita pelajari kita diberikan kebisaan menolong orang,” kata Rudi. Sehingga orang yang menjadi tatung, bisa saja tidak memiliki keahlian untuk melakukan pengobatan.

Seperti halnya dirinya, meski tidak belajar khusus cara mengobati. Diakuinya pernah juga diminta tolong untuk penyembuhan orang sakit, dan bersyukur atas izin dari sang pencipta dirinya bisa membantu orang tersebut.

Bapak empat anak inipun sudah beberapa kali didatangi orang sakit untuk berobat. Meski tidak secara khusus membuka praktek mengobati. “Saya inikan sehari-harinya berdagang, ada juga yang kadang datang ke rumah karena anak atau anggota keluarganya sakit,” katanya.

Pawai tatung inilah yang menjadi daya tarik khusus saat pelaksanaan Cap Go Meh. Baik itu wisata lokal maupun lua negeri. Tak ayal, penginapan yang ada di Singkawang pun dipenuhi tamu yang ingin melihat ritual budaya tersebut.

Perlu diketahui, untuk jumlah tatung, pada perayaan CGM tahun 2012 sekitar 762 tatung. Kemudian pada 2014, sebanyak 747 tatung. Kemudian jumlah tersebut, berkurang menjadi sekitar 400 tatung pada pawai tatung di Cap Go Meh (CGM) 2014. Di 2015, jumlah tatung sama dengan 2014, yakni sekitar 400 tatung. Tahun ini jumlah Tatung akan bertambah dan diikuti dengan kegiatan lainnya.**

Berita Terkait