Paus Baleen Terdampar di Sui Batang

Paus Baleen Terdampar di Sui Batang

  Rabu, 31 Agustus 2016 09:30
MEMBUSUK: Petugas BPSPL Pontianak yang tengah mengindetifikasi bangkai paus balee yang sudah membusuk di pantai SUngai Batang, Mempawah.

Berita Terkait

MEMPAWAH- Warga Dusun Barat, Rt 05 Rw 02 Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh menemukan bangkai ikan paus yang terdampar di pinggir pantai desa setempat. Ikan langka yang diduga berspesies Paus Baleen itu sudah membusuk. Kuat dugaan paus tersebut mati akibat terperangkap jaring nelayan.

 “Warga yang pertama kali menemukan bangkai ikan paus tersebut bernama Dikin. Ketika itu, dia sedang mencari sesuatu dipinggir pantai dan tak sengaja menemukan bangkai ikan paus tersebut. Temuan itu sekitar 3 minggu lalu,” terang Kepala Desa (Kades) Sungai Batang, Jamaludin kepada Pontianak Post, Selasa (30/8) siang.

Namun, imbuh Kades, dirinya baru mendapatkan informasi temuan bangkai ikan paus tersebut sejak dua hari terkahir. Informasi itu pun didapat dari masyarakat lainnya. Sebab, temuan ikan paus ini sempat menjadi ‘tranding topic’ di kalangan masyarakat Desa Sungai Batang.

 “Saya sendiri tahu ada temuan bangkai ikan paus itu dari warga lain,” akunya.

Sementara itu, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak yang mendapatkan informasi adanya temuan bangkai ikan paus tersebut langsung terjun ke TKP. Dua petugas BPSPL melakukan identivikasi terhadap bangkai ikan paus yang sudah membusuk tersebut.

“Kita cukup sulit melakukan identivikasi. Karena bangkai ikan paus ini sudah membusuk dan beberapa bagian dagingnya sudah hilang. Yang pasti ini bangkai ikan paus. Dugaan sementara, ikan ini spesies Paus Baleen,” ungkap Analis Sumberdaya Pesisir dan Laut BPSPL Pontianak, Enjang Hernandi Hidayat didampingi rekannya, Eko Rahmanza Putra.

Enjang menerangkan, ikan paus tersebut memiliki panjang 6 meter. Dengan kondisi bangkai ikan paus yang sudah membusuk dan sebagian daging sudah hancur maka diperkirakan usia bangkai tersebut sudah 3 minggu atau bahkan lebih.

 “Untuk bobot, tidak bisa diindentivikasi karena kondisinya sudah tidak utuh. Kita memperkirakan ikan paus ini sudah mati lebih dari tiga minggu lalu. Kalau menurut keterangan warga yang menemukan, sudah tiga minggu,” paparnya.

Lebih jauh, Enjang mengatakan, hasil identivikasi pihaknya juga mendapatkan dugaan kematian ikan yang langka dan dilindungi UU itu. Kuat dugaan, kematian ikan tersebut dikarenakan terjebak jaring atau pukat nelayan.

 “Kami mendapatkan ada bagian jarring yang masih menempel di bangkai ikan paus. Makanya, kami menyimpulkan dugaan kematian ikan tersebut akibat terperangkap jaring. Hingga akhirnya ikan paus ini tak berdaya dan terdampar di pantai,” sebutnya.

Ditanya tindaklanjut dari temuan itu, Enjang mengatakan, pihaknya dibantu warga dan dinas terkait melakukan pemusnahan. Bangkai ikan paus dimusnahkan dengan cara dikubur dan ditenggelamkan dipinggir pantai.

 “Tadinya kita ingin agar dikuburkan ditempat lain. Namun, tidak memungkinkan untuk diangkat karena bangkai ikan paus sudah rapuh. Jika bangkai ini tidak dikubur, dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit bagi masyarakat dan lingkungan. Sebab, bangkai ikan paus mengeluarkan bakteri,” ujarnya.

Selain melakukan identivikasi terhadap bangkai ikan paus, petugas BPSPL Pontianak juga menindaklanjuti laporan masyarakat atas temuan binatang laut lainnya di Pantai Senggiring. Tubuh binatang yang sudah tak utuh itu diduga Finles Porpoise.

 “Finles Porpois ini bukan spesies paus dan bukan pula lumba-lumba. Tetapi masuk dalam salah satu jenis mamalia laut. Pada bagian ikan kita temukan bekas goresan-goresan yang diduga bekas jaring. Bagian kepalanya sudah tidak ada. Jadi, ikan ini langsung kita musnahkan dengan cara dibakar,” katanya.

Kedepan, Enjang menghimbau kepada seluruh masyarakat yang menemukan hewan laut langka yang terdampar atau terjebak jaring nelayan agar segera melaporkan kepada BPSPL atau dinas setempat. Agar, petugas dapat segera melakukan tindaklanjut dan penanganan.

 “Jika memang kondisinya masih hidup, tentu harus kita selamatkan dan kembalikan ke alamnya. Namun, jika ditemukan sudah dalam keadaan mati maka bangkainya harus dimusnahkan agar tidak menimbulkan penyakit bagi masyarakat dan lingkungan setempat,” pungkasnya.(wah)

Berita Terkait