Paspampres Hanya Menggunakan, Pembelian Dilakukan Mabes TNI dan Kemenhan

Paspampres Hanya Menggunakan, Pembelian Dilakukan Mabes TNI dan Kemenhan

  Jumat, 8 July 2016 09:50
FOTO Dokumen Jawa Pos

Berita Terkait

Dituding Gunakan Senjata Ilegal dari Amerika

PASUKAN Pengamanan Presiden (Paspampres) dilanda isu tidak sedap. Disebut-sebut, pasukan elit pengawal presiden tersebut melakukan pembelian senjata secara ilegal dari Amerika Serikat. Namun dugaan dibantah pihak Paspampres.

Selama ini, pembelian senjata dilakukan langsung oleh Mabes Tentara Nasional Indonesia (TNI). Komandan Paspampres Brigjen (Mar) Bambang Suswantono mengatakan, dia tidak mengetahui terkait pembelian senjata ilegal yang dilakukan satuannya.

“Saya malah dapat info dari temen-temen media,” terang dia saat dihubungi Kamis (7/7). Ia juga tidak tahu bagaimana informasi itu bisa beredar. Setelah ini, dia akan mendalami kabar tersebut.

Dia menyatakan, selama ini tidak tahu menahu terkait pembelian senjata. Sebab, Pasmpampres tidak pernah membeli senjata. Menurut dia, pembelian senjata untuk pasukan yang selalu mengikuti dan mengawal presiden itu dilakukan langsung oleh Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

Paspampres, lanjut dia, hanya sebagai pihak yang menggunakan senjata yang sudah dibeli Mabes TNI maupun Kemenhan. Jadi, kedua instansi tersebut yang paling mengetahui proses pembelian senjata.

Mulai penganggaran sampai pengadaan barang. Setelah senjata selesai dibeli, baru kemudian diserahkan ke Paspampres.

Untuk mengetahui seluk beluk pembelian senjata, dia meminta Jawa Pos langsung bertanya ke Mabes TNI. “Silahkan tanya ke Mabes TNI,” ujar dia.

Sementara itu, Mabes TNI belum bisa dikonfirmasi. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen Tatang Sulaiman tidak mengangkat telponnya saat dihubungi. SMS dan whatsapp yang dikirim juga tidak dijawab.

Informasi itu pertamakali diberitakan The New York Times. Media asing itu memberitakan bahwa Audi Sumilat, seorang tentara Angkatan Darat Amerika Serikat mengaku terlibat dalam penjualan dan pengiriman senjata secara ilegal untuk Paspamres.

Pengakuan tersebut disampaikan saat sidang di Pengadilan Federal Amerika Kamis (7/7) waktu Indonesia. Sumilat merupakan terdakwa penyelundupan senjata ilegal ke luar negeri.

Sumilat membeli senjata di Texas dan New Hampshire untuk anggota Paspampres. Dalam persidangan, Sumilat menyatakan bahwa dia merencanakan penyelundupan senjata pada 2014 silam.

Dia bekerja sama dengan tiga rekannya yang juga berstatus sebagai tentara angkatan darat AS. Saat itu, terang dia, dia dan ketiga temannya itu sedang menempuh pendidikan kilat di Fort Benning, Georgia.

Setelah membeli senjata di Texas dan New Hampshire, dia lalu memberikan senjata tersebut kepada temannya yang tidak disebutkan namanya. Selanjutnya, senjata itu diserahkan kepada salah seorang anggota Paspampres yang saat itu sedang melakukan perjalanan dinas di Washington D.C dan kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Pada persidangan itu, pria 36 tahun itu diancam dengan hukuman lima tahun penjara dan denda sebesar USD 250 ribu.(lum/JPG)

 

Berita Terkait