Pasok Sayuran Hingga ke Ritel

Pasok Sayuran Hingga ke Ritel

  Selasa, 19 September 2017 10:05
Hidroponik: Sunani menunjukkan hasil menanam buah stroberi dengan teknik hidroponik. Siti/Pontianak Post

Berita Terkait

Melihat Geliat Usaha Sayuran Hidroponik

Menanam sayuran secara hidroponik mulai digemari oleh sebagian orang. Tidak hanya dari kalangan praktisi pertanian, yang tidak memiliki latar belakang di bidang ini pun ada yang hobi menanam secara hidroponik. Selain mampu menghasilkan kualitas sayuran yang lebih baik, keterbatasan lahan tidak menjadi persoalan, karena dengan lahan yang sempit pun metode menanam ini dapat dilakukan. Selain itu, kondisi cuaca juga tidak memberikan pengaruh yang besar bagi tanaman.

Bercocok tanam dengan pola hidroponik pun ini pun nyatanya tidak hanya menjadi hobi. Bagi mereka yang berjiwa pengusaha, peluang ini dimanfaatkan untuk menghasilkan pundit-pundi rupiah. Seperti halnya yang dilakukan oleh Sunani. Beliau adalah petani Hidroponik yang berlokasi di Jalan Budi Utomo, Pontianak.

Sayur jenis Salada, sawi kriting, pagoda, pokcoy, bayam, kangkung, sawi thailand, serta cabai merupakan jenis tanaman yang ditanam Sunani, selama hampir dua tahun. Dengan luas lahan 15m x 10m, dalam satu minggu, ia mampu menghasilkan lebih dari 120 kilo sayuran. Sayuran tersebut ia pasok ke sejumlah ritel serta beberapa langgananya.

“Dalam satu minggu butuhnya 120 kilo sayuran, itu hanya retail saja, belum lagi konsumen yang langsung datang kesini serta beberapa pelanggan saya,” ungkapnya saat ditemui Pontianak Post, pekan lalu. Harga yang ditawarkan untuk setiap sayuran beragam. Untuk selada, ia jual dengan harga  Rp 40 ribu per kg, sawi kriting dan Pokcoy Rp30ribu per kg, kangkung dan bayam Rp25 ribu per kg. Harga ini sudah beberapa kali turun jika dibanding pada awal penjualan sayuran hidroponik Sunani yang mencapai Rp60 ribu/kg. 

“Waktu diawal-awal kita harga sangat bagus, namun karena persaingan pasar turun, dan harga ini kita pertahankan jangan sampai turun lagi, mengingat untuk sistem tanam hidroponik ini kita tidak menggunakan pestisida jadi aman dikonsumsi, jadi wajar harganya juga terbilang cukup mahal dibanding harga sayur dari petani konvensional,” ungkapnya 

Meski memiliki harga yang lebih mahal apabila dibandingkan dengan harga sayur yang ditanam seperti biasa, namun permintaan justru terus bertambah. Bahkan beberapa kali permintaan datang, namun stok yang tersedia tidak mencukupi. Hal ini membuat Sunani berencana untuk menambah produksi dengan menambah lahan baru untuk bercocok tanam. “Saat ini kita sedang bangun area tanam baru, sehingga produksi sayuran bisa ditingkatkan. Apalagi sekarang ada satu ritel yang lagi yang meminta pasokan sayuran dari kita,” tuturnya.

Selain menghasilkan sayuran, beberapa bulan ini ia juga mencoba budidaya stroberi. dengan luas halaman 10 m x 8 m, ia menanam buah yang identik dengan rasa asam itu. Namun, dikarenakan ini uji coba pertamanya, ia tidak bisa memprediksi berapa banyak stroberi yang dihasilkan serta berapa harga yang akan ia jual. 

Geliat usaha sayuran hidroponik ini juga diakui oleh Kepala PTL Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan Kota Pontianak, Bintoro. Sejauh ini, pihaknya mendukung siapa saja yang menjual sayuran hidroponik. Hal ini juga membuktikan bahwa masyarakat sudah mulai cenderung senang dengan sayuran yang memiliki kualitas yang lebih baik. “Ini merupakan wujud bahwa masyarakat ingin mengonsumsi makanan yang sehat,” katanya. **

Berita Terkait