Pasarkan Arwana dengan Teknologi

Pasarkan Arwana dengan Teknologi

  Minggu, 10 April 2016 10:35
AQUASCAPE: Sejumlah ikan bermain di taman yang dibentuk dengan elemen seperti batu, pasir, hingga tanaman hidup di dalam akuarium yang dipamerkan di PCC, kemarin. Hobi membuat aquascape seperti ini menjadi hobi baru di kalangan anak muda hingga orang tua. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Gubernur Kalbar Cornelis meminta agar pemasaran ikan arwana ke luar negeri dilakukan melalui teknologi. Selain itu, ia juga meminta agar Dinas Kelautan dan Perikanan berkoordinasi dengan Balai Konservasi untuk mematenkan silok yang hanya ada di provinsi ini.

“Dagangnya bisa melalui teknologi. Orang bisa lihat situsnya, semua ikan arwana ada keterangannya, asal jangan tipu saja, kasih obat merah, biar kelihatan merahnya,” pesan Cornelis saat memberikan sambutan penutupan Pameran Ikan Hias dan Aquascape Kalbar, Jumat (9/4) malam di Pontianak Convention Center (PCC).

Menurut Gubernur, silok merupakan ikan langka dan spesiesnya setiap tahun tidak berubah. Dia bercerita bagaimana saat ia masih kecil ikan-ikan bernilai jual tinggi ini malah dijadikan ikan asin, di mana saat dimakan dagingnya kenyal. Namun, saat ini, dia membandingkan bagaimana spesies yang satu ini memiliki nilai ekonomis yang begitu tinggi. 

Untuk jenis arwana super red, diakui Cornelis hanya ada di Kapuas Hulu. Dia pun meminta agar jenis ini bisa dipatenkan, dilestarikan, dan ditawarkan kepada dunia. “Kalau perlu pasang chip dulu sebelum dijual, sehingga orang tidak bisa mengambil merek dagang dan memalsukannya. Karena memang di dunia tidak ada arwana seperti di Kalbar, kecuali di Amerika Latin, tapi modelnya beda,” ujarnya.

Sementara itu, kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalbar, Gatot Rudiyono, menjelaskan jika pameran dan kontes yang digelar mereka tersebut, untuk lebih mempromosikan ikan endemik Kalbar kepada masyarakat luas. Mereka ingin menjangkau berbagai kalangan baik di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. 

“Juga mengajak masyarakat mengampanyekan terbebas dari stres, dengan memelihara ikan hias. Kontes ini bukan mencari pemenang atau juara, tapi mengedepankan multifflier effect yang terlibat dalam usaha penangkaran ikan silok dan cupang di Kalbar,” jelas Gatot.

Dijelaskan Gatot, selain berbisnis ikan arwana, masyarakat juga dapat mengambil keuntungan, seperti membuka lapangan kerja. Pemelihara ikan ini, diungkapkan dia, tentu saja membutuhkan pakan. Maka, dia menambahkan, secara tidak langsung akan melahirkan para pengembang biak pakan arwana seperti kodok, kecoak, serta jangkrik. “Ini multifflier effect dapat melakukan usaha pakan yang ikan silok,” paparnya.

Sebelumnya, ketua Asosiasi Penangkar dan Pedagang Silok Kalbar (APPS), Vincent Apriono, mengungkapkan jika selama ini Tiongkok masih menjadi pasar ekspor utama ikan arwana dari Indonesia. “Ekspor kami ke China sampai 80 persen, sisanya ke Hongkong, Taiwan, Korea, dan Singapura,” ujarnya. 

APPS pun mencoba membuka pasar baru di Eropa. Mereka bahkan telah berkunjung ke Pemerintah China, mengikuti Dirjen Kehutanan bersama asosiasi lainnya. (gus)

Berita Terkait