Pasar Inpres Pinyuh Kekurangan Kios

Pasar Inpres Pinyuh Kekurangan Kios

  Selasa, 5 April 2016 09:08
PENUH : Pedagang memenuhi lapak-lapak di pasar Inpres Sungai Pinyuh. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SUNGAI PINYUH- Puluhan pedagang telah menempati lapak-lapak di Pasar Inpres Sungai Pinyuh. Menurut Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertambangan (Disperindagkoptamben), sebanyak 93 meja yang telah diisi para pedagang. Meski demikian, pihaknya masih kekurangan kios.

“Sejak beberapa pekan lalu, para pedagang sudah mulai menempati meja-meja los yang telah kita siapkan. Keseluruhan ada 93 meja los untuk pedagang sayur, makanan dan ayam di Pasar Inpres Sungai Pinyuh,” terang Kasi Bina Usaha Perdagangan dan Pembinaan Pasar Disperindagkoptamben Kabupaten Mempawah, Torbiansyah, kemarin.

Setiap pedagang, jelas Torbiansyah mendapatkan satu meja los berukuran 1x1 meter yang dibangun dengan pondasi beton. Namun, banyak pedagang yang mengeluhkan ukuran meja terlalu kecil dan tidak cukup menampung barang dagangannya.

“Para pedagang minta izin untuk menambah luas meja dengan membuat meja-meja kayu. Kita berikan izin, asalkan tidak merusak meja yang sudah dibangun pemerintah,” tuturnya.

Torbiansyah mengakui jumlah pedagang di pasar sayur Sungai Pinyuh membludak dari data yang ada. Sehingga pihaknya pun kewalahan untuk mengatur penempatan pedagang yang akan mendapatkan meja maupun kios.

“93 meja yang ada ternyata tidak cukup untuk menampung pedagang. Makanya kita tambah dengan tenda sebanyak 25 buah. Kita kerah segala daya upaya agar para pedagang bisa mendapatkan tempat untuk berjualan di pasar inpres pinyuh,” ujarnya.

Selain membangun meja los, sambung Torbiansyah, pihaknya juga menyediakan kios-kios untuk para pedagang sembako. Sama halnya dengan pembagian meja los, jumlah kios yang dibangun pemerintah tidak mencukupi untuk menampung para pedagang.

“Untuk kios, kita bangun 31 unit. Dari data awal berdasarkan jumlah kios di pasar lama harusnya melebihi kuota. Namun, setelah kios sudah dibangun banyak pedagang yang menuntut kios. Jika ditururi sesuai permintaan, jumlahnya mencapai 80 unit,” paparnya.

Lebih jauh, Torbiansyah mengatakan pihaknya masih berupaya mencarikan solusi untuk menampung keinginan para pedagang tersebut. Salah satunya dengan mengajukan dana pembangunan pasar baru di Kementrian Perdagangan.

“Bisa saja kita usulkan lagi anggaran untuk bangun pasar baru. Namun, syarat utamanya harus ada lahan atau aset pemerintah daerah. Kementrian tidak akan mau membangun pasar di atas lahan milik perorangan,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang sayur dan rempah-rempah di Sungai Pinyuh mengaku sudah puluhan tahun berjualan dilokasi itu. Namun, pasca pembangunan pasar inpres direalisasikan dirinya tidak mendapatkan jatah meja maupun kios.

“Sudah hampir sepuluh tahun saya berjualan disini. Katanya pemerintah daerah akan memprioritaskan pedagang lama. Nyatanya nama saya tidak masuk dalam data pedagang yang mendapatkan meja,” sesal pedagang yang enggan namanya dikorankan itu.

Akibatnya, dia pun mengaku terpaksa menggelar dagangan dipinggir jalan. Sebab, hanya berdagang lah yang menjadi matapencahariannya agar dapur tetap ngepul dan memenuhi kebutuhan keluarga dirumah.

“Selama ini, saya sendiri tidak pernah diundang untuk rapat terkait pembagian meja atau kios di pasar inpres. Tentunya saya berharap bisa mendapatkan satu meja atau kios untuk berjualan,” tukasnya.(wah)

Berita Terkait