Pasar Indonesia Besar, tapi Belum Didukung Ekosistem

Pasar Indonesia Besar, tapi Belum Didukung Ekosistem

  Senin, 8 February 2016 10:27

Melesatnya internet berdampak pada berevolusinya produk-produk elektronik menjadi berbasis internet. Berbagai perusahaan teknologi pun berlomba-lomba memasyarakatkan teknologi internet pada tiap produknya. Demikian pula Samsung. Lewat Samsung Forum 2016, perusahaan yang bermarkas di Korea Selatan itu menegaskan hal tersebut.

INTERNET of Things atau yang lebih akrab disebut IoT merupakan sebuah fenomena yang bertujuan memperluas manfaat konektivitas internet yang tersambung terusmenerus. Fenomena itu pun disadari Samsung yang tengah getol melakukan penetrasi IoT di tiap produk yang dihasilkan.

’’Tahun ini kami sangat antusias memperkenalkan produk dan layanan yang merupakan revolusi dari produk-produk smart living. Tentunya, kami juga membawa teknologi IoT bagi keseharian konsumen,’’ ujar President and

CEO Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania Yong Sungjeon.

Berbicara saat membuka Samsung Forum 2016 di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), Kuala Lumpur, Malaysia, dia menyatakan bahwa Samsung terus berupaya agar seluruh produk yang dihasilkan tahun ini bisa terkoneksi.

Baik produk-produk gadget maupun home appliance. Head of Consumer Electronics Business PT Samsung Electronics Indonesia Agustinus Gunadharma mengungkapkan, potensi pasar di Indonesia dalam hal IoT tergolong besar. Sebab, populasi penduduk di dalam negeri tinggi dan permintaan akan teknologi internet terus tumbuh. ’’Tetapi ken dalanya, ekosistem di Indo nesia yang belum siap sepenuhnya dalam soal infrastruktur internet,’’ ujarnya.

Agus menuturkan, diperlukan ekosistem dan infrastruktur yang memadai lebih dulu di dalam negeri untuk perusahaan teknologi dalam melakukan penetrasi produk berbasis IoT. Sejauh ini, untuk produk home appliance

dari Samsung, baru produk televise berbasis IoT yang masuk pasar Indonesia. Produk-produk home appliance lain seperti kulkas, mesin cuci, hingga AC berbasis IoT belum masuk ke Indonesia karena infrastruktur internet yang belum stabil di tanah air.

Selain itu, segmen untuk produk IoT lebih dikhususkan pada masyarakat kelas menengah ke atas. Hal itu juga menjadi pertimbangan perusahaan teknologi untuk menyasar market negara-negara yang dianggap potensial dan siap dengan adanya produk IoT. Agus menyebut negara-negara seperti Korea, Singapura, serta Australia merupakan beberapa negara yang perkembangan IoT-nya cukup pesat.

Namun, dia berjanji terus berinovasi melalui kualitas maupun harga yang bersaing. Agus menambahkan, untuk produk televisi, pihaknya masih memimpin perolehan market share.

Dia memerinci, sejak 2007 saat perusahaan asal Negeri Ginseng itu mengeluarkan TV Bordeaux hingga inovasi lain berupa televise SUHD TV, pihaknya masih unggul dengan 34 persen market share jika dibandingkan dengan perusa haanperusahaan teknologi lainnya yang sama-sama mengeluarkan TV.

Pihaknya mencatat pertumbuhan penjualan SUHD TV juga terus meningkat.

Tanpa menyebut nominal, dia menjelaskan, pada 2013 ke 2014 penjualan SUHD TV mencatat pertumbuhan 12 persen. Sementara itu, pada 2014 ke 2015 ada pertumbuhan penjualan yang mencapai 37 persen.

Agus optimistis pasar customer electronics di Indonesia akan terus berkembang. Terlebih dengan berbagai inovasi maupun kemampuan produk berbasis IoT. Agus mengakui bahwa Indonesia belum sepenuhnya bisa jump ready ke konsep IoT dalam jangka waktu yang dekat. Namun, mereka akan memperkenalkannya pelan-pelan. (dinda juwita)