Pasangan Tak Ingin Punya Anak

Pasangan Tak Ingin Punya Anak

  Sabtu, 27 February 2016 07:59
Gambar dari Internet

Berita Terkait

 
Berbagai faktor mempengaruhi kesiapan pasangan dalam memiliki momongan. Masalah keuangan, kedewasaan, stabilitas hubungan  dan lainnya seringkali menjadi masalah yang membuat pasangan memilih untuk menunda memiliki keturunan atau bahkan enggan memiliki keturunan. Oleh : Marsita Riandini
Memiliki anak merupakan salah satu tujuan dari orang menikah. Banyak pasangan yang mendambakan kehadiran buah hati, namun kadang belum juga ditakdirkan oleh Tuhan. Tetapi bagaimana bila ternyata pasangan enggan memiliki anak? Tentunya ini menjadi problem tersendiri dalam keluarga. Lantas bagaimana mengatasinya?

Menjawab For Her, Romi Arif Rianto mengatakan bahwa setiap orang memandang konsep pernikahan itu tidaklah sama. Umumnya setelah menikah, pasangan mendambakan kehadiran anak-anak melengkapi keluarga kecil mereka. Tapi tidak semua orang berpikiran seperti itu. “Ada yang merasa pernikahan itu tidak harus memiliki anak. Apalagi jika dalam pandangannya, kehadiran anak itu tidak menyenangkan, kenyamanan menjadi kacau, mengganggu eksistensi dia,” kata Psikolog di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalbar ini.  Bisa pula, lanjut dia seseorang menganggap setelah punya anak muncul tekanan, stress, atau bahkan ada tanggung jawab yang bertambah. “Kalau punya anak harus diurus, istri akan fokus pada anaknya, dia harus melakukan perannya sebagaimana seorang ayah,” kata dia.

Pada perempuan, ada yang merasa kalau hamil dan melahirkan itu menyakitkan dan sebagainya. “Pada banyak kalangan, ada yang kemudian memilih adopsi agar tidak melewati proses kehamilan dan melahirkan. Hal lainnya biasanya berkaitan dengan tanggung jawab seorang ibu. Dia tidak mau direpotkan dengan hal tersebut,” ulasnya. Alasan lain membuat seseorang enggan memiliki anak, karena kekhawatiran mereka tidak bisa mendidik anak dengan baik. “Mereka memandang dunia ini terlalu menyeramkan. Terlalu banyak tindakan kejahatan. Muncul kekhawatiran apakah bisa mendidik anak dengan baik. Mereka takut tidak bisa merawat,” ucap dia.

 

 

Beda dengan Belum Siap

Tidak mau memiliki anak, lanjut Romi, tidak sama dengan belum siap punya anak. “Kalau tidak mau berarti selamanya enggan punya anak. Tetapi kalau belum siap, berarti ada satu masa nantinya dia siap menantikan kehadiran buah hati,” ujarnya. Orang yang belum siap punya anak, biasanya memilih menunda kehamilan. Ini juga kadang berkaitan dengan karir. ”Dia misalnya kontrak tidak boleh punya anak dalam beberapa tahun. Ketika masa itu punya anak, maka harus siap resign dari kerjaan. Kalau nanti punya anak ditakutkan akan menghambat karir,” jelasnya yang mengatakan alasan lain pasangan belum siap punya anak, karena mereka ingin menikmati waktu bersama.

Lantas bagaimana ternyata Tuhan menakdirkan anak pada mereka disaat ortu enggan memiliki anak, atau belum siap memiliki anak? Menurut Romi, reaksi akan berbeda-beda. “Begitu dia punya anak, melihat wajah anaknya. Dia pun langsung bisa menerimanya. Muncul perasaan senang, bahagia karena kehadiran buah hati,” bebernya.  Tetapi, bisa juga muncul kemarahan dalam dirinya, terutama kepada sang istri. “Dia merasa tidak ingin punya anak, ya sudah istri saja yang urus. Dia tidak mau mengambil peran sebagai seorang ayah,” paparnya.

Kondisi ini akan sulit dihadapi, jika hanya salah satunya saja ingin punya anak. Mengatasinya maka perlunya saling keterbukaan antara suami istri. Saling memahami tujuan pernikahan dalam pandangan masing-masing. “Sejak awal sebelum menikah itu sudah dibicarakan apa konsep pernikahan bagi masing-masing pasangan. Sebab ada orang menikah karena alasan usia, dan alasan lainnya,” pungkas psikolog yang tergabung dalam Biro Konsultasi Psikologi Persona,  Pontianak ini. **  

Berita Terkait